BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Dibohongi Oknum Ulama [by Muhammad Babul Ulum]

image

Bagian 1

Pidato Ahok di Pulau Seribu tidak ada yang salah. Banyak orang yang disebut ulama karena kebetulan menjadi pengurus MUI, misalnya, memakai ayat-ayat suci untuk membohongi umat.  

Saya sebut kebetulan karena untuk menjadi pengurus MUI, Anda tidak harus benar-benar ulama dengan latar belakang pendidikan pesantren hingga paham betul peliknya persoalan keagamaan. Bila Anda seorang pensiunan asal punya jaringan perkoncoan Anda dapat menjadi pengurus MUI. 

Waktu diskusi di Tanjung Balai Karimun, kebetulan saya bertemu ketua MUI Kepri yang berasal dari kalangan pensiunan. Di jajaran pengurus MUI Pusat sekarang ada seorang purnawirawan jenderal polisi, yang bahkan membaca al-Qur`an saja tidak becus, menjadi pengurus teras MUI pusat. Kalau membaca al-Qur`an yang bertuliskan Arab saja tidak becus, bagaimana ia memahami aneka ragam tafsir al-Qur`an berbahasa Arab? Bisa dibayangkan bila kualitas 'ulama' seperti itu, maka fatwa atau Pendapat dan Sikap Keagamaan (PSK) MUI menjadi sumber masalah.  

Berikut akan saya tunjukan beberapa kasus umat Islam 'dibohongi' oleh oknum ulama yang kebetulan sedang menjabat di MUI. Anda pasti ingat.  

Dulu MUI pernah mengeluarkan sertifikat halal terhadap investasi emas GTIS. Sertifikat halal dikeluarkan tentunya setelah melakukan kajian yang mendalam terhadap ayat-ayat suci maupun hadis Nabi. Bukankah begitu ma' (panggilan untuk ulama)? 

Faktanya?! Ternyata investasi bodong. Orang-orang dibohongi oleh MUI yang kadung percaya dengan label halal MUI yang melekat pada GTIS. Dalam kasus ini banyak orang yang tertipu dengan sertifikat halal MUI. Bukankah itu Pendapat dan Sikap Keagamaan (PSK) MUI? Bukankah berarti MUI membohongi umat? Bukankah ini bukti kebenaran kata-kata Ahok di Pulau Seribu. Ini baru satu kasus. Akan saya tunjukan kasus lain yang membuktikan kebenaran pidato Ahok bahwa banyak orang yang disebut ulama berbohong dengan memakai ayat-ayat suci. Tunggu saja. 

Bagian 2

Terima kasih sekaligus maaf saya kepada seluruh teman-teman.Terima kasih karena telah mengapresiasi postingan saya tempo hari, sekaligus maaf karena tidak sempat membalasnya satu persatu.  

Tulisan itu muncul karena keprihatinan saya melihat kondisi umat Islam sekarang yang hanya bisa berteriak-teriak menuntut orang lain berbuat adil; sementara dirinya tidak mau bersikap adil. Mengapa mereka biarkan oknum MUI membodohi umat dengan fatwanya? 

Ribuan orang menjadi korban fatwa sesat MUI. Tapi kenapa Umat Islam diam seribu bahasa?  Apakah semua produk yang dikeluarkan MUI pasti benar? 

Dalam kasus tersebut kenapa tidak ada gerakan pengawal fatwa MUI yang jelas-jelas merugikan ribuan orang? Kasus ini memang sudah lama, tapi keadilan tidak mengenal kedaluarsa. Ia harus diperjuangkan kapan dan di mana pun tempatnya. Dalam konteks itulah saya posting tulisan saya tempo hari.  

Saya hanya ingin mengingatkan umat Islam yang senangnya berteriak di jalanan mengganggu ketertiban. Jadilah umat yang cerdas, bukan umat yang lugu. Jangan mau dijadikan alat politik oleh sekelompok elit. 

Selama ini kalian hanya menjadi buih yang mewarnai jalanan Jakarta. Al-Qur`an itu buat dibaca bukan dibuat demo dengan dalih dibela. 

Membaca al-Qur`an ada perintahnya di al-Qur`an. Tapi demo dengan judul bela al-Qur`an tidak ada ayatnya. Silakan tunjukan ayat mana yang menyuruh Anda demo di jalanan dengan dalih bela al-Qur`an.  

Kalimat terakhir ini mungkin akan dijadikan amunisi membidik saya oleh Anda yang tidak senang dengan tulisan ini. Silakan lakukan. Saya hanya menjalankan perintah qul al-haqq walau kaana murran. Katakanlah yang benar walaupun pahit. Buih di laut berwarna putih. Sama seperti putihnya warna kalian yang memperparah kemacetan Jakarta. Hanya Ahok seorang kalian keroyok? Ini jelas menunjukkan kualitas kalian. Bisanya main keroyokan. Kenapa kalian biarkan oknum MUI mempermaikan ayat-ayat suci dengan fatwa sesatnya? Adilkah kalian, wahai umat Islam?  

Ketahuilah mereka yang duduk di MUI tidak semuanya paham ilmu agama. Ingat Khairun Nisa yang terjerat kasus korupsi bersama mantan ketua MA: Aqil Mukhtar. Ia adalah bendahara MUI waktu itu. Dan terakhir kasus yang menjerat suami artis cantik ibukota pemilik wisma Saidah yang mau ambruk di Cawang itu? Ia juga bendahara MUI yang terjerat kasus suap di BAKAMLA. Koruptor menjadi pengurus MUI? Kalau keduanya mengkorupsi uang, maka oknum MUI yang lain mengkorupsi ayat al-Qur`an dan teks suci yang lain. Ulama seperti itu masih dibela? Memalukan! 

Memang MUI harus diaudit sumber daya dan sumber dananya. Karena tidak ada standar yang jelas untuk menjadi pengurus MUI. Akibatnya, selain MUI menjadi sarang koruptor produk yang dihasilkannya pun mencelakakan banyak orang. Besok atau lusa akan saya tunjukan kepada Anda apa saja produk MUI yang mencelakan banyak orang. Silahkan nikmati dulu tulisan ini. 

(Facebook:  Muhammad Babul Ulum/6-5-2017)

 

Mon, 8 May 2017 @15:24

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved