Rubrik
Terbaru
Media Kajian

Fanpage Facebook MISYKAT

YouTube Channel Misykat TV 

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Namailah dia Al-Husain [by Candiki Repantu]

image

Di Madinah, dalam sebuah rumah yang sangat sederhana, dengan luas sekitar 15 m (diperkirakan berukuran panjang 4,6m, lebar 3,4 m dan tinggi 3,15 m), yang beratapkan pelepah kurma dengan batangnya sebagai tiang penyangga, sedangkan dinding-dindingnya terdiri dari susunan batu atau tanah liat yang dikeraskan, mendapatkan berkah dan cahaya rahmat dengan lahirnya seorang bayi nan indah tepat tanggal 3 Sya’ban 4 H.

Suasana kota Madinah semakin bersinar, rumah kenabian harum semerbak, Nabi dan keluarganya serta masyarakat Madinah menyambut lahirnya seorang pemimpin pemuda surga, putra pemimpin orang yang takwa, Ali bin Abi Thalib, dari rahim wanita penghulu semesta, Fatimah az-Zahra as. Bayi mungil ini, berdasarkan wahyu yang diterima oleh kakeknya, diberilah nama al-Husain. Secara fisik dikatakan bahwa Imam Husain menyerupai Nabi dari dada hingga kaki. 

Itulah al-Husain pewaris tahta kepemimpinan umat sejagat. Darinyalah manusia-manusia teladan abadi lahir untuk menjadi penjaga syariat Sang Nabi. Sayidah Fatimah mengisahkan, “Rasulullah saw menemuiku ketika aku baru melahirkan al-Husain. Aku serahkan al-Husain kepada beliau dalam sebuah kain yang berwarna kuning. Rasulullah saw melemparkan kain kuning itu dan mengambil sebuah kain yang berwarna putih kemudian membalut bayi al-Husain dengan kain putih itu. Setelah itu, Rasulullah saw bersabda, “Ambillah bayi ini, wahai Fatimah! Sesungguhnya dia adalah seorang imam, putra dari seorangimam, dan ayah sembilan orang imam, dari sulbinya akan lahir imam-imam yang saleh dan yang kesembilan dari mereka adalah al-Mahdi”. 

Itulah Husain, yang namanya diwahyukan Tuhan.  Imam Sajjad bertutur tentang kelahiran ayahnya, “Tatkala al-Husain lahir, Allah Yang Maha Tinggi mewahyukan kepada Jibril bahwa telah dilahirkan seorang anak bagi Muhammad, maka turunlah dan sampaikan selamat kepadanya, dan katakan, "Sesungguhnya kedudukan Ali di sisimu seperti kedudukan Harun di sisi Musa, oleh karena itu, namailah dia dengan nama putra Harun”.  

Jibril pun turun menyampaikan salam Tuhan. Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk menamainya dengan nama putra Harun.” Rasulullah bertanya, “Siapa nama putra Harun?” Jibril menjawab, “Syubair”. Rasulullah berkata lagi, “Aku adalah orang Arab”. Jibril menjawab, “Namailah dia al-Husain”. 

Namun, berbeda dengan miladnya Imam Ali, Fatimah, dan Imam Hasan. Memperingati miladnya Imam Husain memiliki kekhasan tersendiri, yaitu jika setiap miladnya para manusia mulia lainnya disambut dengan riang gembira, tetapi kelahiran Husain disambut dengan deraian air mata. 

Ummul Fadhl binti al-Harits meriwayatkan bahwa “Suatu hari, aku masuk menemui Rasulullah dan menyerahkan al-Husain ke pangkuan beliau, ketika aku menoleh, aku melihat kedua mata Rasulullah mengucurkan airmata. Aku berkata, “Wahai nabi Allah, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusan,apa yang terjadi?” Nabi saw bersabda, “Jibril datang menjumpaiku dan mengabarkan bahwa kelak umatku akan membunuh putraku ini.” Aku bertanya, “Putra anda ini?". Nabi saw bersabda, “Ya! Dan Jibril pun membawakan untukku segenggam tanah merah (tempat terbunuhnya) al-Husain.” (lihat al-Hakim, al-Mustadrakjuz III : 176) 

Jadi, Nabi berduka dan menangisial-Husain. Inilah sunnah fi’liyah yang dipraktikkan Nabi. Dan hal itu dilakukan Rasulullah setiap ada kesempatan dan di berbagai tempat. Tradisi menangisi al-Husain ini menjadi tradisi kenabian dalam setiap memperingati miladnya sang ksatria tanpa kepala. 

Perhatikan laporan dari al-Khawarijmi al-Hanafi berikut ini, “Ketika al-Husain berusia satu tahun, turunlah dua belas malaikat menemui Rasulullah dengan wajah memerah. Mereka membentangkan sayap-sayap sambil berkata,‘Wahai Muhammad, putramu al-Husain akan terbunuh seperti tebunuhnya Habil oleh Kabil,dan ia akan diberi pahala seperti Habil, sedangkan pembunuhnya akan menerima dosa seperti dosanya Kabil’.  

Para malaikat di langitpun turun semuanya untuk menyampaikan belasungkawa kepada Nabi saw atas apa yang akan menimpa al-Husain dan mengabarkan pahala yang akan diberikan untuk al-Husain serta menyerahkan tanah al-Husain, dan Nabi saw berdoa, “Ya Allah hinakan orang yang mengabaikan pembelaan terhadap al-Husain dan bunuhlah orang yang membunuhnya, dan jangan beri kesenangan pada nikmat yang diperolehnya.” 

Sebab itu, jika Sang Nabi menangisi al-Husain 50 tahun sebelum peristiwa itu terjadi, lantas bagaimana dengan kita yang mengetahui peristiwa itu secara nyata? Mengapa kita tidak menangisi al-Husain? Jika tangisan ini dianggap bid’ah, biarkanlah air mata ini kelak menjadi saksi dan hujjah di hadapan Allah dan Rasul-Nya serta Imam Ali dan Bunda Fatimah, bahwa kita bersedih untuk al-Husain karena kecintaan yang tulus kepadanya. Karena itu, pada hari ini, ketika lahirnya al-Husain diperingati, kita ingin bergabung bersama kafilah duka suci Sang Nabi untuk menangisi al-Husain putra Ali. Inilah air mata yang bisa kami persembahkan di hari kelahiranmu ya Aba Abdillah. (CR14)

 

Sat, 6 May 2017 @20:33

Copyright © 2019 Misykat · All Rights Reserved