Rubrik
Terbaru
Kirim Artikel & Pertanyaan

ke email: abumisykat@gmail.com

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

RSS Feed
Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

Instagram MisykatNet
image

.

Follow Twitter Misykat
image

Silahkan ikuti Twitter Misykat

YouTube Misykat TV
image

Subscribe Channel Misykat TV

TATA CARA SHALAT

PENGUNJUNG

Flag Counter

Ahmad bin Hanbal dan Tabarruk

image

Entah semua atau sebagian Salafi yang mengklaim diri bermazhab Hanbali. Minimal kecendrungan kepadanya. Mari bandingkan pendapat (sebagian dari) Salafi dengan pendapat Ahmad bin Hanbal yang tercatat dalam kitab al-'Ilal wa Ma'rifat al-Rijal, no. 3243.

'Abdullah, putra Ahmad bin Hanbal, meriwayatkan:

سَأَلْتُهُ عَنِ الرَّجُلِ يَمَسُّ مِنْبَرَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَيَتَبَرَّكُ بِمَسِّهِ وَيُقَبِّلُهُ وَيَفْعَلُ بِالْقَبْرِ مِثْلَ ذَلِكَ أَوْ نَحْوَ هَذَا يُرِيْدُ بِذَلِكَ التَّقَرُّبَ إِلَى اللهِ جَلَّ وَعَزَّ فَقَالَ لَا بَأْسَ بِذَلِكَ

Aku bertanya kepadanya (ayahku) tentang laki-laki yang menyentuh mimbar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu bertabarruk dengan menyentuhnya dan menciumnya, dan ia melakukan hal yang sama ke makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau semisal itu. Yang tujuannya mendekatkan diri kepada Allah dengan hal tersebut. Beliau menjawab: “La ba'sa bi dzalik” (Hal itu tidak masalah).

Syubhat

Namun ada tafsiran lain yang dilontarkan seorang Salafi. Riwayat itu tercatat dalam kitab 'Ilal. Umum diketahui bahwa kitab 'Ilal membahas status perawi hadits atau hadits. Jadi, jawaban "la ba'sa bi dzalik" (hal itu tidak masalah) dari Ahmad bin Hanbal bukan dalam konteks menjawab hukum bertabarruk. 

Melainkan untuk menjawab status perawi hadits yang melakukan hal itu. Ini diperkuat dengan membaca riwayat-riwayat sebelumnya yang mana Ahmad bin Hanbal menjawab status perawi: tsiqah, laisa bihi ba'sun, dll. Bukan menjawab hukum suatu perbuatan. 

Bantahan

Tentu bermasalah kalau pernyataan "la ba'sa bin dzalik" ditafsirkan sebagai menilai status perawi. Bagaimana mungkin Ahmad bin Hanbal menjawab "la ba'sa bi dzalik" untuk menilai status perawi padahal nama perawinya tidak disebutkan? Status perawi jelas tak bisa ditentukan jika perawi yang mau dinilai tidak disebut namanya. Maka tafsir yang rasional adalah jawaban "la ba'sa bi dzalik" itu untuk menilai tabarruk yang disebutkan.

Beberapa ulama menukil jawaban Ahmad bin Hanbal justru dalam konteks sebagaimana yang kami pahami yaitu menilai perbuatan (tabarruk). Bukan menilai status perawi.

Ibnu Hajar al-'Asqalani dalam kitab Fath al-Bari, jilid 3, halaman 555, menyatakan dan menukil berikut:

فَأَمَّا تَقْبِيلُ يَدِ الْآدَمِيِّ فَيَأْتِي فِي كِتَابِ الْأَدَبِ وَأَمَّا غَيْرُهُ فَنُقِلَ عَنِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ تَقْبِيلِ مِنْبَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقْبِيلِ قَبْرِهِ فَلَمْ يَرَ بِهِ بَأْسًا"

Sedangkan mencium tangan manusia akan dijelaskan dalam kitab adab. Adapun (mencium) yang lainnya, dinukil dari Imam Ahmad bahwa ia ditanya tentang mencium mimbar dan kubur Nabi Saw. Ia berpendapat tidak ada masalah dengan hal itu". 

Adz-Dzahabi dalam kitab Mu'jam Syuyukh, halaman 55, menukil berikut: 

وَقَدْ سُئِلَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ عَنْ مَسِّ الْقَبْرِ النَّبَوِيِّ وَتَقْبِيلِهِ، فَلَمْ يَرَ بِذَلِكَ بَأْسًا، رَوَاهُ عَنْهُ وَلَدُهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ.

"Ahmad bin Hanbal telah ditanya mengenai mengusap dan mencium kubur Nabi (Saw), ia berpendapat tidak ada masalah dengan hal itu. Diriwayatkan oleh putranya yaitu 'Abdullah bin Ahmad." 

Silahkan para pembaca menilai konteks penukilan Ibnu Hajar Al-'Asqalani dan Adz-Dzahabi.***

Referensi

Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, al-'Ilal wa Ma'rifat al-Rijal, tahqiq: Wasyiy Allah bin Muhammad 'Abbas, cet. 2, jld. 2 (Riyadh: Dar al-Khani, 1422 H/2001 M), hlm. 492, no. 3243.

Ahmad bin 'Ali bin Hajar Al-'Asqalani, Fath al-Bari, tahqiq: 'Abd Al-Qadir Syaibah Al-Hamd, cet. 1, jld. 3 (Riyadh: Maktabah al-Malik Fahd al-Wathaniyyah, 1421 H/2001 M), hlm. 555.

Syams Al-Din Muhammad bin Ahmad bin 'Utsman Al-Dzahabi, Mu'jam Syuyukh, tahqiq: Ruhiyyah 'Abd al-Rahman al-Suyufi, cet. 1 (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1410 H/1990 M), hlm. 55.

(Muhammad Bhagas, peminat kajian sunni dan syiah)

Sun, 16 Apr 2017 @14:51

Copyright © 2021 Misykat · All Rights Reserved