AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

1 Dzulhijjah, Pernikahan Agung Sayyidina Ali dan Sayyidah Faathimah, salaamullah alaihima (1)

image

1 Dzulhijjah, Pernikahan Agung Sayyidina Ali dan Sayyidah Faathimah, salaamullah 'alaihima dan salam selamat bahagia untuk Baginda Nabi Saw dan keluarga. Umat bersukacita!

Hari itu, tahun kedua setelah hijrah, Madinah tengah bahagia. Para pembesar mendatangi rumah Baginda. Telah sampai berita, Fathimah putri tercinta kini siap berumahtangga. Hanya saja, setiap orang yang datang pada Sang Nabi, kembali dengan wajah berseri, tapi tanya yang tersimpan di hati. Baginda menjawab santun sekali: amraha 'inda rabbiha. Perkara Fathimah ada di (tangan) Tuhannya. Perihal suami putri Sang Nabi rupanya ditentukan di langit tinggi.

Alkisah, Ali sibuk bekerja di sebuah kebun kurma. Ia sedang mengairi pohon-pohon kurma dengan untanya. Beberapa sahabat Anshar melihatnya dan berkata, "Hai Ali, semua sahabat meminang Fathimah, mengapa engkau tak turut serta?" Ali tak kuasa. Rasa hormat, cinta, malu, penjagaan diri, semua bergabung jadi satu. Ia tahu ia takkan mampu menghadap Baginda. Ia tahu ia takkan bisa mengutarakan maksudnya. Para sahabat itu berniat menjembatani, tapi kata Ali, "Biar aku saja. Di mana Rasulullah Saw kini berada?" "Di rumah Ummu Salamah," terdengar jawabnya.

Maka kaki perkasa itu melangkah tak berdaya. Menyisakan jejak yang bahagia disisakannya. Melangkahlah, meski berat ia mengarah. Ayunkan kaki itu, dua langkah lagi. Di sana Sang Nabi tengah menanti. Kaki yang tegar, yang telah membelah padang pasir yang membakar, kini tertegun bergetar. Melangkahlah, dua langkah lagi.

Di depan rumah Ummu Salamah, Ali kembali termangu. Tak sanggup ia mengangkat tangan mengetuk pintu. Tangan yang kelak menggenggam Dzulfiqar kini luluh seakan gentar.

Menurut Ummu Salamah, mengisahkan peristiwa hari itu, dari sisi yang berseberangan dengan Ali, dari dalam rumah bersama Nabi, "Aku tengah bersama Nabi ketika Nabi bersabda: "Bukakan pintu itu. Akan datang seseorang yang ridha pada Allah dan RasulNya. Dan Allah, RasulNya ridha kepadanya." Padahal, belum kudengar suara ketuk di pintu.

Ummu Salamah bergegas ke pintu, dan masih tak ia dengar ketukan itu. Barulah ketika mendekat, terdengar pelan sekali suara merambat. Ucapan salam dan mohon izin disampaikan begitu berat.

Pintu pun dibuka, dan di sana tampak Ali menengadah terpaksa, "Sampaikan salamku pada Rasulullah. Mohon kiranya, beliau berkenan menerima kehadiranku."
Ummu Salamah menjawab, "Masuklah Ali, Nabi telah menunggumu dari tadi…"

Tapi kaki itu terasa berat, langkah itu sungguh terlambat. Bayangkan getar hati Ali… melangkahlah, dua langkah lagi. Perjumpaan dengan Sang Nabi akan menghilangkan setiap gelisah. Tapi kali ini…

Akhirnya, sampai juga Ali di hadapan Baginda, yang tersenyum menyambut mesra. Tapi Ali tak kuasa mengangkat kepala. Mata tertunduk menatap bumi di bawahnya. Ayolah ksatria, apa yang menahanmu menatap mata? Bukankah rindu wajah Sang Nabi menggelora di dalam dada? Mengapa telungkup itu? Mengapa tertunduk itu?

Sang Nabi memegang pundak Ali, mendudukkannya lembut dan berkata, "Hai Ali, gerangan ada apa denganmu? Seolah ada burung bertengger di atas kepalamu?"

Nabi yang pengasih tahu apa yang dirasakan setiap orang, apalagi yang sangat mencintai dan mengasihinya. Makin tinggi derajat kemuliaan, makin ia bergabung dengan seluruh kemanusiaan, makin ia dapat merasakan kebahagiaan dan penderitaan sesamanya.
Nabi tahu maksud Ali, tapi apa yang ada dalam hati belumlah terikrar hingga diutarakan dengan pasti.

Masih dalam kepala yang tertunduk, Ali kemudian berkata…
"Ya Rasulallah, telah kau ketahui ikatan kekerabatanku dengan keluarga Risalah. Terang bagimu perjalananku, keteguhanku, kesabaranku dalam berjuang bersamamu untuk agama dan jihad di jalanNya…" Mendengar Ali tak melanjutkan katanya, Nabi menjawabnya, "Engkau lebih (tinggi) dari semua itu, hai Ali."
Kemudian Ali melanjutkan kata yang telah tersimpan lama di batinnya, "…lalu, apakah menurutmu Ya Rasulallah…aku layak untuk meminang Fathimah?" Dan lepaslah sudah tanya itu…masih dalam  kepala yang ke bumi terpaku, masih dalam duduk yang membenam membatu. Sejenak, tak ada suara…sunyi, bisu…

Nabi Saw tersenyum. Ia pasti bangga dengan keberanian Ali mengutarakan maksudnya.Ia pasti bahagia melihat kematangan pribadi dan kesempurnaan jiwanya. Di tengah semua keharuan, rasa malu, penghormatan, cinta dan pengabdian, Ali telah sampaikan apa yang bergetar di hatinya.

Di sini, Nabi Saw menjawab begitu bijaknya. Nabi juga mengajarkan kebebasan perempuan menentukan pilihannya. Nabi berkata, "Hai Ali, sebelummu telah datang banyak orang. Mereka juga sama datang meminang. Dan setiap kali aku tanyakan pada Fathimah tentang mereka, wajahnya seketika berbeda. Aku rasakan ia tidak suka. Sekarang, pintamu pun sama. Akan aku tanyakan kepadanya."

Maka Nabi pun shalallahu 'alaihi wa alihi mendatangi Fathimah. Mata sang putri bersinar memandang sang ayah: guru, teladan, keluarga terdekat setelah ibunda berpulang ke rahmatullah. Bagi Fathimah, Rasulullah adalah segalanya. Seluruh rasa hormat dan taat, bahagia dan cinta bersatu dalam personanya. Nabi menjadi wasilah kasih dan kedekatan Tuhannya. Setiap ucap Sang Nabi bukan saja petuah, ia adalah titah Tuhan baginya.

"Wahai Ali, biarkan aku tanya Fathimah dulu," kalimat Baginda Nabi itu menutup pembicaraan. Ali pamit pulang. Mungkin dalam hatinya bercampur beragam perasaan. Bahagia, hormat, gundah…ah, saya tak dapat membayangkannya. Guratan batin para teladan adalah sesuatu yang tak dapat direka. Meski mudah dibaca. Yaitu bahwa mereka akan selalu mendahulukan kebenaran. Mereka akan senantiasa menjunjung keadilan. Mereka akan bersabar dan meniti sebaik-baik jalan menuju Tuhan.

Dalam kehidupan orang-orang pilihan itu ada suri tauladan, teramat banyaknya, teramat indahnya. (bersambung)

@miftahrakhmat


Wed, 23 Aug 2017 @19:15

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved