Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Shalawat pada Baginda Nabi saw

image

Sufyan al-Tsauri, ulama besar abad kedua hijriah yang dikenal sebagai sufi, ahli hadis, ahli fikih dan disetarakan dengan para imam besar mazhab suatu saat berkisah tentang perjalanannya berhaji.

Ia melihat seseorang tawaf di Baitullah. Langkah demi langkah sepertinya diperhatikan saksama. Untuk setiap langkahnya, ia terlihat berzikir. Zikir yang sama. Sufyan al-Tsauri memperhatikan lebih dekat. Tahulah ia, zikir yang digumamkannya adalah shalawat pada Baginda Nabi Saw. Hamba Allah Ta’ala ini tawaf tujuh putaran dan untuk setiap langkahnya ia bershalawat pada Rasulullah Saw.

Usai ibadah, Sufyan mendekatinya. “Aku perhatikan wirid thawafmu hanya shalawat pada Sang Nabi. Bolehkah aku tahu mengapa?” Dan berceritalah pembaca shalawat itu.

“Aku berangkat haji bersama ayahku. Kami datang dari tempat yang jauh. Di perjalanan, ayahku jatuh sakit. Ia dirawat di perkampungan terdekat. Ia tak tertolong. Ia meninggal dunia. Tiba-tiba, aku melihat wajahnya berubah menghitam dan perutnya membesar. Aku sangat bersedih. Aku menangis di atas jasad ayahku, dan tanpa terasa aku tak sadarkan diri.

Mungkin aku tertidur, mungkin aku jatuh pingsan. Tetapi, aku merasa berada di alam yang lain. Aku melihat jasad ayahku terbujur kaku. Wajah menghitam dan perut membesar. Lalu aku lihat seorang sosok bercahaya, indah luar biasa. Ia datang menghampiri ayahku. Ketenangan terpancar dari ronanya. Tangannya terulur, mengusap wajah ayahku. Seketika ia memutih. Jauh lebih putih dari salju. Lalu menyentuh perutnya, yang kembali seperti sediakala.

Aku berkata, ‘Tuan, izinkan aku bertanya: siapa gerangan Tuan? Dan apa yang sudah kaulakukan pada ayahku?” Ia menjawab: “Ayahmu ini banyak dosa. Wajahnya menghitam karena itu. perutnya membesar karena yang sama. Tetapi, ia sering menggumamkan shalawat untukku. Akulah Muhammad Rasulullah.”

Aku terbangun. Aku terkejut. Baginda Nabi Saw datang dalam ketidaksadaranku. Aku masih duduk di atas jasad ayahku. Dan perutnya tak lagi membesar. Wajahnya bercahaya.

Kami kuburkan ia di kampung itu. Sejak itu aku berusaha untuk tidak pernah berhenti bershalawat pada Rasulullah Saw.”

(Diambil dari catatan Ustadz Miftah Rakhmat dalam facebook Enovita Miftah)

Mon, 18 Feb 2019 @08:50

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved