Rubrik
Terbaru
Telegram Misykat
image

.

YouTube Misykat TV
image

.

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Minat beli buku klik covernya
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)
image

 

Cara Menilai Seseorang

image

Dalam kitab Kasyf al-Mahjub, al-Hujwiri menceritakan tentang bagaimana Nabi Ibrahim as. tidak akan makan kecuali ada yang menemani. Pada satu hari beliau tidak menemukan seorangpun untuk dijadikan teman makan. Beliau menunggu berjam-jam sebelum akhirnya muncul seorang yang lewat di depannya. Maka dipanggillah orang tersebut untuk makan bersama.

Setelah hidangan tersedia, beliau bertanya tentang pekerjaan orang tersebut. Orang itu menjawab bahwa pekerjaannya adalah membuat patung untuk dijadikan sebuah berhala. Mendengar hal tersebut keruan saja Nabi Ibrahim marah dan mengusir orang tersebut karena dia pandang pekerjaannya akan mendorong orang ke arah melakukan syirik. Tapi, dikatakan al-Hujwiri, bahwa malam itu Nabi Ibrahim ditegur oleh Allah, dengan bertanya: mengapa engkau tidak rela memberikan sepotong roti pada dia yang telah Aku "layani" (diberi fasiltas hidup) selama 40 tahun?

Ceritera lain datang dari Mawlana Rumi. Dikatakan bahwa pada suatu hari Nabi Musa as. melihat seorang baduwi yang sedang memangku anaknya,  Beliau mendengar dengan jelas orang tsb berkata: "Ya Allah kapan Engkau datang ke pangkuanku seperti anak ini, agar dapat  kusisir rambut-Mu." Tentu saja Nabi Musa marah kepada orang itu dan menghardiknya dengan keras. Bagaimana bisa engkau mengatakan itu kepada Tuhan? Emangnya Tuhan seperti anak kecil? Dan orang itupun pergi dengan bersedih hati. Tapi diceritakan bahwa malamnya Nabi Musa mendapat tegoran dari Allah: "Mengaoa kau hardik dia, padahal Aku sendiri tidak keberatan dengan yang dikatakannya, karena niatnya dan cintanya untuk-Ku amat tulus."

Apa hikmah yang bisa kita petik dari ceritera dua sufi terkenal di atas? Menurut saya  pentingnya adalah (1) agar kita tidak menilai seseorang serta merta dan semata-mata dari ucapan lahiriahnya tanpa memperhatikan dengan seksama apa niat yang sesungguhnya; dan (2) agar kita tıdak bersikap kasar atau berprasangka buruk terhadap seseorang sekalipun berbeda keyakinannya.

Rasulullah saw sendiri, seperti diceriterakan selanjutnya okeh al-Hujwiri, sangat menghormati seorang pemimpin (kepala suku) non-Muslim yang datang padanya. Beliau pernah menghamparkan jubahnya sendiri untuk diduduki seorang kepala suku yang non-Musliım, seraya menyeru sahabatnya untuk selalu menghormati pemimpin suatu kaum apa pun akidahnya.

Dengan cara tersebut Rasulullah saw banyak berhasil memikat banyak hati para kepala suku Arab untuk memeluk Islam. Semoga bermanfaat!!

(facebook: Mulyadhi Kartanegara, 17 Nop 2016)

Wed, 5 Feb 2020 @07:41

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved