Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Prof Mulyadhi Kartanegara: Soal Membela Agama

image

Soal apakah agama perlu dibela atau tidak, kelihatannya masih diperdebatkan. Ada yang bilang perlu, ada yang bilang tidak perlu. Menurut saya apabila agama kita dipandang keji atau Tuhan kita dipandang tidak benar atau hanya khayalan manusia saja, saya kira kita perlu membelanya.

Turun ke jalan berdemo dengan menamakan diri pembela agama mungkin salah satu cara untuk melakukannya, tapi pasti bukan satu-satunya.

Masih banyak cara yang lain. Misalnya, saya yakin bahwa orang-orang yang duduk tekun di rumah atau di kantornya, sibuk meneliti pernyataan-pernyataan orang-orang tertentu yang jelas-jelas menistakan agama--dengan, misalnya, mengatakan bahwa agama itu adalah neurotik dan Tuhan itu ilusi (khayalan).

Bahkan dikatakan bukan Tuhan yang menciptakan kita, tapi kitalah yang nenciptakan Tuhan (Sigmund Freud), atau bahwa Tuhan itu adalah delusi (diyakini ada tapi sevenarnya tidak ada), seperti ditulis Richard Dowkins, dan lainnya. Kemudian karena hatinya tersinggung dan merasa sedih, mereka dengan segenap kemampuan dan ketulusan mencoba menjawab secara ilmiah melalui karya-karya mereka tantangan-tantangan dahsyat kaum sekuler di atas, adalah "para pembela agama" juga sekalipun mereka melakukannya di kamar yang tenang dan sepi jauh dari hiruk pikuk dunia, dan tanpa menamakan diri mereka "pembela agama."

Dengan ini saya ingin mengajak kita semua untuk saling instrospeksi diri, jangan sampai upaya tulus membela agama malah sia-sia karena misalnya sedikit ria, atau karena ucapan, prasangka dan tindakan kita pada orang kain yang negatif. Jangan juga kita menganggap bahwa jalan yang kita tempuh adalah satu-satunya cara untuk membela agama Allah, sedangkan cara yang lain tidak benar atau tidak sah.

Lakukan cara yang kita anggap benar, tanpa beranggapan bahwa cara orang lain salah. Kenapa? Karena banyak cara untuk melakukannya.

Bukankah Rumi mengatakan bahwa jalan menuju Ka'bah itu banyak dan karena itu kita tidak bisa mengklaim bahwa jalan kita sajalah yang benar, sedangkan yang lain sakah. Wallahu a'lam semoga bermanfaat!

(dari Facebook: Mulyadhi Kartanegara; Jumat, 18 Nop 2016)

 

Sat, 19 Nov 2016 @06:56

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved