Dosa akan Berpengaruh dalam Kehidupan (2) [KH Jalaluddin Rakhmat]

image

Dahulu ada orang yang rada sotoy berdebat. Orang itu berkata bahwa tidak mungkin ada adzab kubur. Tidak benar itu doa Allahumma inni ‘audzubika min ‘adzabil qabri. Tidak ada adzab kubur itu karena adzab dan pahala ada nanti pada hari akhirat. Jadi, di dunia dan alam kubur belum masuk akhirat maka tidak ada ‘adzabul qabri. Itu pernyataan seorang kawan yang kalau bertemu saya selalu berkata: audzubika min adzabil korpri. Waktu itu saya menjadi pegawai negeri dan beliau menolak untuk menjadi pegawai negeri sampai akhir hayatnya.

Pertama, saya percaya bahwa adzab Allah itu sudah ada sejak di dunia ini juga sampai hari akhirat nanti. Apa dalilnya bahwa di dunia juga sudah ada adzab Allah? Apalagi di alam kubur nanti. Di dunia juga sudah ada adzab. Allah Swt berfirman: dhaharal fasaadu fil barri wal bahri bimaa kasabat aidinnaas. Telah terjadi kerusakan di daratan dan lautan karena dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia.

Yang kedua dalam surah Asyuuraa [42] ayat 40: wajaazau sayyiatin sayyiatun mitsluha fain ‘afaa wa ashlaha fa ajruhuu ‘alallahi innahuu laa yuhibbudzaalimiin; dan balasan keburukan itu keburukan juga. Kalau kamu berbuat buruk dibalas dengan keburukan juga yang seperti itu. Namun, barangsiapa yang memaafkan dan mensalehkan, memperbaikinya mengishlahkan, maka pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim.

Ayat tersebut berkaitan dengan masalah qishas. Qishas itu hukum abadi sejak perjanjian lama; hukum Taurat ditegaskan kalau kita melukai orang pada matanya itu harus dibalas dengan mata lagi. Tapi kalau dimaafkan dan kemudian kalau kita perbaiki maka ia akan memperoleh pahalanya di sisi Allah. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang dzalim. Memang boleh membalas dengan balasan yang setimpal. Itu hukum Tuhan yang dikenakan juga kepada kita. Tapi hukum alam semesta juga sama bahwa alam semesta juga diatur. Jadi, kalau kita berbuat buruk dia akan menuai keburukan itu.

Pepatah orang Sunda: lamun urang melak cabe, cabe deui hasilna; lamun urang melak bonteng, bonteng deui hasilna. Lamun urang melak hade, hade deui hasilna; lamun urang melak goreng, goreng deui hasilna. Maksudnya, apa yang kita tanam itulah yang kita petik. Kalau kita memetik cabe, cabe juga yang kita peroleh. Kalu kita memetik mentimun, mentimun juga kita peroleh. Kalau kita menanam keburukan juga akan kita peroleh keburukan. Kalau kita berbuat baik, kita akan mendapat kebaikan pula.

Padanan pepatah orang Sunda itu sesuai dengan ayat dalam surah Ar-Rahman yang berbunyi: hal jazaaul ihsaan illal ihsaan, apalagi balasan kebaikan kecuali kebaikan lagi.

Kemudian ayat yang kedua yang menjadi dalil bahwa kalau kita berbuat buruk di dunia ini kita akan dibalas juga dengan keburukan: laisa bia amaniyyikum walaa amaniyyi ahlil kitaabi man ya’mal suuan yujza bihii walaa yazid lahu minduunillaahi waliyyan walaa nasiira. Ayat ini sebelumnya bercerita tentang kebanggaan orang-orang Yahudi bahwa hanya orang Yahudi saja yang masuk surga. Orang-orang Nasrani juga bangga bahwa hanya orang Nasrani saja yang masuk surga dan orang-orang di antara kamu, maksudnya di antara orang-orang Islam yang tidak punya ilmu juga berkata bahwa hanya kamilah yang masuk surga.

Dalam al-Quran masuk surga atau tidak itu laisa bi amaniyyikum, bukan angan-angan kamu, walaa amaaniyyi ahlil kitaab, dan juga bukan angan-angan ahli kitab.

Saya kutip Tafsir Mafaatihul Ghaib dari Al-Fakhrurrazi ketika menjelaskan ayat itu. Dari Aisyah ra bahwa seorang lelaki membacakan ayat ini, apakah kita akan dibalas semua yang kita lakukan? Kalau begitu laqad halaknaa, sekiranya kita dibalas atas dosa-dosa yang kita lakukan kita semua pasti sudah binasa. Maka sampailah pembicaraan itu pada Nabi Muhammad Saw dan beliau berkata: Yujzal mu’minu fiddunya bimusiibatihii fii jasadihii wamaa yu-dziihi. Jadi, kalau orang mukmin berbuat dosa di dunia ini, juga dia dibalas. Dia diberi balasan dengan musibah di dalam tubuhnya dan apa-apa yang menyakitkan dia.

Dari Abu Hurairah, ketika turun ayat ini kami menangis dan kami merasa sedih sekali lalu kami berkata ya Rasulallah kalau mendengar ayat ini tidak ada yang bakal selamat di antara kita seorangpun juga sedikit pun. Maksudnya, mereka takut kalau seluruh keburukan itu dibalas pada hari kiamat mereka celaka semua. Maka Nabi Muhammad saw menghiburnya dengan berkata: berbahagialah kamu karena tidak menimpa musibah yang menimpa kepada kamu di dunia ini kecualai Allah jadikan itu sebagai kifarat terhadap dosa-dosanya sampai duri yang menusuk telapak kakinya.

Dalam kitab Ghurur al-Hikam no. 406, dari Amiiril Mukminiin Ali bin Abi Thalib salamullahi alaihi, ia berkata: aqbaahul ma’ashii qatiiatirrahimi wal ‘uquuqu. Maksiat yang paling buruk ialah maksiat memutuskan silaturahmi dan durhaka kepada orang tua. Dalam riwayat lain disebutkan, ada dua dosa yang Allah segerakan siksanya di dunia ini, yaitu memutuskan silaturahmi dan durhaka kepada kedua orang tua. Itu Allah dahulukan di dunia ini.

Dan dari Imam Ali kita diajarkan doa yang menunjukkan akibat-akibat dosa di dunia ini. Doa ini adalah permulaan doa Kumayl, yaitu Allahummaghfir liadzunuuballati tughayyirunni’am, ya Allah ampuni dosa-dosaku yang mengubah kenikmatan. Asalnya diberi nikmat Allah ambil kembali nikmat itu. Allahummaghfir liayadzunuuballatii tunzilul balaa, ya Allah ampuni dosa-dosaku yang menyebabkan turunnya bala (bencana). Apa saja dosa yang menyebabkan turunnya bencana? Apa saja dosa-dosa yang menyebabkan mempercepat kematian kita? Apa saja sosa-dosa yang menyebabkan Allah menurunkan bala kepada kita?

Suatu saat Imam Ali membaca doa: Audzubillahi minadzunuubillati tu’ajjilul fanaa, ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari dosa-dosa yang mempercepat kematian.

Berdirilah Abdullah bin Al-Kawwad Asysyukri sambil berkata: Wahai Amiril Mukminiin, apa ada dosa yang mempercepat kematian?

Yang ditanya menjawab: Benar. Celakalah kamu yang memutuskan persaudaraan, memecah belah persatuan, menimbulkan permusuhan di antara orang-orang yang bersahabat, itu akan mempercepat kematian.

Ada satu keluarga. Mereka berkumpul dan saling membantu. Saling memberi. Saling menyapa. Saling menghargai, padahal mereka itu orang-orang fasik. Walau pun fasik,  tetapi dia senang menjalin silaturahmi di antara keluarganya. Lalu, Allah anugerahkan rizki kepada mereka.

Ada juga sebuah keluarga mereka cerai berai dan saling memutuskan persaudaraan di antara mereka. Lalu, Allah haramkan anugerah Allah kepadanya. Rizki itu di dalam bahasa al-Quran itu bukan hanya duit, termasuk juga tanah kalau kita diberi tanah. Dalam agama Islam, rizki itu termasuk ilmu. Sehingga kita berdoa: Tuhan tambahkan kepadaku pengetahuan dan anugerahkan kepadaku pemahaman.   

Ini satu hadis lagi kita kutip dari kitab Biharul Anwar bahwa ada orang yang menyambungkan silaturahminya, padahal sisa umurnya tinggal tiga tahun lagi. Kemudian Allah ubah usianya menjadi tiga puluh tahun lagi. Ada orang yang memutuskan silaturahmi, yang dalam catatan ajalnya dia ada sisa umur tiga puluh tahun lagi, kemudian Allah mengurangi usianya menjadi tiga tahun.

Mungkin ada orang bertanya, bukankah ajal itu sudah ditentukan? Masih dalam hadis, Rasulullah saw bersabda: Allah itu menghapus ketentuan-Nya dan menetapkan ketentuan-Nya seperti yang dia kehendaki. Jadi, yang disebut menghapus, itu berarti sudah ditetapkan sebelumnya karena kita tidak pernah mengahapus yang tidak pernah dituliskan. Yang ini sudah dituliskan usianya tinggal tigapuluh tahun lagi dalam lauhil mahfudh. Namun karena dia memutuskan silaturahmi, maka Allah kurangi menjadi tinggal tiga tahun lagi.

Karen itu, sekarang saatnya untuk rajin menyambungkan silaturahim. Bukan hanya berkunjung, tetapi juga saling memberikan bantuan dan saling memberikan hadiah. Nabi Muhammad saw bersabda: kamu tidak akan masuk surga sampai kamu saling mencintai. Saling memberi hadiahlah kamu, supaya kamu saling mencintai. (bersambung)

[Naskah ditranskrip oleh Ade Saepulloh dari Kajian Islam bersama Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc]

 

Mon, 18 Jun 2018 @08:42

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved