AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Wajah Muhammad Saw dan Islam Nusantara: Imam Husain, Asyura, dan Keindonesiaan

image

Puncak tragedi asyura (10 Muharram) dengan terbunuhnya al Husain cucu Nabi Muhammad Saw. Di akhir kisah, anggota pasukan Ibn Ziyad, mendatangi al Husain yang sudah tersungkur dengan tombak yang menancap di dada al Husain, darah membasahi jenggotnya, penutup kepala al Husain yang pertama dipasangkan Nabi al Mustafa Muhammad Saw juga telah dilepaskan dari kepalanya. Kisah ini diceritakan dalam Maqtal yang masyhur seperti dalam kisah yang tulis oleh Sayyid Ibnu Thawus.

Ibnu Ruba'i datang ingin menebas lagi tubuh al Husain, tapi saat mendekat, dia lari karena dia melihat wajah Muhammad Saw, datanglah Sinan bin Anas  dengan keangkuhan yang sama, Sinan pun tidak jadi menebas tubuh yang sudah tidak berdaya itu, Sinan berkata" Sungguh wajahnya adalah wajah Muhammad" Akhirnya Syimir dzil-jausan datang menyayat bagian tubuh al Husain, hingga kepala al Husain terlepas dari tubuhnya.

Kita bisa memberi makna spiritual, wajah siapakah yang ditebas Syimir, bukankah itu wajah Muhammad Saw sebagaimana yang dilihat oleh Ruba'i dan Sinan. Kita dengar ungkapan Syimir: " Bedebah! Terkutuklah kau (al Husain) dan kakekmu (Rasulullah Saw) .. Aku akan sembelih Kau perlahan-lahan sebagai balasan atas ucapan kakekmu yang menyamakan AKu dengan anjing dan babi"

Jelas kisah ini berakhir pada puncak bahwa narasi al Husain adalah juga adalah narasi Muhammad Saw. Tragedi Karbala  ini bukan masalah personalitas al Husain, Jelas wajah Muhammad yang mereka saksikan, jelas perkataan Muhammad Saw yang keluar dari mulut mereka,jelas ini adalah balasan terhadap Muhammad Saw. Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul Muhammad Saw saat mendatangi al Husain di dalam mimpi al Husain saat berada di pusara makam Rasul Saw.  Sambil memeluk dengan erat al Husain, Nabi berkata bahwa al Husain akan dikepung oleh sekelompok orang dari UMATKU.

Dengan demikian bahwa masalah asyura adalah masalah sejarah sosial dalam Islam, bahwa ada struktur dendam dalam sejarah, yang tidak menginginkan model kepemimpinan sosial yang telah dibangun oleh Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya. Ini masalah antara keadilan dan kezaliman, ini bukan masalah mazhab, golongan dan kelompok politik, Asyura adalah puncak dari dendam sejarah pra kenabian yang belum tuntas dalam masa hidup Nabi Saw, sehingga setelah kenabian dan khulafaurrasyidin, muncullah semua yang terpendam itu di asyura yang akhirnya menimpa cucu Nabi Muhammad Saw.

Ini adalah gambaran yang jelas bahwa dakwah Muhammad  Saw sepeninggalnya terus akan mendapatkan tantangan. Asyura adalah puncak dari sejarah kenabian tetapi asyura adalah awal sejarah sosial Islam yang panjang. Oleh karena itu menurut saya patut kita meletakkan persoalan Asyura ini sebagai masalah sosial dalam Islam. Asyura adalah awal dari upaya merumuskan pola relasi sosial Islam yang baru pasca kenabian dan saqifah. Kita mungkin perlu keluar dari jebakan teologis yang membingkai asyura (agama versus kekuasaan). Tetapi melihat asyura sebagai masalah sosial Islam (agama  versus relasi sosial).

Konteks Keindonesiaan kita, Islam telah menjadi bagian dari sejarah sosial di Indonesia, Islam Nusantara menurut saya adalah penjelasan yang baik dari relasi agama dengan kehidupan sosial masyarakat Islam di nusantara termasuk Indonesia (agama versus relasi sosial). Kita ingin melanjutkan dakwah kenabian dalam bingkai sosial yang lebih mampu mendekatkan beragam struktur pemikiran agama dari pola pendekatan kekuasaan (kepemimpinan Islam khalifah dan Imamah). Jika tidak, menurut saya keindonesiaan kita akan senantiasa tersandera oleh konflik masa lalu dalam Islam dan apalagi dijadikan media proxywar yang bahkan ditarik dalam kepentingan politik praktis (pilpres-pilkada).

Asyura dan Imam Husain menurut saya memberi pelajaran bagaimana kita keluar dari konflik dan dendam sejarah, Asyura tidak menjadi upaya merawat dendam, justru asyura disyiarkan sebagai jalan menunjukkan bahwa Imam Husain bukan datang untuk bicara kekuasaan, Imam Husain datang ke Karbala untuk menyatakan bahwa Islam mesti dibangun dengan kasih sayang,cinta, tanpa kekerasan serta dialog. Seyogyanya Islam dalam gerakan Imam Husain adalah gerakan dakwah yang bertujuan untuk mencerahkan masyarakat, memberikan mereka spirit yang dalam bahwa hidup bersama keadilan lebih baik, fokusnya membangun cita keadilan sosial dalam Islam bukan model Islam kekuasaan. Apalagi Asyura telah menjadi bagian dari kebudayaan kita.

Jayalah Asyura, jayalah Islam Nusantara, Jayalah KeIndonesiaan kita dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika
Islam adalah agama cinta.

Wallahu'alam bi al shawab
Salam atas Nabi al Mustafa Muhammad Saw
Semoga beliau memberkahi Islam Nusantara Kita

(A.M.Safwan adalah Pengasuh Ponpes Mahasiswa Madrasah Muthahhari Rausyan Fikr, Yogyakarta)

Tue, 3 Oct 2017 @21:02

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved