Rubrik
Terbaru
Telegram Misykat
image

.

YouTube Misykat TV
image

.

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Minat beli buku klik covernya
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)
image

 

Mengapa Al-Hallaj Dihukum Mati?

Kisah pengadilan al-Hallaj, menurut saya, mengandung banyak hikmah. Terhadap pertanyaan berapa lama proses pengadilan al-Hallaj? Jawabnya adalah 11 tahun (911-922 M.). Tetapi menurut Louis Massignon, 8 tahun karena al-Hallaj mulai dipenjarakan di Sus pada tahun 913 dan keputusan dibuat dan dijalankan pada tahun 922 dengan tuduhan menistakan agama melalui ucapannya: Ana al-Haqq (Aku adalah sang Kebenaran (Tuhan). Mengapa prosesnya begitu lama?

Tampaknya kasus seperti ini (baca: penistaan agama) tidaklah mudah untuk diputuskan dengan segera dan tergesa-gesa. Dikatakan para ulama telah lama mendiskusikannya. Ada tiga ahli hukum, dua di antaranya menyatakan bahwa al-Hallaj bersalah telah menistakan agama dengan ucapannya itu. Namun yang satunya, seorang hakim mazhab Syafi’i yang bernama Ibn Surayj, menolak untuk memberi putusan karena al-Hallaj yang ia tahu telah menjalankan ibadahnya seperti biasa. Sedangkan tentang ungkapan syatahat Al-Hallaj, ia tidak memahaminya sehingga ia tidak memberikan putusannya (Carl W. Ernst, The Word of Actasy).

Bagi saya ini memperlihatkan kehati-hatian seorang ulama dalam memutuskan suatu perkara, mengingat tanggung-jawabnya nanti di hadapan Tuhan amatlah besarnya kalau ia salah dan tidak karena Allah melakukannya. Ia menyakini bahwa al-Hallaj orang yang tulus (a man of pure intention)--dalam arti tidak bermaksud menistakan Tuhan--dan ia berkeberatan untuk mempertanyakan keadaan iman seseorang.

Menurut beliau, hanya Tuhan yang boleh dan tahu kebenaran yang sesungguhnya. Sebagai konsekwensinya dan komitmennya pada keadilan Ibn Surayj melepaskan jabatannya sebagai hakim (Kenneth Cragg, Troubled by Truth). Atas penangguhan Ibn Surayj, maka keputusan tentang penistaan Al-Hallaj ditunda untuk waktu yang cukup lama, yakni 8 tahun lebih (Lois Massignon, The Passion of al-Hallaj).

Dikatakan bahwa al-Hallaj akhirnya diputuskan bersalah pada tahun 922 oleh seorang hakim zahiri (literer) sehingga akhirnya al-Hallaj dihukum mati dengan sangat mengenaskan.

Menurut pengakuan para saksi bahwa Al-Hallaj pertama mukanya ditampar kemudian dipecut hingga pingsan. Lalu tangan dan kakinya dimulitasi dan digantung. Tubuhnya disiram dengan minyak dan dibakar. Kemudian debunya dilempar ke sungai Tigris.

Yang menarik adalah pernyataan Syamsuddin Aflaki (Tarjumat-i Tsawaqi-i Manaqib), yang mengatakan bahwa alasan yang sebenarnya dari hukuman mati Al-Hallaj adalah adanya persaingan kekuasaan dan rebutan pengaruh di antara para ulama fiqh dan para sufi.

Ada versi lain yang mengatakan bahwa ia dihukum mati bukan atas ucapannya (Ana al-Haqq), tapi karena dianggap sebagai pemberontak Qaramitah dan dituduh mau menghancurkan Ka’bah, dengan ucapannya bahwa "thawaf yang lebih afdhal adalah thawaf mengelilingi Ka'bah dirinya.”

Kalau kembali pada pernyataan Al-Hallaj: Aku adalah Tuhan. Bagi kaum faqih yang literer, mungkin itu adalah sebuah penistaan dan kesombongan. Namun, bagi seorang sufi macam Jalaluddin Rumi, itu justru merupakan ungkapan ketawaddhu'an yang paling tinggi. Sebab ugkapan itu sebenarnya mengajarkan kepada kita bahwa dibanding dengan wujud Tuhan, wujud manusia itu tidak ada artinya. Dan dalam pandangan al-Hallaj yang sudah begitu luruh dalam kesatuannya dengan Allah, ia tidak lagi merasakan keberadaannya, yang ada hanyalah Allah, satu-satunya Wujud yang sejati.

Al-Hallaj sudah tidak ada lagi. Itulah sebabnya Rumi mengatakan, "Bukan Abu Manshur yang mengatakan ditiang gantungan Aku adalah Tuhan, tapi Allah-lah!" Wallahu a’lam.

Semoga kita bisa memetik hikmahnya dai kisah di atas dan Allah memberikan hidayah kepada kita semua. ***

Sumber Facebook: Mulyadhi Kartanegara (18 Nop 2016)

Mon, 2 Mar 2020 @11:03

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved