Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

ETIKA DAN BAHAGIA: Apa Hubungannya?

image
Kenapa banyak buku Etika punya kata Bahagia dalam judulnya, seperti Meraih Kebahagiaan (Tahshil al-Sa'adah) oleh al-Farabi, dan Kebahagiaan dan Cara Menggapainya (al-Sa'adah wal-Is'ad) karangan al-'Amiri atau Jenjang-jenjang Kebahagiaan (Maratib al-Sa'adah) oleh Miskawayh? Bukankah Etika itu berkaitan dengan soal baik dan buruk? Lalu apa hubungan baik dan buruk dalam etika dengan soal bahagia?

Izinkan saya mengatakan ini: etika adalah cabang ilmu praktis, yang sasarannya adalah tindakan manusia, yang kemudian membentuk karakter dan disebut akhlak.

Akhlak bisa baik yang bisa disebut fadha'il (jamak dari fadhilah: keutamaan) dan bisa buruk yang biasa disebut oleh ahli etika radza'il (jamak dari radzilah: keburukan).

Akhlak itu bagai makanan bagi jiwa. Akhlak yang baik (fadha'il) adalah makanan halal dan baik (thayyib) bagi jiwa kita yang akan memelihara kesehatan jiwa kita, dan bisa menyembuhkan penyakit atau memulihkan kesehatan kita kalau hilang. Radza'il adalah ibarat makanan yang sekalipun terlihat enak tapi buruk dan berbahaya. Kalau dikerjakan secara berterusan akan merusak kesehatan jiwa kita, sebagaimana makanan yg buruk akan merusak dan menyebabkan tubuh kita sakit.

Karena itu kalau kita membiasakan diri dengan akhlak yang baik, seperti sabar, bersyukur, tawdhdhu' dan sebagainya, maka jiwa kita akan sehat. Dan kalau jiwa kita sehat, maka seperti tubuh yang sehat, jiwa akan merasa bahagia sehingga bisa menikmati sebesar atau sedikit apapun rizki yang Allah berikan, seperti layaknya tubuh yang sehat kita bisa menikmati segala makanan yang kita miliki dan bisa bekerja dengan nyaman dan efektif.

Tetapi kalau kita mempunyai akhlak yang buruk, misalnya tamak, iri, dengki, sombong, pemarah dsb. maka jiwa kita akan menderita, gelisah dan dan sengsara. Ambil contoh: sebagaimana sariawan atau sakit gigi bisa menghalangi kita menikmati makanan, betapapun enaknya, maka demikian juga rasa iri, cemburu, hasad dan dengki, akan menghalangi kita untuk bisa menikmati rezeki yang Allah berikan kepada kita. Karena tak peduli berapapun harta yang kita miliki kalau ada rasa dengki dan iri dalam jiwa kita, kita akan terhalang untuk bisa menikmati karunia dan nikmat yang Allah berikan yang akan menyebabkan kita tidak pernah merasa bahagia.

Semoga dengan ini menjadi jelas pada kita bagaimana hubungan antara akhlak baik dengan kebahagiaan dan hubungan akhlak buruk dengan penderitaan.

Sekian semoga bermanfaat!

(Prof Mulyadhi Kartanegara)

 

Thu, 4 Jul 2019 @11:44

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved