AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Silakan tulis nama, alamat, dan WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Mulyadhi Kartanegara: Perlunya Pengajaran Islam Komprehensif

image

Mengklaim kebenaran maksudnya adalah pengakuan seseorang bahwa ia telah mengetahui kebenaran dengan pasti dan percaya bahwa pendapatnya sajalah yang benar sedangkan yang lain yang berbeda dengan pandangannya adalah salah dan sesat. Nah, pertanyaannya mungkinkah kita mengklaim kebenaran seperti itu? 

Dalam pandangan saya itu hanya mungkin bagi orang yang sombong dan dalam banyak kasus sempit wawasan ilmunya. Sebab kebenaran itu amatlah besar dan dalamnya, sehingga tak mungkin seseorang, siapa pun dia, akan mampu mencapai tingkat kepastian yang sedemikian dalam dan mutlak, karena kepastian yang sedemikian itu hanya milik Allah semata dan, dalam tingkat yang lebih rendah, mereka yang diinginkan-Nya untuk mengetahuinya, melalui wahyu atau ilham, seperti para Nabi dan auliya. 

Ada pun orang biasa, sehebat apapun dia, tak mungkin mencapainya, dan para ulama yang mendalam ilmunya (الراسخون فى العلم) sangat menyadarinya, sehingga dalam setiap akhir penjelasannya mereka tak lupa dengan rendah hati menulis الله اعلم بالصواب, yang maknanya: Allah lebih mengetahui yang benar. Inilah sikap sepatutnya yang harus dimiliki oleh para ulama. 

Para imam mujtahid, para pendiri mazhab, selalu mengatakan ini adalah pandanganku, dan seandainya kalian menemukan hujjah yang lebih baik, maka kalian boleh meninggalkannya. Dan dikatakan bahwa Imam Hanbal yang adalah murid Inam Syafii memiliki ratusan kalau tidak ribuan pandangan yang berbeda dengan gurunya, dan Imam Syafii tidak marah atau menuduhnya sebagai murid durhaka, mengutuknya sebagai kafir, munafik ataupun sesat karena memiliki perbedaan yang begitu banyak dengan gurunya. Bahkan ia tetap merasa bangga memilikinya sebagai murid. 

Sikap ini jelas beda dengan sikap dari orang-orang yang "mengaku ulama" yang karena sikap sombong berani mengklaim kebenaran. Bagi mereka hanya pandangan mereka saja yang benar. Ada pun pendapat yang berlainan dengan pandangan mereka adalah kesesatan dan karena itu orangnya menjadi kafir dan masuk neraka. 

Berikut ini saya akan mengemukakan alasan mengapa kita tidak mungkinnya mengklaim kebenaran. 

Al-Ghazali dalam bukunya Misykat al-Anwar mengingatkan kita dengan hadits Nabi bahwa ada 70 hijab atau lapisan sebelum kita menemukan kebenaran. Lalu bagaimana dengan kita yang baru mencapai satu atau dua lapis sudah mengklaim kebenaran? 

Untuk menggambarkan bahwa kebenaran itu teramat besar untuk diklaim oleh seseorang, Jalaluddin Rumi menguatkannya dengan cerita pameran gajah di tempat gelap, di mana setiap orang (katakanlah seorang Imam) diberi kesempatan beberapa menit untuk mempersepsi gajah (mewakili kebenaran) tersebut lewat sentuhan. 

Imam yang satu menyentuh kakinya, lalu keluar dengan menyatakan bahwa gajah itu seperti  "tiang besar." Yang lain menyentuh telinganya dan keluar dengan mengatakan gajah itu seperti "kipas." Yang lain menyentuh perutnya dan mengatakan bahwa gajah seperti "drum" dan yang terakhir menyentuh belalainya dan mengatakan bahwa gajah itu seperti "selang." 

Para pengikut Imam yang fanatik dan sempit akan mengatakan pandangan imam yang mengatakan gajah seperti tiang itulah yang benar mutlak, ada pun yang menyatakan yang selainnya pasti salah dan sesat. Tapi apakah mereka yang nengatakan gajah seperti kipas salah? Tentu tidak, karena bagian dari gajah adalah seperti kipas. Apakah tiang sama dengan kipas? Tentu saja tidak. Tapi sama benarnya bukan? 

Dari sini kita mendapat pelajaran berharga bahwa pandangan yang berbeda belum tentu salah. Dan hanya mereka yang memiliki pengetahuan yang luas dapat bersikap bijak, tawaddu dan punya toleran terhadap perbedaan. 

Diceritakan selanjutnya bahwa para pengikut sang imam saling bertengkar, dan menimbulkan keributan dan kerusakan, sehingga penyelenggara pameran mempersilahkan mereka masuk keruangan paneran gajah dan menyalakan lampunya sehingga mereka bisa melihat gajah secara lebih utuh atau komprehensif. 

Barulah setelah melihat gajah dari berbagai sudutnya, pertengkaran pun mereda, mereka tidak lagi saling menyerang dan mengklaim kebenaran. Dan ini menyadarkan kita akan pentingnya pengajaran Islam yang komprehensif yang meliputi berbagai aspeknya. Semoga bermanfaat. 

(Facebook: Mulyadhi Kartanegara)

Sun, 30 Apr 2017 @18:47

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved