Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Tarekat Ahlul Bait (2) [by KH JALALUDDIN RAKHMAT]

image

 

Tasawuf: Mazhab Cinta

Cinta dan kerinduan, mahammad dan ‘isyq, adalah inti keberagamaan yang disebut tasawuf. Apa arti cinta? Dalam bahasa Arab, cinta disebut hubb. Kata Abdurrahman Al-Sulami, seorang sufi besar abad ke-5, “Hubb terdiri dari dua huruf, ha dan ba’. Ha adalah huruf akhir pada ruh, dan ba’ adalah huruf awal pada kata badan. Badan menjadi ruh tanpa badan. Badan menjadi badan tanpa ruh. Segala sesuatu bisa dijelaskan kecuali cinta. Cinta itu terlalu lembut dan terlalu halus untuk diterangkan. Karena itulah, Allah Swt menciptakan malaikat untuk berkhidmat, jin untuk kekuasaan, setan untuk laknat, dan menciptakan para arif untuk cinta.

Saya juga tidak mengerti apa yang dimaksud Al-Sulami. Simpanlah ini untuk bahan renungan Anda.

Akan tetapi, Al-Sulami memberikan anekdot-anekdot sufi tentang cinta. Junaid Al-Baghdadi, salah seorang sufi terkemuka, menjelaskan cinta dengan cinta.

“Aku melihat seorang anak memukuli orang tua. Tetapi orang tua itu hanya tertawa. Aku bertanya, “Mengapa Anda tertawa?”

Orang tua itu menjawab, “Bagaimana aku tidak tertawa, tangannya ruhku, cambuknya hatiku, hidupnya hidupku. Bagaimana mungkin aku mengadukan diriku kepada diriku?”

Pada waktu yang lain, Abul Al-Husain Al-Nuri bertanya kepada Junaid tentang cinta yang menjadi dasar tasawuf. Kata Junaid, “Akan aku kisahkan sebuah cerita. Pada suatu hari aku bersama sekelompok orang berada di kebun. Kami menunggu seseorang yang akan menemui kami. Orang itu rupanya datang terlambat. Kami pun naik untuk melihat-lihat. Tiba-tiba kami melihat ada orang buta berjalan bersama anak yang sangat cantik sekali rupanya. Orang buta itu berkata: Engkau perintahkan aku begini dan begini. Semuanya aku lakukan. Engkau melarang, semuanya aku tinggalkan. Aku tidak pernah membantahku. Sekarang, apa lagi yang engkau inginkan?

Anak itu menjawab, “Aku ingin engkau mati”. Si buta itu pun berkata, “Baiklah. Aku akan mati”. Lalu ia berbaring dan menutup wajahnya. Aku pun berkata kepada sahabat-sahabatku, “Lihat, si buta itu tidak bergerak sama sekali. Keadaannya seperti sudah mati. Padahal tidak mungkin ia mati”. Kami segera menghampirinya. Kami gerak-gerakkan tubuhnya. Ia betul-betul telah mati.

Kisah-kisah Junaid Al-Baghdadi tampaknya sukar kita cerna. Marilah kita ngatkan Dzunnun Al-Mishri. Ia berkunjung kepada orang sakit dan ia dapatkan si sakit sedang mengaduh.

Dzunnun berkata, “Tidak sejati ia mencintai jika tidak sabar akan pukulannya.” Si sakit berkata, “Tidak sabar dalam mencintai jika tidak menikmati pukulannya.” Dari sudut rumah ada suara, “Tidaklah mncintai Kami secara sejati orang yang masih mengharap kecintaan selain Kami.” Ketika ditanya bagaimana ia mencintai sahabatnya, ia menjawab, “Jika aku melihatnya, aku ingin agar aku tidak melihat apa pun selain dia. Jika aku mendengar suaranya, aku ingin tidak mendengar apa pun selain suaranya.” Al-Mutanabbi bersyair, “Sekiranya aku bisa mengendalikan mataku, aku tidak akan membukanya kecuali ketika melihatmu.”

Kita akhiri perbincangan tentang cinta dengan penjelasan singkat dari Al-Syibli (walaupun katanya, cinta itu tidak dapat dijelaskan). Ia berkata, “Hakikat cinta adalah engkau berikan seluruh dirimu kepada yang engaku cintai sehingga tidak tersisa milikmu padamu sedikit pun.”

Memang, semua sufi sepakat bahwa tasawuf adalah mazhab cinta. Tetapi cinta adalah maqam tertinggi dalam perjalanan tasawuf. Dan memang, cinta sangat sulit untuk dijelaskan. Cinta—dengan memakai istilah filosof agama, Trueblood—bukanlah “a matter of contemplatoin” (sesuatu untuk direnungkan). Cinta adalah “a matter of enjoyment” (sesuatu untuk dinikmati). Karena itu, sebaiknya kita melihat tasawuf dalam artinya yang paling sederhana dan rujukannya dalam hadits-hadits Rasulullah saw. (bersambung)

Wed, 17 Jul 2019 @20:09

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved