Rubrik
Terbaru
MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Siapa Menista Agama: Ahok atau MUI?

image

Hakim telah menjatuhkan putusannya. Ahok divonis 2 tahun penjara. Keterangan saksi ahli dari pihak Ahok diabaikan. Fakta persidangan tidak dilihat secara komprehensif. Walhasil melahirkan keputusan yang aneh. Tapi apapun yang terjadi keputusan pengadilan harus dihormati. Sebagai warga negara yang baik Ahok pun patuh dengan segera menjalani hukuman tanpa protes.

Masih ada jalan baginya untuk banding. Kita tunggu saja proses selanjutnya. Permasalah hukum kita serahkan kepada pihak-pihak yang berurusan langsung. Akal sehat saya mengatakan ada ketidakadilan dalam masalah ini. Sebagai orang Islam saya harus bersuara melihat ketidakadilan ini. Memang tulisan ini tidak dapat merubah keputusan pengadilan. Tapi, paling tidak, kewajiban telah saya tunaikan saat melihat kezaliman di depan mata. 

Bagi saya Ahok tidak menistakan agama, sebagaimana diputuskan hakim. Sebagai orang Islam saya meyakini al-Qur`an sebagai kitab suci yang harus dihormati. Dalam hal ini saya sepakat dengan Hakim. Akan tetapi, Pak Hakim, ketahuilah bahwa al-Qur`an yang suci ini seringkali dipakai orang untuk membohongi umat Islam. Atau, dengan kata lain, al-Qur`an dipakai untuk meraih ambisi pribadi atau kelompok tertentu yang tidak ada hubungannya dengan al-Qur`an bahkan bertentangan dengan al-Qur`an. Seperti yang telah dilakukan oleh MUI dengan fatwa halalnya terhadap investasi emas GTIS yang ternyata investasi bodong. Bukankah ini berarti MUI memakai ayat suci untuk membohongi umat, Pak Hakim?! Bukankah ini berarti MUI menista al-Qur`an?! Jadi, tidak ada yang salah dari pidato Ahok di kepulauan seribu karena faktanya banyak orang berbohong dengan memakai ayat-ayat suci. Sertifikat halal yang diperoleh GTIS dari MUI adalah bukti al-Qur`an dipakai untuk membohongi umat. 

Saya kasih contoh lain. Anda tahu kalimat takbir, allahu akbar. Ini juga kalimat suci. Tapi, bukankah banyak orang yang memakai kalimat suci ini untuk mengganggu orang lain! Bahkan kalimat suci ini dipakai untuk membunuh orang-orang yang tak berdosa. Apa yang dilakukan teroris  ISIS di Suriah, Irak tak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh gerombolan berjubah putih yang tempo hari memperparah kemacetan jakarta. Jadi, sekali lagi, Pak Hakim, al-Qur`an memang suci. Tapi kesucian al-Qur`an banyak dipakai untuk membohongi umat Islam yang unyu-unyu. Itulah yang dilakukan oleh banyak orang yang memakai jubah ulama. Saya harap umat Islam menyadarinya. Jangan mau ditipu dan dibohongi oleh para teroris berjubah dan para pendukungnya yang memakai ayat-ayat suci al-Qur`an untuk kepentingan pribadinya. Bukalah mati hati dan akal sehat kalian, wahai umat Islam. Kecuali kalau akalnya udah nggak sehat, sih.

Berlakulah adil. Jangan karena kebencian terhadap Ahok membuat kalian tidak adil. Jika kalian tuduh Ahok sebagai penista al-Qur`an, mengapa kalian tidak menuduh MUI dengan tuduhan yang sama dalam kasus GTIS. Padahal dalam pidato Ahok tidak ada yang dirugikan. Sementara ratusan bahkan ribuan orang dirugikan oleh fatwa MUI. Mengapa MUI tidak didakwa menghina al-Qur`an! Wahai umat Islam, al-Qur`an mewajibkan kalian berlaku adil! Sadarlah kalian, bahwa kalian hanya dimanfaatkan oleh sekelompok elit untuk politik kotornya. Agar kalian memahami persoalan ini dengan jelas. Berikut akan saya jelaskan secara singkat mengapa saya anggap Ahok benar saat menyebut al-Maidah 51 dipakai untuk membohongi umat islam yang unyu-unyu seperti kalian.

Dalam agama Islam ada beberapa ajaran disebut al-ma`lum min al-din bi al-dharurah. Hal-hal yang pasti dalam ajaran agama. Mengingkarinya bisa dianggap menista agama Islam. Seperti Shalat wajib yang lima, Shalat subuh dua rakaat, Shalat maghrib tiga rakaat, Ibadah haji ke Mekkah, Muhammad sebagai Nabi terakhir, Al-Qur`an yang terjaga keasliannya, dst. Dan untuk mengetahui dharuriyat al-din ini tidak perlu ilmu agama yang tinggi-tinggi. Anda lulusan SD aja pasti mengetahui semua hal-hal yang pasti tersebut. Nggak perlu lah fatwa MUI untuk mengetahuinya. Fatwa kyai kampung saja cukup untuk menjelaskan semua perkara di atas. Oleh karena itu, kalau ada orang yang mengaku sebagai Nabi seperti Lia Eden, maka yang bersangkutan bisa disebut sebagai penista agama. Apakah Ahok mengaku sebagai Nabi? Di sinilah bedanya antara kasus Ahok dengan Lia Eden. Karena itu salah besar bila kasus Lia Eden kalian samakan dengan Ahok, lalu kalian bidik Ahok dengan tuduhan menista agama. Apakah ahok mengingkari ibadah haji? Ahok justru memberangkatkan umrah para marbot yang bahkan para gubernur yang muslimpun tidak pernah melakukannya apalagi MUI. Apakah Ahok mengingkari kewajiban shalat yang lima? Bahkan Ahok bangun Masjid Balai Kota dan Daan Mogot dengan megah untuk pelaksanaan shalat lima fardhu. Ahok tidak mengingkari dharuriyat al-din. Karena itu Ahok tidak menista agama. Bahkan sangat menghormati agama Islam dengan melakukan perbuatan mulia yang bahkan para pembencinya yang beragama Islam pun tidak pernah melakukannya. Justru MUI lah yang telah menista al-Qur`an. Mengapa gerombolan berjubah putih itu diam seribu bahasa terhadap MUI yang mempermainkan ayat-ayat suci?

Saya lebih pas untuk menyebut bahwa MUI-lah yang menista al-Qur`an, bukan Ahok. Silahkan Anda tuduh saya menghina ulama. Tapi sebelum Anda buat surat aduan ke Polisi dengan tuduhan menghina ulama, saya harap Anda baca dulu argumentasi saya mengapa saya sebut MUI menista al-Qur`an. Menurut logika para pembenci Ahok, Ahok telah menghina al-Qur`an karena menyebut kata dibohongi pakai al-Maidah 51. Padahal Ahok tidak berkata surat al-Maidah 51 bohong. Dia hanya menyebut ada orang yang mamakai ayat ini untuk membohongi umat Islam yang unyu-unyu. Bukankah MUI juga melakukan hal yang sama bahkan lebih sadis dari apa yang Ahok lakukan. Jadi, sekali lagi, jika kalian tuduh Ahok menista al-Qur`an, maka MUI lebih pantas untuk didakwa sebagai penista al-Qur`an.

Saya ingin mengajak Anda mengingat peristiwa yang menghebohkan dunia internasional akibat fatwa MUI Sampang tahun 2012. Dalam fatwa tersebut Syiah dianggap sesat karena meyakini shalat hanya dilakukan tiga waktu. Sesatkah shalat lima fardhu dalam tiga waktu? Silahkan Anda buka al-Qur`an Surat al-Isra 78 yang artinya: "Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir (duluk al-shams) sampai gelap malam (ghasaq al-lail) dan qur`an fajar. Sesungguhnya qur`an fajar itu disaksikan." Semua kitab tafsir menjelaskan ayat tersebut sebagai waktu pelaksanaan shalat yang lima. Silahkan lihat semua kitab tafsir berbahasa Arab yang membahas surat tersebut. Namun bila Anda tidak sempat, atau lebih tepatnya tidak bisa membaca kitab tafsir berbahasa Arab, berikut akan saya saya nukilkan pendapat tim penafsir al-Qur`an Kementrian Agama dalam memahami ayat tersebut. Anda dapat mengeceknya pada al-Qur`an terjemahan yang ada. "Ayat ini menerangkan waktu-waktu salat yang lima. Tergelincir matahari untuk waktu Zuhur dan Asar. Gelap malam untuk Maghrib dan Isya. Dan fajar untuk shalat Subuh. Jadi, kewajiban salat fardhu menurut petunjuk al-Qur`an adalah tiga waktu saja."

Coba, sekali lagi, perhatikan logika fatwa MUI yang menyesatkan Syiah. Syiah sesat karena meyakini salat fardhu yang lima dalam tiga waktu. Sementara al-Qur`an menjelaskan pelaksanaan lima salat fardhu dalam tiga waktu.  Artinya bahwa keyakinan Syiah didasarkan pada ayat suci al-Qur`an. Sedangkan MUI menganggap sesat keyakinan yang didasarkan pada al-Qur`an tersebut. Dengan demikian berarti MUI menyesatkan al-Qur`an. Bukankah ini sebuah penghinaan yang serius terhadap al-Qur`an. Bukankah dengan demikian berarti MUI menghina al-Qur`an! Sekali lagi, MUI menganggap pengamal al-Isra 78 sesat. Ini berarti MUI menganggap Qs al-Isra 78 menyesatkan. Bukankah ini penistaan terhadap al-Qur`an? Jadi, siapa yang menghina al-Qur`an, Ahok atau MUI, bro?

(Muhammad Babul Ulum)

Sat, 13 May 2017 @07:57

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved