Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Siapa Berwenang Menafsirkan al-Quran?

image

Dalam sebuah kultum seorang penceramah menyampaikan (bilmakna), “Di antara kehebatan Al-Quran adalah ia bisa dipahami oleh semua orang, oleh semua kalangan.”

Kalimat ini (dengan variasi redaksi) mungkin pernah disampaikan di berbagai tempat lain, oleh berbagai penceramah. Malah, jangan-jangan kalimat ini sudah populer dan masuk dalam alam bawah sadar sebagian besar orang...

Saya mencoba memahami bahwa maksud penceramah ini adalah sedang menjelaskan keagungan Al-Quran.. Karenanya saya tetap mengapresiasi. Hanya saja, kontennya tidak benar. Sebab, jika Al-Quran bisa dipahami oleh semua orang dan semua kalangan, dengan kadar intelektualitas ilmu yang berbeda, dan kualitas hati yang bervariasi, maka bisa dibayangkan seperti apa produk pemahaman mereka, dan pemahaman siapa yang akan dijadikan pegangan...

Apalagi Al-Quran terdiri dari ayat-ayat yang muhkamat dan mutasyabihat. Ada qath`iyyud dalaalah, ada yang zhanniyyud dalaalah. Dan di antara yang muhkamat itu pun, bagi kalangan tertentu, statusnya bisa jadi mutasyabihat pula, sehingga tidak sembarang orang bisa memahaminya.

Para ulama yang mumpuni saja bisa menghasilkan pemahaman yang berbeda bahkan bertolak belakang. Apalagi jika ditambah dengan orang-orang awam yang tak berilmu dan orang-orang yang masih dikendalikan nafsu..

Nanti, orang-orang tertentu bisa ngawur dalam menafsirkan, kemudian bertindak berdasarkan kengawurannya, apalagi jika sampai pemahamannya kemudian mempengaruhi orang untuk berbuat hal yang sama... Jika kalimat di atas dibenarkan, nanti mereka akan berkata, “Inilah pemahaman saya, dan saya berhak memahami Al-Quran yang saya baca...”

Makna Al-Quran tentunya sangat luas. Karenanya dibutuhkan sejumlah ilmu yang luas juga. Jika semisal ilmu kedokteran atau tehnik sipil yang merupakan bagian kecil dari kehidupan ini saja hanya bisa dikuasai oleh orang-orang tertentu, maka, apalagi Al-Quran...

Kalau yang dimaksud adalah bahwa Al-Quran bisa dinikmati oleh semua orang dan semua kalangan, nah ini baru bisa dimengerti. Artinya, siapa pun bisa menikmati Al-Quran.

Bagi yang senang qiraat, Al-Quran akan terasa nikmat saat dilantunkan dengan suara dan lagam yang indah. Bagi yang senang bahasa Arab, Al-Quran bisa memberinya kekayaan dalam pengetahuan bahasa Arab. Bagi yang sedang bersedih, membaca Al-Quran akan menghiburnya.

Bagi yang sedang sakit, ayat-ayat Al-Quran bisa menjadi syifa (kesembuhan) dan rahmat. Bagi yang sedang bahagia, membaca Al-Quran bisa membawanya kepada kesyukuran. Bagi ilmuwan, Al-Quran bisa menginspirasi sejumlah temuan keilmuan, di berbagai bidang. Dan lain sebagainya...

Akan tetapi, kalau untuk memahami Al-Quran, tidak sembarang orang bisa melakukannya. Apalagi jika memahaminya hanya berdasarkan terjemahan. Apalagi jika memahaminya dengan nafsu-nafsu duniawi. Apalagi jika memahaminya dengan ketidaktahuan dan ketidakmengertian....

Lalu siapa yang berwenang memahami dan menafsirkan Al-Quran? Al-Quran sendiri yang menjawabnya, “Laa yamassuhu illa al-muthahharuun...” Ia tidak “disentuh” kecuali oleh orang-orang yang disucikan (muthahharuun) (QS al-Waqiah, 56:79).

Saya menulis “disentuh” dengan tanda kutip, karena biasanya ayat di atas dipahami dengan “(Mushaf) Al-Quran tidak boleh disentuh/dipegang kecuali oleh orang yang bersuci, dalam hal ini suci dari hadats besar dan kecil. Sehingga, bukan saja harus mandi wajib (bagi yang janabat), tetapi juga harus dalam keadaan berwudu.

Saat ayat di atas diturunkan kepada Nabi Saw, Al-Quran masih belum berbentuk mushaf, melainkan masih berada dalam dada Rasulullah. Karenanya, jika dipahami dengan “memegang atau menyentuh mushaf”, bagiamana mungkin, sementara saat itu Al-Quran belum berbentuk mushaf...

Akan tetapi, sebagai ta`zhim kepada Al-Quran Al-Karim, kondisi berwudu sebelum menyentuh mushaf Al-Quran adalah akhlak yang mulia, untuk menghormati dan memuliakan Kitabullah...

Hanya saja, “disentuh” dalam ayat di atas bukan secara lahir, melainkan secara batin. Yang artinya: memahami, mengerti, menjangkau, mencapai, dan makna lainnya yang semakna...

Lalu siapakah “muthahharuun”. Secara bahasa, ia berarti “orang-orang yang disucikan”, bukan “orang-orang yang bersuci.” Kata disucikan berarti ada pihak yang mensucikan, dan ada pihak yang disucikan. Ada subjek, ada objek. Subjeknya tentu saja Allah sebagai Pemilik Kalam. Sedangkan objeknya adalah orang-orang atau pihak-pihak yang telah Dia sucikan.

Kalau begitu, siapakah mereka? Apakah mereka para ulama? Jika ya, ulama yang mana, dan ahli dalam ilmu apa? Apakah mereka itu adalah ulama fiqih, ulama bahasa, ulama kedokteran, ulama tafsir, ulama filsafat, atau lainnya? Dan, apakah para ulama semuanya itu adalah orang-orang yang telah Allah sucikan?

Kita mengetahui bahwa di antara yang Nabi Saw ingatkan kepada umat beriman adalah adanya ulama-ulama su`, yang menjadikan perut dan nafsu sebagai kejaran mereka? Sepanjang sejarah dan di berbagai generasi, sosok mereka ada. Dalam kisah Firaun, kita mengenal sosok Bal`am. Lalu, bagaimana kita bisa membedakan ulama su` dari ulama yang sebenarnya, ketika penampilan lahiriah mereka mengenakan simbol-simbol keulamaan yang membuat silau...

Jadi, musykil jika kita memahami “orang-orang yang disucikan” itu dengan para ulama. Artinya, para ulama bukanlah “orang-orang yang disuckan” yang dimaksud dalam ayat QS al-Waqiah di atas. Apalagi dalam sosiologi sebagian besar masyarakat manusia, tidak ada definisi yang jelas tentang siapa dan karakteristik ulama. Sekalipun Al-Quran dan Hadits menyebutkan banyak kriteria ulama, namun secara sosial belum menjadi sistem yang operasional untuk menyeleksi ulama dari bukan ulama...

Lalu siapa dong “orang-orang yang disucikan” oleh Allah, yang bisa dan berhak “menyentuh” Al-Quran itu?

Dalam teori tafsir, ada sebuah metode memahami ayat, yakni “tafsir al-Quran bi al-Quran”, atau “tafsir al-ayat bi al-ayat”, menafsirkan ayat dengan ayat. Sebagian ayat menjelaskan sebagian ayat yang lain. Sehingga, untuk mengetahuinya, carilah ayat dengan keyword “thahhara-yuthahhiru-tathhir”. Buka Mu`jam al-Quran, lalu temukan ayat-ayatnya, di surat apa, ayat berapa saja. Kita akan menemukan penjelasannya...

Kesimpulannya, Al-Quran yang suci ini tidak mungkin bisa dipahami oleh sembarang orang, tidak oleh banyak orang, apalagi oleh semua orang. Wallahu a`lam bi al-shawaab.

Sabtu, 15 Oktober 2016
AM (Ashof Murtadha)

 

Wed, 9 Oct 2019 @10:57

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved