AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Mengapa Aku Tertarik Filsafat? (3)

image

Hal baru ketiga yang membuatku tertarik pada filsafat adalah ajaran tentang realitas: apa sih yang sesungguhnya ada? Sejak kecil kita diyakinkan orang tua atau guru bahwa yang ada itu alam ini dan alam ghaib. Tetapi dalam filsafat ada yang mengatakan bahwa yang betul-betul ada itu adalah apa yang bisa kita indera (lihat, dengar dan lainnya). Kata mereka berbeda dengan objek-objek ghaib, alam fisik ini dapat dibuktikan adanya secara objektif melalui panca indera. Tanya mereka: "bagaimana kita bisa yakin kalau yang ghaib itu ada padahal ia tidak pernah dan bisa kita lihat selamanya!”

Ada beberapa aliran yang mendukung pernyataan tersebut. Empirisisme, materialisme, dan positivisme. Empirisisme mengatakan hanya yang bisa kita alami (melalui indera) itulah yang nyata, tak perlu mencari yang lain, karena yang berdifat sifat emprikal inilah satu-satunya yang real.

Dengan nada yang hampir sama materialisme mengakatakan bahwa materilah yang paling fundamental, yang non-materi, kalau memang ada, berasal dari materi. Misalnya pikiran mungkin bersifat non-materi, tetapi ia berkembang dan berasal dari materi juga.

Dengan semangat yang sama, positivisme juga mengatakan hanya yang positif (yang bisa diobservasi) yang harus kita pandang ada. Kita tak boleh percaya pada apapun yang tidak bisa diinderai. Ketiga aliran ini yakin sekali bahwa tidak ada relitas lain selain realitas fisik empiris.

Tetapi selain tiga kelompok ini ternyata ada aliran lain yang membantahnya, di antaranya kaum Idealis. Merurut mereka realitas itu bukan berada di luar kita, tetapi justru di dalam diri kita, di dalam kesadran kita. Kaum idealis, seperti diwakili oleh George Berkeley, mengatakan bahwa hakikat sebuah objek tidaklah terletak di luar diri kita, melainkan dalam mesadaran kita. Dari sini kita bisa mengerti orang yang mengatakan "sepi sendiri di tengah keramaian."

Anda tidak dipandang ada kecuali saya memerhatikannya. Anda baru dikatakan ada hanya ketika saya memerhatikan anda, tapi keberadaan anda bukan di luar tetapi di dalam diri saya. Kant pernah mengatakan bahwa dunia tidaklah benar-benar teratur, tetapi ia dipercayai teratur karena kita menginginkannya teratur."

Kalau Anda melihat warna, mungkinkah ada warna kalau tidak ada orang yang melihtnya? Tidak ada, karena warna dan juga suara tidak ada di luar kesadaran diri kita, yang mempersepsinya melalui indera. Warna atau suara adalah penafsiran indera kita atas cahaya dan gelombang udara. Tanpa manusia yang menyadarinya, maka benda-benda yang kita pandang sebagai satu-satunya yang ada oleh kaum empiris, mterialis dan positivis itu sebenarnya tidaklah ada dalam arti yang sebenarnya. Tentu saja ini sangat menarik perhatianku, karena ini memberiku cara baru untuk melihat realitas sesuatu.

Masih berkaitan dengan isu realitas, tapi dari aspek epistemologi adalah pertanyaan dengan apa kita bisa mengetahui realitas. Tentu saja seperti pernah dikatakan al-Ghazali dalam bukunya al-Munqizh, bahwa di antara alat yang paling meyakinkan untuk mengetahui sesuatu adalah indera, dengan mana kita mengenal lingkungan fisik kita. Tetapi selanjutnya ia sendiri menyadari bahwa indera kadang berbohong dan karena itu tidak bisa dipercaya. Kata mata bintang itu kecil, nyatanya besar. Kata mata bayangan itu tidak bergerak nyatanya bergerak.

Di dunia barat pandangan empirisisme dan positivisme sangat dominan, dan hanya percaya pada dunia fisik. Karena itu bagi mereka metode yg paling tepat untuk memahami realitas adalah observasi atau metode eksperimen berdasar pada indera. Masalahnya, apakah indra bisa benar-benar menangkap realitas sebagaimana adanya? Ambil contoh, apakah pelangi itu benar-benar ada di langit?  Kita akan bilang ya, karena ia bisa difoto. Tapi apakah mata kita melaporkan yang sesungguhnya? Ternyata idak, karena pelangi hanyalah pantulan cahaya matahari dari hujan, ia tidak benar-benar ada kecuali sebagai refkeksi. Pelangi akan nampak hanya apabila ada kamera atau mata yang melihatnya. Tanpa mata, maka tak ada pelangi. Jadi di manakah sebrnarnya pelangi berada: di langitkah, atau di mata kita? 

Berdasarkan itu maka al-Ghazali menyakini bahwa akal lebih bisa dipercaya dan komplit daripada indera. Misalnya indra hanya bisa melihat bulan separuhnya saja, tapi akal bisa melihatnya dengan penuh. Tapi Kant meragukan kemampuan akal dalam memahami Realitas. Karena ketika akal kita mengamati sesuatu, yang kita lihat hanyalah fenomena atau penampakkan saja, bukan nomena atau realitas dari sesuatu. Dan itu terjadi karena ketika kita nengamati sesuatu kita sebenarnya menggunakan 12 kategori subjektif, seperti ruang, waktu, substansi, kausalitas, kuantitas, dan lainnya yang menyebabkan kita tidak bisa menyentuh jantung realitas sebuah objek.

[Prof Mulyadhi Kartanegara]

Wed, 11 Jan 2017 @21:07

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved