Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

1 Dzulhijjah, Pernikahan Agung Sayyidina Ali dan Sayyidah Faathimah, salaamullah alaihima (3)

image

Pagi itu, mentari menjumpai Ali yang masih juga telungkup haru menuju rumah Nabi. Langkahnya tampak pendek, sedang Aqil bergegas di hadapannya. Kepala itu, masih juga memandang bumi. Bagaimana kata hendak disampaikan? Bagaimana maksud hati diutarakan? Baginda sudah tahu segalanya. Tak ada yang tersembunyi. Tak ada yang tertutupi. Mengapa malu wahai Ali, padahal Fathimah telah resmi kauperisteri?

Di pertengahan jalan, mereka berdua bertemu dengan Ummu Ayman, satu di antara kerabat yang berkhidmat pada keluarga Rasulullah Saw. Ummu Ayman melihat pemandangan yang janggal itu. Ada ketergesaan, tapi juga keengganan. Mereka pun bertegur sapa, berbincang, dan disampaikanlah maksud pembicaraan. Mendengar itu, Ummu Ayman berkata, “Ini perkara perempuan...pulanglah. Biarlah aku yang menyampaikannya.”

Siang itu, kabar pun sampai pada keluarga Rasulullah Saw. Senyum bahagia terpancar pada wajah suci Baginda. Persiapkan sebaik mungkin, sepertinya demikian semua terasa. Ummu Ayman dan Ummu Salamah menjadi ketua pelaksana. Sore hari, perempuan-perempuan Bani Hasyim dan keluarga Rasulullah Saw berkumpul. Mereka bersiap agar Fatimah bersiap.

Mentari pun bersembunyi, dan rembulan datang berganti. Malam itu, Sang Nabi mengetuk hujrah sang putri. Sebelum masuk, Rasulullah Saw bersabda, “Perempuan selain Fathimah agar meninggalkan ruangan ini...” Maka mereka bergegas keluar menyisakan Nabi seorang diri. Tetapi, begitu Nabi melangkah, sekelebat bayangan hitam berdiri di dekat pintu. “Siapakah engkau?” tanya Rasulullah Saw.
“Asma binti Umais,”
“Bukankah aku sudah memintamu keluar?”
“Benar ya Rasulallah...maafkan aku. Bukan maksudku untuk tidak melakukan itu. Tetapi ini aku menunaikan janji pada Khadijah...”

Begitu nama Sayyidah Khadijah disebut, Nabi Saw tertegun. Wajah suci beliau berganti rona. Ada haru, ada rindu. “Khadijah...?”
“Benar ya Rasulallah...”

Sekiranya sejarah bisa senantiasa dikenang, satu kata itu akan membawa Rasulullah Saw pada istri yang dikasihinya, pada pendamping pertama dan utamanya. Ketika Sayyidah Khadijah terbaring sakit, dan malakal maut telah dekat menjemput, ia berkata pada Rasulullah Saw, “Ya Rasulallah...kiranya engkau berkenan mendengarkan wasiatku. Sungguh, begitu banyak kekuranganku untuk memenuhi hakmu. Maafkan aku ya Rasulallah...” mendengar itu, Nabi bersabda, “Sungguh, aku tidak pernah melihat sedikitpun darimu kekurangan. Kesungguhanmu menyertaiku, perbendaharaan milikmu yang dipergunakan di jalan Tuhan, dan kesulitan dan penderitaanmu bersamaku.” Lalu Sayyidah Khadijah berwasiat yang kedua, “Aku titipkan kepadamu putri kita...” tangannya mengarah pada Fatimah yang masih belia, “...sepeninggalku, putri kecilku akan menjadi anak yatim. Jangan sampai seorang pun mengganggu dan menyakitinya. Adapun wasiatku yang ketiga, aku malu menyampaikannya kepadamu. Perkenankan aku menitipkannya pada Fatimah.” Maka Nabi Saw memberikan kesempatan pada istri terkasih dan putri tercinta untuk bersama-sama berbekal rindu.
“Putriku...” kata Sayyidah Khadijah, “Katakan pada ayahmu...Ibumu ini akan menghadapi kematian. Mohonkan pada ayahmu, agar jubah yang ia kenakan saat menerima wahyu, dengan perkenannya ia tutupkan menjadi kafan bagiku...”

Pada saat-saat terakhir itulah Asma binti Umais datang menjenguk Sayyidah Khadijah. Ini juga yang dikisahkannya kepada Nabi, mengapa ia masih berada di hujrah Fatimah. Ia melihat Khadijah menangis. Tetesan air mata mengalir dalam pembaringan ibunda kaum Mukminin. Asma pun bertanya,

“Mengapa engkau menangis wahai junjungan? Bukankah suamimu manusia terbaik kekasih Tuhan? Engkau termasuk di antara perempuan penghulu langit dan bumi yang dipilihkan. Engkau istri Sang Nabi yang dengan lisan sucinya telah menyampaikan kepadamu kabar tentang surga...mengapa tangis dan duka itu?”

“Aku tidak menangis karena itu. Sungguh aku menangis akan datangnya satu hari. Setiap perempuan pada malam pengantinnya, akan dibimbing oleh ibunya. Mempersiapkan baginya segala hal yang perlu diketahuinya. Fatimah kecilku, aku cemas tiada yang akan menemaninya...bila saat itu tiba.”

“Bila engkau izinkan, junjunganku, aku berjanji kepadamu. Inilah janjiku di hadapan Allah Ta’ala. Sekiranya Dia memanjangkan usiaku, aku yang akan melakukannya untukmu...”

Mendengar kisah Asma’, bulir-bulir airmata tergantung di pelupuk mata suci Baginda. Nabi menangis. “Demi Allah, karena itukah engkau berdiri di sini...?”
“Benar ya Rasulallah...”
Dan Nabi pun mendoakan bagi Asma kebaikan. Tangis Baginda teringat istri terkasih. Tangis Baginda akan cinta seorang ibu yang penuh kasih...bahkan di saat terakhir itu tiba.

Maka keesokan harinya, Fatimah diantarkan pada Ali. Kedua insan pilihan Tuhan dipertautkan dalam ikatan kebahagiaan, ketaatan, perkhidmatan. Sungguh, merekalah teladan keluarga, teladan pernikahan, teladan penghormatan antara suami dan istri, antara ayah dan putri, antara umat dan Sang Nabi. Bagi persatuan mereka, bahkan langit bersuka cita. Bagi cinta mereka, seluruh semesta berpesta.

Pada pagi harinya, Nabi datang menemui mereka berdua. Melepas rindu dan bertanya kabar mereka. Cinta Nabi amat besar pada keduanya. Selama tiga hari setelahnya Nabi tak henti menyapa. Kepada Ali ia bertanya bagaimana putrinya, kepada Fathimah Nabi pun menyampaikan yang sama. Keduanya menjawab, “Sungguh, ia suami teramat baik.” “Sungguh, ia istri teramat taat...” sehingga Nabi Saw bersabda, “Sekiranya tidak ada Ali, padanan untuk Fathimah tak dapat dicari.” (tamat)***

(Sumber: buku Perjalanan Pulang (tanpa) Kembali karya Miftah F. Rakhmat)

Wed, 31 Jul 2019 @20:56

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved