MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Dalam Beragama Perlu Akal (1)

image

Mempelajari filsafat tidak hanya mengetahui teori-teori filsafat, tetapi juga mempraktikkan cara berfikir filsafat. Filsafat berguna dalam diskusi. Misalnya kalau kita diskusi antar mazhab biasanya tidak nyambung. Katakanlah diskusi antara orang Persis (Persatuan Islam) dengan orang NU (Nahdlatul Ulama). NU bersandar pada dalil-dalil yang dipegang NU dan Persis bersandar dengan dalil-dalil yang mendukung Persis. Kalau bersandar dengan masing-masing dalil tidak akan nyambung karena memegang keyakinannya sendiri-sendiri.

Sebetulnya ada yang bisa mempersatukan, yaitu menggunakan akal. Gunakanlah akal untuk menguji masing-masing dalil. Penggunaan akal dengan sistematis itulah yang disebut berfilsafat. Agar kita berfikir secara jernih. Itu namanya berfilsafat. Kalau kita berdiskusi antar agama dengan menggunakan masing-masing pegangannya maka tidak akan menyambung. Kalau orang Kristen menggunakan kitab sucinya saat berdiskusi dengan orang Islam maka tidak akan nyambung.

Begitu juga kalau orang Islam menggunakan al-Quran saat berdiskusi dengan orang Kristen maka tidak akan nyambung. Satu-satunya yang bisa menjadi wasit adalah akal. Menggunakan akal dengan jernih adalah berfilsafat. Mazhab Ahlulbait ditegakkan di atas Al-Quran, As-Sunah, dan Al-Aql. Kitab yang pertama dalam rangkaian Ushul Al-Kafi adalah kitab al-aqli. Addinu huwal aqlu la dina liman la aqlalahu. Agama itu menggunakan akal, tidak bisa beragama orang yang tidak menggunakan akalnya.

Pengajian saya yang menggunakan pendekatan akal ini dikiritik oleh seseorang yang dianggap tokoh agama di Bandung. Beliau mengatakan bahwa pendekatan yang dipergunakan oleh Jalaluddin Rakhmat itu logika iblis karena agama tidak bisa didekati dengan logika. Dari pernyataan itu bisa dipahami bahwa kalau agama tidak bisa didekati dengan logika maka agama itu tidak rasional.

Dalam istilah fiqih, orang yang tidak menggunakan akal adalah orang gila dan seluruh syariat agama tidak berlaku bagi orang yang tidak berakal. Dalam fiqih disebutkan syarat-syarat sah bagi yang memulai pertama ibadah shalat adalah aqil baligh. Aqil berarti berakal. Dari fiqih saja jelas bahwa agama tidak berlaku bagi orang yang tidak berakal. Kalau beragama tidak menggunakan akal maka kita akan terkena korban doktrin-doktrin sesat dan akan muncul guru-guru palsu yang menyesatkan. Biasanya guru-guru palsu yang mengajarkan aliran-aliran sesat memerintahkan murid-muridnya agar tidak menggunakan akal sehat.

Kalau pengajian saya ini, misalnya tidak menggunakan akal pasti murid-murid saya sudah banyak karena orang-orang di Indonesia sedikit yang menggunakan akal sehatnya. (bersambung)

Dr KH Jalaluddin Rakhmat, Ketua Dewan Syura IJABI

(Naskah ditranskrip oleh Ahsa Al-Banduni dari ceramah di Pengajian Ahad Masjid Al-Munawwarah)

Mon, 28 Nov 2016 @13:52

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved