AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Klasifikasi Ilmu dalam Tradisi Ilmiah Islam

image

Ada fenomena yang menarik pada saat ini, di mana orang dengan mudah menyematkan gelar ulama hanya dengan mengetahui satu dua cabang ilmu Islam saja. Padahal cabang ilmu Islam ini banyak sekali. Ini menunjukkan kebenaran firman Allah bahwa tidaklah kita diberika ilmu kecuali sedikit saja. Kalau kita hayati cabang-cabang ini dengan seksama, apa tidak malu kita dipanggil ulama, dengan ilmu yang tidak seberapa ini, apalagi kalau mengaku dirinya sendiri sebagai ulama. Di bawah ini adalah uraian tentang klasifikasi ilmu dalam tradisi ilmiah Islam.

Dalam tradısı ılmıah Islam ilmu dibagi ke dalam dua kelompok. Ilmu naqliyah yang sering kita sebut ilmu agama dan ilmu aqliyah atau ilmu umum, ilmu rasional. Ilmu naqliyyah dibagi ke dalam ke dapam 6 cabang: ilmu-ilmu al-Qur'an, ilmu-ilmu hadits, fiqh dan usul fiqh, ilmu kalam, tasawuf dan tabir mimpi (Ibn Khaldun).

Mari kita perinci lagi: ilmu-ilmu al-Qur'an dibagi kepada : qira'ah (termasuk tujuh bacaan (qira'ah sab'ah), tajwid, asbabul. nuzul, kritik historis (makkiyyah dan madaniyyah), kemukjizatan al-Qur'an (i'jaz al-qur'an), tafsır, takwıl dan lainnya. Ilmu-ılmu hadıts dıbagı lagı menjadı rıwayat dan dırayah- rıwayat dıbagı lagı kepada ılmu sanad, bıografı (ılm al-rıjal), krıtık hadıts (jarh wa ta'dıl), musthalah hadıts, mukhtalaf hadits dan lainnya.

Adapun ilmu akliyah dibagi lagi ke dalam ilmu teoritis (nazariyyah) dan praktis ('amaliyah). Ilmu teoritis dibagi lagi ke dalam empat bagian: logika (mantiq), fisika (thabi'iyyah), matematik (riyadhiyyah) dan metafisik (ilahiyyah). Sedangkan ilmu praktis dibagi lagi ke dalm 3 bagian: etika (akhlaq), ekonomi (iqtishad) dan politik (siyasah).

Fikih

Fikih berbicara tentang ibadah dan mu'amalah. Ibadah berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah (menjelaskan bagaimana solat, zakat, puasa dan haji), sedangkan mu'amalat tentang hubungan manusia dengan manusia: fikih keluarga (pernikahan, perceraian, waris dan lainnya), fikih tijarah ( perniagaan, berbankan, finansial dan lainnya), fiqih jibayah (kriminal) dan fikih siyasi (politik).

Fikih juga memiliki prinsipnya yang disebut ushul fiqh, sebuah cabang ilmu agama yang digunakan untuk menarik hukum (istinbat) dari ayat al-Qur'an atau hadits. Untuk memahaminya kita harus memahami metode bayani yang telah dirumuskan oleh Imama syafi'i dalam bukunya al-Risalah. Di sini kita dituntut untuk bisa membedakan antara ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat: dan diantara ayat-ayat yang muhkamat kita harus bisa membedakan mana yang mubayan dan mujmal, yang khass dan yang aamm, lainnya. Sebelum kita mencoba memahami maksud kandungan al-Qur'an dan mengistibat sebuah hukum.

Kalam

Kalau ilmu fiqih berhubungan dengan rukun Islam, maka ilmu kalam (tauhid) berhubungan dengan rukum iman, yaitu iman kepada Allah, malakat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir dan takdir. Dalam Islam kita kita memiliki banyak aliran atau firqah seperti syi'ah, khawarj, murji'ah, qadariyyah, jabariyyah, multazilah,'asy'ariyyah dan maturidiyyah. Ribuan kitab telah ditulis oleh ahli kalam, termasuh al-Ghazali.

Tasawuf

Kalau fiqh terkait dengan rukun Islam dan kalam (tauhıd) terkait dengan Rukun ıman, maka tasawuf berkaitan dengan ihsan; yang dijelaskan oleh Nabi sebagai: "Engkau menyembah Tuhan seolah-olah engkau melihat-Nya, kalau engkau tidak melihat-Nya maka yakinlah Allah melihat kamu." Ajaran pokok tasawuf dibagi ke dalam tiga: hakikat, makrifat dan tarekat. Tasawuf melahirkan banyak tarekat antara lain Qadiriyyah, Naqsabandiyah, Mawlawiyyah, Rifa'iyyah, Sanusiyyah, Chistiyyah, Ayaziliyyah lainnya.

Terakhir dari ilmu naqliyyah atau agama adalah tabir mimpi. Sekalipun ia tidak berkembang, tapi setidaknya kita memiliki kitab besar di bidang ini oleh Ibnu Sirin, Ensiklopedia mimpi.

Jadi, ternyata ilmu-ilmu agama saja begitu luas. Ini belum termasuk ilmu akliyah (umum) yang dikembangkan oleh para ulama Islam, seperti logika, fisika, matematika dan metafisik yang bisa dibagi lagi ke dalam cabang-cabangnya yang banyak. Logika atau mantiq misalnya dibagi ke dalam isagogi, demonstrasi, dialektik, retotrık, dan puısı. Fısıka dıbagı lagı ke dalam astrofısıka, meteorologı, fısıka dasar, kımıa, mınerologı, botanı, zoologı, anatomı, kedokteran dan psıkologı.

Dalam matematıka saja dıbagı lagı ke dalam arıtmetıka (ilmu hisab), geometri (al-handasah), astronomi, musik, dan geografi. Metafisika dibagi ke dalam ontologi (filsafat wujud), teologi (Filsafat Tuhan), kosmologı (filsafat alam), antropologi (filsafat manusia), dan eskatologi (tentang akhirat). Di samping itu pembagian ilmu praktis meliputi etika, ekonomi, dan politik.

Dari sini mudah-mudahan jelas bagi kita betapa luasnya ilmu-ilmu yang telah dikembangkan oleh ulama-ulama Islam, bila bandingkan dengan ilmu yang kita miliki. Katakahlah kita ahli fiqih, tapi mungkin hanya ahli di bidang fiqih syafai'i saja, lalu bagaimn dengan mazhab yang lainnya? Lalu bagaimana dengan ilmu-ilmu agama yang lainnya? Apapagi kalau kita tanya bagaimana ilmu-ilmu akliah (umum)nya?

Jelaslah kita tidak diberi ilmu kecuali sedikit saja. Maka pertanyaannya: patutkah kita menganggap diri orang yang paling tahu tentang agama kerika misalnya menguasa hanya satu cabang dari limu-ılmu yang telah dikembangkan ulama kita terdahulu? Kalau tidak, maka janganlah kita menyombongkan diri dengan ilmu yang kita miliki. Sebaliknya kita amalkan ilmu yang kita miliki dengan tawadu dan mengharap keridhoan Allah Swt. Semoga bermanfaat!

(Facebook: Mulyadhi Kartanegara, Selasa 22 Nop 2016)


Tue, 22 Nov 2016 @18:12

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved