Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Tafsir Ayat-ayat Hukum dalam Al-Quran [by Ustadz Miftah F. Rakhmat]

image

Pada situs Hoda Al-Quran disebutkan dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat akhlak, ada ayat-ayat kisah, ayat-ayat akidah, dan ada ayat-ayat hukum.  Bagian ayat-ayat hukum ini akan dibahas.

Kalau dibuka ayat-ayat hukum dalam Al-Quran, kita akan menemukan semua yang dibahas dalam hukum Islam itu mulai dari yang dikenal sebagai Rukun Islam atau pun yang tidak masuk ke dalamnya. Misalnya ada yang mengatakan bahwa sepertiga ayat Al-Quran berkenaan dengan hukum.

Kalau kita menghafal ayat Al-Quran, bagi saya paling sulit itu menghafal ayat-ayat tentang hukum. Paling mudah menghafal ayat yang isinya cerita dan kisah karena bisa membantu kita menghafal dan merunut kisahnya. Namun, kalau sudah berkaitan dengan hukum agak sulit menghafalnya.

Di sisi lain, kita mengenal muhkam (yang tersurat) dan mutasyabih (yang tersirat) dalam Al-Quran. Dalam Al-Quran sendiri disebutkan bahwa Al-Quran mengandung hal yang muhkam dan hal yang mutasyabih. Pertanyaannya adalah siapa yang menentukan bahwa suatu ayat termasuk muhkam atau mutasyabih?

Dalam ilmu tafsir Al-Quran akan selalu mengembalikan tafsir kepada penafsir mutlak Al-Quran, yaitu yang memiliki otoritas terhadap Al-Quran.

Dalam surah Al-Qadar disebutkan, “sesungguhnya Kami yang menurunkan kepadamu Al-Kitab.” Dalam ayat 1 tersebut menggunakan kata inzaal yang artinya “turun sekali” dan pada ayat 4 menggunakan kata tanazul yang artinya “turun berulang-ulang”.

Pendapat umum mengatakan inzal pada surah Al-Qadar itu berarti bahwa Al-Quran turun dari langit ke langit bumi. Terlepas dari bagaimana pandangan kita terhadap dimensi ruang dan waktu. Dari langit bumi diturunkan kepada Rasulullah saw secara bertahap tergantung dari konteks peristiwa.

Pada kalimat inna anzalna menggunakan wazan if’al, dalam bahasa Arab artinya turun sekali. Lalu pada ayat lain, ada kata wanunazilu, masdarnya tanziil yang artinya turun berulang-ulang. Ada yang turun bersama syifaa misalnya.

Dalam ilmu tafsir, kata syifaa itu bisa berarti beragam. Kita percaya bahwa Al-Quran itu menyembuhkan. Tetapi yang dimaksud syifaa di antaranya adalah bacaan Al-Quran yang dikeraskan. Seperti misalnya jika Ibu dan Bapak membaca Al-Quran. Bacaan Al-Quran yang dikeraskan itu syifaa, sebagai penyembuh bagi kita dan yang mendengarnya. Termasuk bahwa percaya atau tidak, orang yang rajin membaca Al-Quran dan rajin mendengarkan Al-Quran, kulitnya relatif lebih halus.

Manfaat Al-Quran adalah buat kita semua. Kalau saya percaya bahwa inzaal ini merujuk kepada Rasulullah saw yang menerima Al-Quran sekaligus pada malam Qadar. Sehingga Rasulullah saw telah mengetahui seluruh Al-Quran sejak awal. Berarti Rasulullah saw sudah melaksanakan shalat, puasa, dan ibadah lainnya. Namun, bagi sebagian kaum Muslim meyakini Al-Quran turun secara bertahap sesuai konteks peristiwa.

Di antara yang menguatkan adalah riwayat tentang seorang sahabat yang tidak ikut Perang Tabuk pada tahun ke-9 Hijrah kemudian diberikan sangsi, diekskomunikasikan, sebagai protes umat karena tidak mengikuti perintah Rasulullah saw. Ketika Rasulullah saw meminta umatnya untuk ikut ke Perang Tabuk, ada banyak yang menolak dan mengeluh karena menganggap Islam sudah menang dan mapan. Sedangkan Perang Tabuk menempuh waktu yang lama dalam pejalanan sehingga bagi para sahabat membuat tidak mudah menerima ajakan Rasulullah saw.

Kita bisa baca riwayat keberatan para sahabat itu dalam surah At-Taubah. Sehingga kata para sahabat, tidak ada yang lebih menegangkan dalam turunnya surah-surah Al-Quran kecuali ketika turunnya surah At-Taubah. Ketika Rasulullah saw sampai kepada bagian akhir surah At-Taubah, para sahabat itu merasakan sense of relief yang luar biasa.

Surah At-Taubah mengabadikan kecaman atas keluhan-keluhan para sahabat yang tidak mau ikut berperang atas perintah Baginda Nabi Muhammad saw. Mereka bergetar setiap kali dibacakan surah yang turun atas mereka.

Dikisahkan ada seorang sahabat datang kepada Baginda Nabi Muhammad saw untuk meminta maaf dan Rasulullah saw memaafkan atas segala hal yang terjadi pada dirinya. Namun, kita tidak menemukan Rasulullah saw memaafkan pada konteks yang bukan berkaitan dengan dirinya, misalnya melanggar peraturan yang menyangkut masyarakat maka Beliau akan menegakkan hukum seadil-adilnya. Termasuk pada peristiwa penolakan sahabat atas Perang Tabuk itu.

Ketika sahabat itu menghadap kepada Rasulullah saw, Rasulullah tidak menjawabnya. Kemudian sahabat itu lari ke padang pasir, barulah kemudian muncul surah At-Taubah. Rasulullah saw sudah mengetahui perihal akan turunnya surah At-Taubah, tetapi Beliau menunggu hingga malaikat Jibril datang kepadanya untuk menyampaikan surah At-Taubah itu. Dan dibacakanlah seluruh surah At-Taubah di hadapan para sahabat yang menolak ikut berperang. ***

(Naskah ditranskrip oleh Ade S. dari rekaman Kajian Tafsir A-Quran bersama Ustadz Miftah F.Rakhmat di LPII Muthahhari Bandung)


Thu, 24 Sep 2020 @09:40

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved