AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Mengapa Aku Tertarik Filsafat? (4)

image

Hal baru terakhir yang membuat aku tertarik pada filsafat berkaitan dengan konsep ketuhanan, yang kadang berbeda dengan yang digambarkan oleh kitab suci.

Aristoteles dan al-Kindi menggambarkan Tuhan sebagai Sebab pertama bagi rangkaian panjang sebab-sebab yang terjadi di alam semesta, hingga hari ini. Tuhan juga digambarkan sebagai Penggerak Pertama yang tidak bergerak. Penggerak Pertama ini tidak bisa digambarkan sebagai bergerak, karena kalau begitu, maka ia memerlukan Penggerak yang lain, dan karena itu tidak bisa dikatakan Penggerak Pertama.

Selain itu Tuhan juga digambarkan oleh filosof sebagai the Great Unknown, yang Maha Besar tapi ditak bisa dikenal. Inilah pandangan Plotinus, pendiri Neo-Plotonisme yang sangat berpengaruh pada para pemikir Muslim.

Konsep lain yang menarik tentang Tuhan didapatkan dari beberapa filisof Muslim, seperti Ibn Sina yang menggambarkan Tuhan sebagai Wujud Niscaya (wajib al-wujud), yaitu wujud yang senantiasa aktual, yang dikontraskan dengan alam, sebagai Wujud Mungkin, yang tidak bisa mewujud sendiri, dan karena itu tergantung keberadaannya pada Tuhan, sang Wujud Niscaya. Tuhan digambarkan oleh Suhrawardi sebagai Cahaya segala cahaya (Nur al-anwar). Ia adalah sumber dari segala cahaya yang ada di alam semesta, yang nerupakan komponen positif penting alam semesta yang terdiri dari cahaya dan kegelapan.

Konsep Tuhan yang trrakhir adalah dari Mulla Shadra yang menggambarkan Tuhan sebagai Wujud Murni yang menjadi dasar dan syarat adanya wujud lain yang kita jumpai di akan semesta ini. Tuhan sebagai Wujud Murni ini dipandang terbukti sendiri (badihi), karena Ia adakah Syarat dan fondasi bagi segala yang ada (mawjudat) di alam semesta. Tuhan para filosof ini bagiku saat itu merupakan konsep sana sekali baru dan telah menngubah Tuhan yang personal seperti digambartan al-Qur'an kepada Tuhan yang impersonal yang ternyata sangat bermanfaat dalam memahami konsep Tuhan para filisof bahkan hingga saat ini.

Kalau konsep para filosof sudah menggeser Tuhan yang personal ke Tuhan impersonal, konsep Tuhan para fillsof modern lebih menantang lagi. Ia lebih merupakan kritik terhadap Tuhan ketimbang konsep positif tentang-Nya. Kritik filosof modern tentunya sejalan dengan semakin sekulernya pandangan masyarakat Modern barat. Sekalipun kritik mereka asalnya diarahkan pada konsep Tuhan Kristen tetapi konsekuensinya menimpa semua agama.

Mari kita mulai dengan Nietzsche. Ia mengatakan bahwa Tuhan telah mati (God is dead) dan ia "membunuh"' Tuhan untuk memungkinkan manusia menjadi super, dengan cara mencipta. Kalau tuhan tidak dibunuh maka manusia tidak akan pernah menjadi besar, karena tidak pernah akan menjadi pencipta sejati, padahal mencipta merupakan syarat bagi terciptanya manusia super, yang didambakannya.

Sartre pernah menggambarkan Tuhan sebagai Pengintip dengan melambangkan-Nya dengan lubang kunci. Dengan selalu mengintip perbuatan manusia, maka manusia akan kehilangan kebebasannya. Dan dengan kehilangan kebebasannya manusia tidak bisa benar-benar eksis dalam menyelenggarakan hidupnya. Karena itu kita harus menutup lobang kunci--menghapus Tuhan dari kesadaran manusia.

Tapi yang paling parah di antara semua adalah Freud yang memandang Tuhan sebagai Ilusi. Dikatakan ilusi karena ia berasal dari keinginan dan kebutuhan manusia untuk mencari seorang Pelindung. Tuhan, yang dipandang sebagai maha besar, sesungguhnya tak lain daripada proyeksi diri mnusia yang kecil, sehingga terlihat besar, seperti bayangan tubuh kita di tembok setelah dipasang lilin di bawahnya. Karena itu ia mengatakan bukan Tuhan yang menciptakan kita, tapi kitalah, manusia, yang menciptakan-Nya.

Yang terakhir datang dari Emile Durkheim, ahli sosiologi Perancis, yang pernah berkata "apa yang kita sebut tuhan tidak lain daripada Masyarakat (What we call God is actually Society).

Tentu saja konsep-konsep negatif tersebut telah menimbulkan berbagai perasaan dalam diriku antara tertarik, tapi juga repulsif. Inilah akhir dari topik "Mengapa Aku Tertarik pada Filsafat?" dan akan disambung dengan topik berikutnya: Dampak Negatif Filsafat.[]

(Prof Mulyadhi Kartanegara, Pakar Filsafat Islam)

Sat, 14 Jan 2017 @07:16

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved