Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Menyeru ke Jalan Allah [by Mulyadhi Kartanegara]

image

Serulah (orang-orang) ke jalan Tuhan-Mu dengan hikmah, teladan yang baik dan argumen yang lebih baik (Qs An-Nahl: 125). 

Ini adalah tata cara yang diajarkan al-Quran tentang bagaimana menyeru orang (berdakwah) ke jalan Allah yang santun dan efektif. Ada tiga jalan atau cara, yaitu

Pertama dengan hikmah. Hikmah arti umumnya adalah kebijaksanaan, tetapi dalam tradisi ilmiah Islam, hikmah juga berarti filsafat, seperti terliht dalam buku Hikmat al-Isyraq Suhrawardi, atau al-Hikmah al-Muta'aliyyah Mulla Shadra.  Filsafat yang arti harfiahnya, cinta kebenaran dan kebijaksanaan mempunyai arti berfikir yang mendalam melalui rumusan atau teori yang logis dan rasional, dan diperkuat oleh data-data yang akurat dan jauh dari cara-cara agitatif dan emosional.

Seseorang tidak akan dikatakan ahli hikmah (hakim/hukama), kalau hanya melandaskan pada pemikirannya saja. Ia baru dikatakan bijaksana apabila telah mempraktekkannya dalam tingkah laku sehari-hari. Di sini kualitas intelektual dan moral bersatu.

Dalam perjalanannya, Islam telah menghasilkan para filosof yang dikenal dan diakui bukan saja di dunia Islam tapi juga di dunia pada umumnya. Untuk mengetahui lebih lanjut apa itu hikmah yang sesungguhnya maka saya menganjurkan untuk mengkaji dengan komprehensif karya-kara para filosof Muslim yang jumlahnya ribuan. Terus terang saja uraian para filosof mengenai pokok-pokok ajaran Islam, sangat menarik perhatian saya, sangat runtut, masuk akal dan memberdayakan segala potensi diri kita.

Kedua dengan teladan atau contoh yang baik. Contoh yang baik, khususnya tingkah laku (moralitas) yang baik dari umat Islam ternyata sangat erektif dalam menarik orang kepada Islam. Sebaliknya akhlak yang buruk justru akan menjauhkan mereka dari Islam. Misalnya akhlak Nabi kita terbukti sebagau daya tarik dan cara yang luar biasa bagi orang-orang untuk masuk/memeluk Islam. Sedangkan tindakan brutal yang tak berprikemanusiaan dan berperadaban dari kelompok radikal seperti ISIS dan lainnya, telah mencoreng nama dan citra baik Islam dengan sangat parah sehingga banyak orang merasa jijik dan muak bahkan phobia pada Islam.

Islam sejati, menurut yang saya pahami, mengajarkan kelembutan akhlak, seni dan peradaban yang tinggi, bukan kekerasan yang mengumbar emosi yang tak terkontrol, bahkan dengan mengatas namakan agama. Sehingga agama yang baik pun menjadi korbannya.

Kemajuan Islam pada masa Keemasan yang luar biasa di berbagai bidang, seperti bidang ilmu pengetahuan, baik di bidang agama, maunpun umum (sains, filsafat dan spiritualitas); di bidang seni (kaligrafi, musik dan arsitektur), di bidang ilmu kesehatan (kedokteran dan rumah sakit) dan di bidang pendidkan (akademi, perpustakaan dan universitas) adalah komponen-komponen dakwah yang sangat penting dalam menarik orang pada agama Islam.

Nama-nama besar ulamanya seperti Imam Syafi'i, Hanafi, Mailiki dan Hanbali, di bidang fikih; ibn Hajar al-Asqalani, Ibn Hibban, al-Safadi, di bidang hadis; al-Thabari, Fakhruddin al-Razi dan Zamakhsyari dll, di bidang Tafsir; Rabi'ah ak-Adawiyyah, Abu Yazid al-Busthami, Ibn 'Arabi dan Rumi di bidang tasawuf; Ibn Haytham, al-Biruni, Ibn Syathir di bidang fisika dan astronomi; Ibn Sina, Abu Bakar al-Razi, Ibn Nafis di bidang kedokteran; al-Kindi, al-Farabi, ibn Rusyd dan Mulla Shadra di bidang filsafat.

Mereka semua merupakan daya tarik yang maha dahsyat bagi para sarjana besar non-muslim untuk menghormati dan menghargai Islam serta dalam banyak kasus untuk memeluk Islam. Dan menurut saya inilah cara lainnya yang sangat efektif untuk menyeru (mengundang) orang pada jalan Tuhan: melalui contoh/teladan yang baik.

Sayangnya contoh gemilang di masa kejayaan Islam tersebut kian meredup, dan dengan itu meredup jugalah pancaran dan daya tarik Islam di mata dunia. Hari ini seiring dengan makin menyempitnya pandangan keislaman kita dan semakin dangkalnya pemahaman kita pada ajaran Islam.

Semua daya tarik di atas telah secara sistematik direduksi sebagai bud'ah dhalalah: Seni, filsafat, tasawuf, bahkan kadang-kadang tafsir, dianggap bid'ah dan karena itu terlarang. Al-Qur'an harus hanya dipahami secara harfiah--tak boleh ada hemeneutka, takwil (falsafi atau sufistik) bahkan tafsir. Dan alih-alih memberi contoh yang baik tentang kedamaian, toleransi, saling tolong-menolong sesama nanusia, sebagai wujud Islam rahmatan lil-'alamin, kita disuguhkan dengan apa yang digambarkan oleh al-Qur'an sebagai 'من يفسد فيها ويسفك الدماء' yakni orang-orang yang (gemar) melakukan penghancuran (kota-kota, situs-situs peradaban, tempat-tempat ibadah (termasuk gereja dan bahkan mesjid-mesjid) dan penumpahan darah (perang saudara yang ga habis-habisnya). 

Setelah memcermati itu semua, saya amat berharap bahwa bangsa Indonesia yang terkenal ramah tidak terjangkiti oleh ideologi atau pandangan yang sempit dan tingkah laku yang kasar dan mengerikan seperti yang terjadi di jantung dunia Islam--timur tengah saat ini. Kalau tidak, maka bagaimana kita bisa menyeru orang-orang dan mencoba meyakinkan mereka bahwa kita adalah خير امة اخرجت للناس umat terbaik yang pernah dihasilkan manusia, atau bahwa Islam يعلو ولا يعلى عليه atau bahwa Ia adalah رحمة للعالمين.

Ketiga dengan argumen yang lebih baik. Silang pendapat di kalangan intelektual sudah sering terjadi di dunia Islam, tetapi yang menarik adalah bagaimana para ulamanya dalam mengatasi perpedaan pendapat tersebut. Mereka tidak menggunakan cara emosial tetapi dengan mengajukan mujadalah (adu argumen) dengan dalil yang kebih baik. Ambil contoh kasus dua Razi: Abu Bakar dan Abu Hatim al -Razi. Abu Bakar al-Razi pernah menyatakan bahwa "wahyu itu merupakan sumber perpecahan daripada persatuan. Ini karena setiap agama mengklain kebenaran dan konflik antara agamapun pecah karena klaim tersebut. Sedangkan akal adalah alat pemersatu, karena baik Muslim, Kristen dan Yahudi, semuanya menggunakan akal. Jadi akal adalah pemersatu umat manusia."

Abu Hatim adalah seorang ulama kalam yang tidak sepakat dengan Abu Bakar. Sebagai ulama ia tentu tersinggung dengan pernyataan sang filosof rasionalis tsb. Tetapi dalam menghadapinya, alih-alih menggunakan cara emosional (seperti yang sering terjadi pada zaman sekarang) ia justru menggunakan argumentasi yang logis dan rasional. Ia bertanya pada Abu Bakar, "apakah benar bahwa akal bisa menyatukan umat manusia? Padahal kita tahu dalam sejarah bahwa antara Plato dan Aristoteles yang sama-sama menggunakan akal terdapat perbedaan yang tajam dan fundamental, padahal mereka itu guru dan murid. Jadi apa jaminan bahwa akal bisa menyatukan?"

Nah inilah satu contoh yang menunjukkan bagaimana selayaknya seorang ulama dalam menghadapi sebuah pertentangan atau bahkan pernyataan kontroversial penistaan wahyu di atas. Dan perlu diketahui kasus seperti tidak terjadi sekali, tetapi banyak kali, misalnya perdebatan ilmiah antara al-Biruni dan Ibn Sina, antara al-Ghazali dan Ibn Sina dan Ibn Rusyd dalam kitab Tahafut mereka, kritik al-Syahrastani kepada Ibn Sina dalam bukunya "Mashari' al-Falasifah, dan jawabannya oleh al-Thusi, "Mashari' al-Mashari'. Demikian juga kritik 'Umar b. Sahlan al-Sawi, Suhrawardi, Ibn Hazm dan Ibn Taymiyyah terhadap Aristoteles dengan cara yang mendalam dan rasional dan dalam perkembangan berikutnya meratakan jalan ke arah metode induksi.

Beginilah cara yang tepat dan bermartabat untuk mengatasi perbedaan pendapat--bukan dengan otot dan urat syaraf, tapi dengan pena dan dengan jalan rasional. Beginilah cara para ulama dan cendikiawan Muslim untuk menarik perhatian orang-orang non-Muslim kepada Islam, sehingga Islam kemudian dikenal sebagai agama yang bermartabat dan berperadaban tinggi, yang seperti disinyalir oleh Toby Haff, dalam bukunya The Rise of Early Modern Science, "pada masa kejayaannya, tidak ada satupun peradaban (tidak Cina, tidak juga Barat) yang dapat menyaingi kertnggian peradaban Islam. Semoga manfaat! ***

(Mulyadhi Kartanegara adalah Gurubesar Filsafat Islam)


Fri, 8 Jan 2021 @09:49

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved