Dosa akan Berpengaruh dalam Kehidupan (1) [Dr KH Jalaluddin Rakhmat]

image

Alkisah seorang pedagang dari Tabriz datang ke Konya, kota yang kemudian menjadi tempat wafatnya Jalaluddin Rumi walaupun ia berasal dari Afganistan. Tapi ia kemudian pindah ke Konya dan meninggal di situ. Ia menjadi ulama yang sangat dihormati.

Ceritanya ada seorang pedagang yang merasa heran karena dagangannya bangkrut, padahal seluruh kewajiban sudah dipenuhinya. Ia sudah membayar zakat, infak, dan seluruh kewajiban-kewajiban yang dibrikan Allah kepadanya sebagai orang kaya sudah ia penuhi. Maka tidak ada jalan keluar ini dari kebangkrutan dagangannya kecuali bertanya. Ia datang ke Konya dan ia mencari-cari ulama yang kira-kira punya makrifat dan bisa memberikan nasihat untuk mengobati gangguan ekonominya.

Mula-mula ia dibawa kepada seorang ulama yang sangat dekat dengan raja. Ia mempersiapkan hadiah yang besar untuk ulama itu. Dahulu ada kebiasaan kalau orang mau bertemu ulama mereka kirimkan hadiah sesuai dengan perintah Allah dalam Al-Quran kepada sahabat kalau mereka mau berjumpa dengan Rasulullah Saw. Mereka harus bersedekah lebih dahulu. Jadi, ulama dahulu biasanya menerima tamunya dan sekaligus hadiahnya.

Ulama sekarang kalau saya menyebut diri saya ulama, kalau ada tamu saya harus mempersiapkan hadiah buat mereka. Hampir setiap tamu yang datang kepada saya ujung-ujungnya memohon hadiah. Saya tidak bermaksud menggerutu, tapi tampaknya ada perbedaan sikap ulama dari dulu sampai sekarang. Ulama dahulu memang didatangi untuk memecahkan persoalan-persoalan kehidupan sesuai dengan tuntunan agama.

Jadi, ia dibawa ke rumah ulama. Rumah ulama itu sangat besar dan ia melewati lorong-lorong yang sempit sampai ketemu ulamanya di ujung lorong. Kata pedagang dari Tabriz itu, apa kamu tidak salah bawa? Aku minta dibawa kepada ulama kamu bawa ini kepada pejabat.” Dahulu rumah ulama yang dekat dengan pejabat atau penguasa rata-rata rumahnya besar.

Pedagang dari Tabriz itu tidak percaya. Saya mau balik lagi. Tolong carikan yang benar-benar ulama,” ujarnya.

Kalau begitu,” kata sang pengantar, “besok kita temui Jalaluddin Rumi.  

Sekadar diketahui bahwa Jalaluddin Rumi merupakan seorang ulama yang zuhud. Esoknya pedagang dari Tabriz itu datang membawa 200 keping emas sebagai hadiah.

 Ketika tiba di rumah yang dituju, Jalaluddin Rumi sedang baca kitab menghadap ke tembok. Pedagang itu datang melewati pintu kemudian mengucapkan salam. Jalaluddin Rumi menjawab salam sambil tidak berbalik dari tembok karena sedang membaca bukunya. Rumi langsung berkata: “Uang yang 200 keping itu kau berikan kepada fakir miskin di tempat-tempat sekitar ini. Aku tahu kau datang ke sini karena yang hilang berkali-kali dari 200 keping yang kau mau sedekahkan itu.

Dia tercengang bahwa ternyata Rumi telah mengetahuinya. Kemudian Rumi berbalik dan berkata kepadanya, “Usaha kamu terhambat karena dahulu engkau pernah datang ke negeri Farangi (Perancis) dan kau melewati seorang darwis yang beragama Nasrani dalam keadaan penuh debu berbaring di pinggir jalan. Kau melewatinya dan meludahinya. Kalau kamu tidak percaya, kamu lihat ke tembok itu.

Jalaluddin Rumi mengusapkan tangannya ke tembok dan betul ia melihat waktu itu ia melangkah di sebuah pasar menemukan seorang fakir yang tidur dalam keadaan penuh debu dan bau sehingga dia kepaksa meludahnya.

“Engkau sudah meludahi salah seorang di antara waliyullah. Kamu hanya bisa menyelesaikan persoalan kamu kalau kamu balik lagi ke situ dan turunlah dari kendaraanmu kau peluk dia. Kau minta maaf kepadanya dan bersihkan tubuh dia yang penuh debu dengan linangan air matamu,” kata Rumi.

Singkat cerita, pedagang itu datang menemui darwis. Anehnya, ketika tiba darwis itu berkata, “Sampaikan salamku kepada Jalal.”  Kemudian darwis itu berdiri dan menari seperti tarian tarekat Maulawi.

Dari kisah tersebut menunjukkan beberapa hal. Pertama, mungkin yang menyenangkan kita ialah bahwa di antara para waliyullah ada hubungan telekomunikasi melalui alam malakut. Untuk saudara ketahui waktu itu belum ada SMS dan belum ada telepon.

Kedua, bahwa dosa yang kita lakukan di dunia ini akan berpengaruh kepada kehidupan kita di dunia. Kalau kita menyakiti hati orang lain dan kalau berbuat zalim kepada orang lain maka kezaliman yang kita lakukan itu akan menimpa kepada kita. (bersambung)

[Naskah ditranskrip oleh Ade Saepulloh dari Kajian Islam bersama Dr.KH.Jalaluddin Rakhmat]

Mon, 18 Jun 2018 @08:41

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved