Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

1 Dzulhijjah, Pernikahan Agung Sayyidina Ali dan Sayyidah Faathimah, salaamullah alaihima (2)

image

Malam itu, entah apa yang dilakukan Ali. Mungkin ia di rumah seperti biasanya, menjahit pakaian berlubangnya, atau mengunjungi rumah-rumah orang-orang miskin sepertinya, atau tersungkur haru dalam munajat pada Tuhannya. Malam yang panjang. Esok hari ia akan beroleh jawaban. Ia telah habiskan banyak malam sebelumnya, tapi tidak yang seperti ini. Ia terjaga mengikuti Nabi Saw beribadah di Gua Hira. Ia lalui malam-malam penuh perjuangan di Lembah Abu Thalib, saat keluarga Nabi dikucilkan. Ia keluar malam-malam itu, mencari minuman untuk anak-anak kecil, mencari makanan untuk bertahan, menempuh berbagai rintangan. Ia tidak tertidur kala terbaring di peraduan Nabi, bersiap menjadi tumbal pengganti, pada malam hijrah teramat suci…tapi malam ini, ia bukan malam biasanya. Ini malam kerinduan. Inilah saat perkhidmatan, bersatu dalam penghormatan. Malam ini bukan hanya Ali, seluruh penghuni langit menanti. Ini malam istimewa. Ini malam jawaban cinta.

Mungkin bagi Ali, seluruh malam yang telah dilaluinya membawanya pada titik ini, pada detik ini, pada saat ini. Kecintaannya pada Sang Rasul adalah kecintaan tak terperi. Ia dilahirkan, tumbuh, dan besar dalam naungan Nabi. Maka apalagi cara berbakti, apalagi cara membalas budi, selain menyerahkan diri sepenuhnya pada teladan kekasih hati. Bayangkan kecamuk hati itu ketika Ali menggumamkan kedua bibirnya, dan lidahnya mengantarkannya berkata, "Dengan perkenanmu ya Rasulallah…izinkan aku meminang Fathimah…"

"Biarkan aku tanya Fathimah dulu…" Maka malam itu, Nabi yang agung mengunjungi putri yang dikasihinya. Putri tersayang yang selalu mengingatkannya pada ibunya. Fathimah yatim di usia belia. Dalam banyak hal, ia menggantikan ibunya. Adalah tangan Fathimah yang mengibaskan sampah dan debu saat Nabi shalat di depan Ka'bah, dan orang-orang kafir itu mengganggunya. Adalah Fathimah yang membalutkan luka saat ayahnya dilempari para penentangnya. Adalah Fathimah…wasiat terakhir Khadijah untuk dirinya.

Di hadapan hujrah Fathimah itu, semua kenangan akan Khadijah tampak indah di hadapan, terbentang dalam pelupuk yang tergenang…"Ah, engkau pasti menantikan saat ini. Engkau pasti mengharapkan malam ini. Engkau pasti mendambakan waktu ini. Dan kau tak ada bersamaku…kau tak hadir di sisiku." Mungkin demikian Baginda berujar…dan ia tertegun di depan pintu itu. Ah, terlalu jauh saya membayangkan…
Nabi Saw pun memasuki hujrah itu.

Fathimah berdiri menyambutnya. Ia melepaskan jubah Nabi dan menggantungnya. Lalu ia membungkuk dan melepaskan kedua sandal ayahnya. Ia mengambil wadah air yang sudah disediakannya. Kemudian ia mencuci kaki itu…kaki yang telah melangkah ke bukit-bukit terjal, kaki yang membelah dingin sahara, kaki yang menopang tubuh teramat mulia. Fathimah mencuci kaki ayahanda tercintanya. Lalu ia berwudhu dengan keberkahan air itu. Kemudian ia duduk tenang di hadapan Paduka. Bayangkan rona bahagia dan linangan airmata di paras suci Baginda. Hening…hingga kemudian terdengar sabda…

"Ali putra Abu Thalib adalah ia yang keutamaan dan derajatnya dalam Islam telah jelas bagi kita. Dan aku memohon kepada Allah Ta'ala, agar engkau dinikahkan dengan sebaik-baik hamba pilihanNya. Kini, telah datang kepadaku Ali, memintamu menjadi istri. Bagaimana menurutmu, wahai putriku?"

Fathimah tenggelam dalam tenang teramat dalam. Tetapi binar mata dan seluruh paras sucinya menyampaikan pada Baginda semuanya: tak ada gurat kecewa, tak tersirat bahkan tanya. Ia membalas pandangan Nabi yang mulia dan tak sekejap pun memalingkan muka. Tak menundukkan pandang. Tak mengalihkan tatapan. Hening, selama waktu dan penantian para malaikat akan jawaban itu.

Baginda pun berseru, "Allahu Akbar. Tuhan Mahabesar. Tenangmu adalah ketetapanmu, putriku. Diammu adalah setuju..."

Keesokan harinya, Ali kembali datang menemui Sang Nabi. Tidurkah ia semalam? Atau perasaan berdebar menanti jawaban. Di sini beberapa kisah berbeda meriwayatkan. Ada yang menyebutkan Ali datang bersama beberapa kawan. Ada juga yang mengisahkan tanya Nabi Saw itu di hadapan para sahabat, dan Sayyidah Fathimah sa diam tak menjawab. Kemudian Nabi bersabda, _"Sukuutuha iqraaruha."_ Diamnya Faathimah, persetujuannya. Ada juga yang menceritakan bahwa Fathimah sempat bertanya pada Sang Ayah, ketika disampaikan padanya pinangan Ali putra Abu Thalib, "Bagaimana menurutmu ya Abah?" Kemudian Nabi Saw menjawab, "Ni'ma ba'lin laki 'Aliyyun." Sebaik-baiknya suami bagimu, adalah 'Ali. Lalu Sayyidah Faathimah mengiyakan.

Nabi sempat bertanya, dengan apa Ali hendak menikahi putrinya. Ali menyampaikan barang yang dimilikinya: sebilah pedang, baju besi, dan seekor unta yang membantunya bekerja sehingga Ali tak menggantungkan hidupnya pada orang lain. Dengan untanya, Ali mencari nafkahnya. Pedang Ali juga tak mungkin dilepaskannya. Islam tegak dengan pedang itu. Baru saja Badar berlalu, dan Ali satu di antara tiga ksatria yang tampil ke muka, bersama Hamzah pamannya dan 'Ubaidah bin al-Harits, sepupu Ali. Pedang itu masih akan diayunkannya. Ali menyerahkan keputusan pada Nabi. Nabi meminta Ali menjual baju besinya dan menikahi Fathimah dengan hasil dari penjualan zirah itu.

Zirah itu terjual sebesar 400 dirham. Oh, siapa yang berbahagia memperoleh zirah itu. Andai aku pembelinya wahai Imam. Andai aku dan seluruh keluarga dan sahabatku mengumpulkan harta kami, dan membeli kepingan dari zirah itu. Mas kawin kesucian, mas kawin keabadian. Mas kawin keselamatan. Mas kawin cinta.
Hasil dari penjualan Zirah digunakan sebagai berikut.

Pertama, Nabi Saw meminta Bilal untuk mencarikan dan membeli minyak wangi untuk putrinya Fathimah. Ya Rasulallah, permata hatimu adalah bidadari dalam rupa manusia. Ialah wewangian dari taman surga, yang bila kau merindunya, kau memeluknya erat dan berkata, "Bila aku merindukan surga, aku mencium Fathimah." Ya Rasulallah, wewangiannya adalah harum surgawi, dan untuk saat yang indah ini, engkau minta Bilal mencarikan untuknya minyak wangi. Fathimah yang indah bagaimana lagi diperindah? Fathimah yang suci bagaimana lagi disucikan? Untuk sebuah hari yang besar itu, Nabi Saw meminta putrinya bersiap. Nabi Saw memberikan yang terbaik untuk putri yang dikasihinya. Minyak wangi itu wahai Bilal…berikan kami sekelebat harumnya. Biarkan kami hirup wewangian itu, walau sesaat saja.

Kedua, kali ini Nabi Saw memanggil 'Ammar. 'Ammar putra Yasir yang menyaksikan kedua orangtuanya syahid di hadapannya. Nabi Saw meminta 'Ammar untuk membeli barang-barang keperluan rumah tangga. Persiapan bagi pasangan baru itu memasuki kehidupan baru. 'Ammar bergegas ke pasar. Hari itu hari besar. Baginda sedang berbahagia. Tapi geliat pasar seperti biasanya. Tak ada kemeriahan, tak ada hingar bingar. Sukacita batiniah menerangi penghuni langit. Mereka yang berpesta. Mereka yang larut dalam doa. Semarak pertautan agung ini, telah begitu lama mereka nanti.

'Ammar menelusuri lorong-lorong pasar Madinah dan kembali dengan membawa beberapa perangkat: sehelai kain seharga tujuh dirham, kerudung senilai satu dirham, tirai, dipan Arabi sederhana yang terbuat dari kayu, dua kasur: yang satu dari wol yang lainnya dari serat kurma. Empat bantal, juga dari wol dan serat kurma. Beberapa peralatan dapur, nampan, tempat menampung air dan sebagainya. Melihat 'Ammar datang dengan barang-barang itu, Nabi Saw bersabda, "Ya Allah, berkatilah mereka yang alat keperluannya terbuat dari tanah liat sederhana."

Kemudian sisa dari penjualan zirah itu menjadi mas kawin Ali dan Fathimah. Sejumlah 500 keping perak menjadi pengikat janji suci.

Nabi Saw berbahagia. Putri semata wayangnya hendak berkeluarga. Ia beroleh suami sebaik-baiknya mukmin yang paling dicintainya. Nabi Saw bersabda, "Ya Allah, inilah putriku, sebaik-baik makhluk yang aku cintai. Ya Allah inilah putra pamanku, sebaik-baik makhluk yang aku cintai." Ada beberapa versi periwayatan. Ada yang menyebutkan pernikahan agung ini terjadi pada bulan suci Ramadhan, ada juga pada bulan Syawal. Yang masyhur adalah mereka berdua mengikat janji suci pada awal bulan Dzulhijjah, tidak lama setelah kaum Muslimin beroleh kemenangan di Badar. Mungkin, pernikahan pertama pasca peperangan itu.

Banyak hal menarik seputar pernikahan Sayyidah Faathimah salaamullahi 'alaiha dengan pemuda Bani Hasyim bernama Ali ini. Ketika pertama kali disandingkan, keduanya tak saling menatap, tapi mata terpaku pada bumi, dipenuhi rasa malu dan hormat pada sesamanya. Atau ketika Nabi menitipkan Sayyidah Faathimah pada Ummu Salamah. Agar mendidiknya, membimbingnya, dan Ummu Salamah berkata, "Demi Allah, ia lebih tahu dariku. Ia sangat beradab terhadapku." Lalu Ummu Salamah mencium wewangian yang belum pernah ia cium sebelumnya. Ketika ia bertanya pada Rasulullah Saw, beliau menjawab, "Itu anbar…wewangian yang dibawa malaikat Jibril 'alaihis salam." Pernikahan kedua insan ini memang istimewa. Mereka dinikahkan Rasulullah Saw di bumi, dan mereka pun dinikahkan Allah Ta'ala di langit dengan para malaikat menjadi saksi. Inilah teladan kebersamaan yang suci. Cinta sejati yang akan mengantarkan pada Ilahi.

Mengapa terjadi perbedaan periwayatan? Satu di antaranya karena Ali tidak segera membawa Fathimah ke rumahnya. Ada sebulan lamanya, Fathimah masih di rumah Nabi Saw. Hingga satu hari, Aqil saudara Ali datang menemuinya. Ia berkata, "Wahai saudaraku, tiada yang lebih membahagiakanku selain engkau menikah dengan putri Rasulillah Saw. Tapi mengapa belum juga kau bawa istrimu ke rumahmu?" Ali menjawab singkat, "Sungguh, karena rasa maluku dan hormatku pada Nabi." Aqil berkata, "Aku tidak akan meninggalkan tempatku berdiri, hingga engkau berangkat bersamaku menemui Rasulullah Saw."

(bersambung)

@miftahrakhmat

Wed, 31 Jul 2019 @20:55

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved