Minat beli buku klik covernya
image

 

AUDIO KAJIAN ISLAM

KATALOG Kajian Islam
image

.

TATA CARA SHALAT

Pustaka (Buku PDF Gratis)
image

 

Tugas Guru Agama Islam [by M Subhi Ibrahim]

image

 

Demi Allah! Melihat gejala keagamaan terkini, tugas guru agama Islam maha berat. Mengapa? Karena “harus” mengajar “ilmu” agama Islam! Loh, bukannya itu hal mudah.  

Menurut saya, dalam mengajar “ilmu” agama Islam, selain “isi kurikulum”, ada hal penting yang perlu disampaikan pada murid sebagai pengantar di pertemuan pertama, yang kerap diabaikan.

Pertama, ilmu-ilmu agama adalah hasil kerja “ilmiyah” sungguh-sungguh dari para pakar (ijtihad ulama). Ilmu agama Islam bukan agama Islam itu sendiri, tapi bangunan-pengetahuan (struktur-epistemik) yang sistematis tentang agama Islam yang disusun ulama sekitar abad ke-2 Hijriyah. Konsekuensinya, guru agama Islam mesti punya wawasan-kesejarahan (historis) tentang bagaimana ilmu-ilmu agama Islam disusun oleh ulama dan keanekaragaman produk pemikiran ulama. 

Kedua, secara jujur disampaikan pula dalam pengajaran bahwa, dalam Islam terdapat persoalan pokok (ushul) dan cabang (furu’). Persoalan pokok, yang disepakati mayoritas ulama, jumlahnya sedikit dibanding persoalan cabang di mana kaum Muslim boleh berbeda pendapat, bebas memilih.
 
Contoh dalam ilmu Kalam. Pokok: Muslim harus beriman. Cabang: Jumlah yang harus diimani (rukun iman pada Ahlu Sunnah ada enam, Mu’tazilah ada lima, dan Syiah ada lima). Pokok: Allah adalah tunggal. Cabang: tunggal dalam dzat dan sifat atau dzat-Nya tanpa sifat. 

Contoh dalam ilmu fiqh. Pokok: shalat adalah kewajiban individual (fardhu ‘ain). Cabang: praktek sholat, misalnya apakah disunahkan baca qunut atau tidak di shalat subuh. 

Contoh aktual. Tiap Muslim yakin kebenaran al-Quran surah al-Maidah ayat 51 (ini masuk pokok). Namun, tafsir atas kebenaran al-Maidah ayat 51 tidaklah satu karena kata "auliya" bisa diartikan sebagai: sahabat, teman setia atau pemimpin (ini masuk cabang). Artinya, orang yang tak memegang pandangan bahwa kata auliya adalah pemimpin, lalu otomatis berarti tidak meyakini kebenaran QS. al-Maidah: 51 sebab berada dalam wilayah  cabang, bukan pokok. Kita masih bisa temukan banyak contoh. 

Karena itu, guru agama Islam harus dibekali pengetahuan tentang detil-detil persoalan dalam ilmu-ilmu Islam yang diajarkannya, misalnya mazhab-mazhab yang berkembang dalam suatu disiplin ilmu.  

Dua poin di atas perlu ditegaskan dalam pengajaran “Ilmu” agama Islam agar murid mampu membedakan antara Islam sebagai agama dengan Islam sebagai ilmu; atau Islam dengan “tafsir” Islam.
 
Islam itu satu, tapi “tafsir” atas Islam, sangatlah beragam! Sehingga, murid memiliki “daya kritis”, tak mudah “terbawa-bawa” oleh orang-orang yang mengatakan “menurut Islam,,,” karena ia tahu bahwa, kata “Islam” yang dimaksud adalah Islam versi....

Alhasil, para murid memiliki “kebijaksanaan” dalam menyikapi perbedaan pandangan dalam memahami Islam. Tak mudah “menghakimi” yang berbeda pandangan keagamaannya dengan mereka. 

Sekali lagi, tugas guru agama Islam maha berat karena bukan hanya “menginspirasi” (bukan memastikan) murid agar menjadi soleh (ritual dan sosial, pastinya) dalam beragama, tetapi juga memiliki pengetahuan keagamaan yang kritis. Wa Allahu a’lam bi al-shawabi.

(M. Subhi-Ibrahim adalah Dosen Universitas Paramadina, Jakarta)

 

 

Wed, 21 Oct 2020 @10:25

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved