CERAMAH DAN KAJIAN ISLAM

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Bisakah Komunitas Syiah Dibubarkan?

image

Tentang komunitas Syiah di Indonesia, saya kira perlu banyak baca dan lakukan analisa yang mendalam dari hasil riset akademik. Sekadar dipahami bahwa Syiah dalam sejarah adalah mazhab dalam Islam yang tertua dan dianut oleh umat Islam yang tersebar di seluruh bumi. Jumlahnya kalah dibandingkan pengikut Ahlus Sunnah. Namun, lebih banyak dari pengikut Wahabi. 

Sama seperti Ahlus Sunnah. Meski beredar di Timur Tengah, tetapi sebarannya sampai kepada orang Indonesia. Kini banyak dianut oleh umat Islam di Indonesia. Sejarah gerakan dan penyebaran di Indonesia bisa baca buku-buku dan dialog langsung dengan Jalaluddin Rakhmat, Azyumardi Azra, dan kaum akademisi yang konsern dalam kajian Syiah.

Di Indonesia, saya kira Syiah sama seperti Ahlussunnah yang mengalami pribumisasi. Sehingga yang muncul bukan wajah yang seperti di negeri asalnya. Islam asalnya di Arab, tetapi masuk ke Indonesia dari sisi budaya dan pengamalan agama tampak berbeda. Inilah yang bisa disebut pribumisasi. Jadi, agama oleh penganutnya disesuaikan dalam pengamalannya dengan situasi dan kondisi setempat. 

Dan agama Islam yang berada di berbagai belahan dunia pun mengalami pribumisasi atau penyesuaian dengan budaya setempat. Budaya di setiap daerah yang dihuni umat Islam mengalami perubahan saat Islam menjadi agama yang diyakini di negeri tersebut. Islam bisa menyatu dengan budaya setempat sehingga wajah Islam tidak seperti di Arab atau Irak dan Iran. Bahkan mazhab Syiah di Iran dan di Lebanon atau Bahrain dalam pengamalan khidupan penganut Syiah tidak sama satu sama lain. Misalnya pemahaman politik yang dicetuskan Imam Khomeini yang terkait mazhab Syiah membentuk sistem wilayah faqih sehingga menjadi konstitusi negara Republik Islam Iran. Sedangkan di Lebanon dan Suriah meski komunitas Syiah banyak dan para ulama Syiah mendominasi pemikiran yang berkembang di dua negara tersebut, tetapi tidak menganut wilayah faqih sebagai azas negara. Perbedaan ini karena ijtihad sehingga setiap negeri tidak sama dalam menghasilkan keputusan untuk negaranya dan tentu ini menjadi keragaman dalam khazanah umat Islam. 

Agama Islam di Indonesia pun beragam. Meski sama-sama mazhab Ahlussunnah dan sebagai mazhab mayoritas, tetapi karakter ormas NU (Nahdlatul Ulama) dan ormas Muhammadiyah berbeda dalam pengamalman agama di masyarakat. Biasanya orang NU saat shalat subuh baca qunut dan Muhammadiyah tidak baca qunut. Orang NU tahlilan saat ada yang wafat dan orang Muhammadiyah tidak tahlillan. Orang NU rayakan maulid Nabi dan Isra Miraj dan Muhammadiyah tidak merayakannya. Orang NU baca niat shalat secara zahar dan orang Muhammadiyah tidak zahar. Itulah bedanya dalam pengamalan beragama. Mungkin kalau dihimpun akan ditemukan banyak perbedaannya. 

Mengapa beda? Mungkin tujuan yang diusungnya oleh setiap ormas beda. Tampak bahwa NU lebih kental dengan budaya lokal dan masyarakat tradisional. Sedangkan Muhammadiyah lebih kental dengan kemoderenan dan masyarakat kota sehingga dakwah yang dimunculkan sosial dan pendidikan modern dalam bentuk sekolah-sekolah. Sedangkan ormas NU masih bertahan dalam pesantren atau pendidikan tradisional. Itulah yang saya ketahui tentang Muhammadiyah dan NU.

Kemudian di Indonesia ada umat Islam yang menganut mazhab Syiah. Secara ormas diwakili oleh ABI (Ahlulbait Indonesia) dan IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia). Jika dikaji kedua ormas tersebut berbeda dalam memahami khazanah mazhab Syiah dan penerapannya. Pasti juga beda dalam tujuan dan program yang dikembangkan masing-masing ormas. Meski sama-sama menyatakan sebagai organisasi agama Islam yang menghimpun umat yang mencintai Rasulullah saw dan Ahlulbait as.  

Tentang IJABI
Yang saya ketahui tentang IJABI bahwa ormas yang dikomandani oleh Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat) ini mengapresiasi budaya lokal. Saya melihat bagaimana Kang Jalal selaku nakoda menciptakan suasana Asyura dengan nuansa budaya lokal, yaitu membacakan syair Al-Husain dalam bahasa Sunda. Kemudian menggunakan alat musik Sunda dalam acara Asyura. Saat di Cirebon dalam acara Asyura terdapat penampilan tari topeng dan pembacaan shalawat khas orang-orang NU. Bahkan para ulama NU pun dihadirkan sebagai narasumber yang menyampaikan ceramah-ceramah terkait dengan Asyura.

Ormas IJABI mengetahui situasi negeri sehingga dalam mengayuhkan perannya selaras dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Azas yang dipakai oleh IJABI adalah Pancasila dan UUD 1945 menjadi acuan dalam berorganisasi. Selama saya bergaul dengan komunitas IJABI di Muthahhari Bandung belum menemukan sikap IJABI yang bertentangan dengan pemerintah Repubik Indonesia.

Dalam kasus penentuan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawwal pun ormas IJABI dengan tegas mengikuti keputusan resmi dari Repubik Indonesia. Tidak menentukan sendiri meski ada banyak orang IJABI yang cerdas dan pintar dalam ilmu-ilmu agama dan sains. Namun mengikuti pemerintah Indonesia. Saat dilarang mengadakan Asyura di Gedung Kawaluyaan Bandung oleh kelompok takfiri yang atas namakan umat Islam, teman-teman dari IJABI mematuhi aparat polisi untuk bersikap damai dan menjalankan kegiatan di lingkungan IJABI. 

Dalam urusan mazhab, IJABI pun membuat keputusan melalui Kang Jalal bahwa praktek nikah mutah tidak boleh dilakukan masyarakat IJABI. Meski dalam kajian ilmiah, nikah mutah kuat dari dalil dan dibolehkan oleh Rasulullah saw. Demi kemaslahatan umat dan mungkin banyak penyimpangan terkait dengan nikah mutah, maka IJABI berani menetapkan tidak membolehkan melakukan nikah mutah. 

Kemudian dalam kegiatan IJABI pun senantiasa dibaca teks Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan berdiri. Ini bukti dari kecintaan komunitas IJABI pada Indonesia sehingga keagamaan ini layak disebut sebagai bentuk Islam kebangsaan.    

Hal lainnya yang membuat kagum dari ormas IJABI adalah menganjurkan untuk mendahulukan akhlak, menjalin ukhuwah, dan menyebarkan semangat pluralisme. Sampai sekarang semangat dan gerakan tersebut masih terpelihara dalam kajian dan acara yang digelar IJABI.

Bagaimana Gerak IJABI?

Terkait dengan gerak langkah ormas IJABI, tampaknya perlu membaca cuplikan pidato Kang Jalal pada awal IJABI berdiri (yang diambil dari facebook Ijabi Pusat) berikut ini:

“….. Ketika kita berangkat mengembangkan layar Bahtera Ahlulbait ini di Bandung, Gedung Merdeka, Gedung Asia Afrika, dipenuhi oleh ribuan massa, mewakili beberapa provinsi di Indonesia. Saya mengatakan bahwa mereka datang dari relung-relung sejarah Indonesia. Mereka mewakili suara-suara parau kaum mustadh’afin. Berbeda dengan kafilah Imam Husein, dalam perjalanan Bahtera IJABI penumpang bahtera kita bertambah lebih banyak. Alhamdulillah! Tetapi sama dengan Imam Husein, ada beberapa sahabat kita yang meninggalkan bahtera ini. Sahabat-sahabat saya di Pengurus Besar IJABI pernah mengeluh karena ada sebagian kawannya meninggalkan mereka dan bahkan menghendaki agar IJABI dibubarkan saja.

"Saya menghibur mereka dengan mengatakan bahwa kepedihan kita masih setitik embun dalam lautan derita Imam Husain as. Ketika mereka mengadu kepada saya bahwa ada beberapa wilayah yang membangkang, sehingga organisasi terpaksa menerapkan tindakan indisipliner kepada mereka, saya berkata: Bukankah Imam Ali pernah berkata: “Aku diuji oleh rakyatku yang apabila aku memerintahkan mereka, mereka tidak mentaatiku; apabila aku memanggil mereka, mereka tidak menjawab panggilanku. Rakyat-rakyat yang lain takut akan kezaliman pemimpinnya. Aku takut akan kezaliman rakyatku. Saya katakan kepada mereka bahwa ujian yang kita terima hanyalah sebutir debu dalam sahara ujian Imam Ali as.

"Hari ini, melihat saudara-saudara yang datang dari sudut-sudut negeri Indonesia dengan segala kesetiaan dan pengorbanan, saya tidak dapat menahan keharuan saya. Saya tahu saudara datang tanpa bantuan apa pun dari Pengurus Besar IJABI.

"Organisasi kita adalah organisasi yang tidak punya backing dari siapa pun kecuali dari Allah, Rasul-Nya dan kaum mukmin. Kita tidak berafiliasi denga partai politik apapun. Kita tidak berjuang untuk memperoleh kursi legislatif. IJABI tidak menawarkan apa pun kecuali kesetiaan pada pesan Imam Husain: Pembelaan pada kaum tertindas dan pencerahan pemikiran.

"En toch, saudara-saudara datang ke sini, memenuhi panggilan kami. Berulang kali kami memanggil saudara dan berulang kali pula saudara dengan setia menjawab seruan kami. Juzitum ‘an ahlil bayti khayran. Saya tahu terkadang saudara harus mengurbankan apa yang masih tersisa setelah semua pengorbanan saudara lakukan.

"Beberapa waktu yang lalu, ketika kita menyelenggarakan pengkaderan IJABI marhalah ula, ada peserta yang menawarkan cincin di jarinya kepada peserta lain untuk ongkos pulang ke kampung halamannya. Saudara, saya menangis mendengar itu. Mudah-mudahan Rasulullah saw dan para Imam menghimpunkan kita bersama mereka.

"Ketika Rusyaid al-Hajari diberitahu bahwa ia akan dipotong tangannya, kakinya, dan lidahnya, ia bertanya: Apakah setelah itu aku ke surga, ya Amiral Mukminin. Imam Ali menjawab: Anta ma’i fiddunya wal akhirat. Saya percaya, saudara-saudara bersedia mendapat resiko apa pun di IJABI, walaupun harus kehilangan tangan, kaki, dan lidah, asalkan nun di sana Imam Ali menyambut kita dengan senyumnya: Anta ma’i fiddunya wal akhirat.” 

Demikian tentang ormas IJABI yang saya ketahui. Semoga bisa dikaji kembali dengan sebenarnya sehingga akan bisa ditemukan simpulan yang benar terkait komunitas Syiah di Indonesia.

Bisakah Syiah dibubarkan?
Kemarin di internet ada informasi bahwa ustad (dan kelompoknya) ingin membubarkan Syiah. Kita ketahui Syiah bukan ormas seperti Hizbut Tahrir yang bisa dibubarkan. Syiah merupakan mazhab dalam agama Islam. Sebuah mazhab tegak dan hidup karena ada penganutnya. Jika tidak ada penganutnya maka mazhab tersebut akan dengan sendirinya hilang. 

Dalam sejarah ada mazhab Thabari dalam bidang fikih. Namun, karena tidak ada menganutnya maka hingga sekarang tidak ada lagi. Mazhab tersebut hilang dengan sendirinya, kecuali jika dijadikan sebagai mazhab resmi negara maka akan bertahan sepanjang negara tersebut berdiri dan sang penguasa menghendaki. 

Contohnya Dinasti Safawiyah menetapkan Syiah Imamiyyah sebagai mazhab resmi di Persia sehingga hidup sampai sekarang dan dijadikan mazhab resmi pula oleh penguasa selanjutnya: Dinasti Qajar kemudian pemerintahan Pahlevi dan Republik Islam Iran. Di Arab Saudi yang menjadi mazhab resmi adalah Wahabiyah. Juga di Brunei Darussalam pemerintahnya menetapkan dalam konstitusi bahwa agama resminya adalah Islam mazhab Ahlus Sunnah ajaran Syafiiyah. Jika ditetapkan demikian, maka mazhab lainnya bisa dilarang berkembang. 

Perlu diketahui di Indonesia bahwa konstitusi negara menetapkan agama resmi adalah Islam, Hindu, Budha, Konghuchu, Kristen, Katolik, dan Aliran Kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Sehingga apa pun mazhab dan pahamnya, jika masih menginduk pada agama yang ditetapkan tersebut maka bisa hidup dan berkembang di masyarakat Indonesia. Dan selama mazhab dan pahamnya bisa selaras dengan konstitusi negara, yaitu Pancasila dan UUD 1945, maka tetap diakui bagian dari khazanah Indonesia. 

Jika bertentangan dan menolak konsitusi atau azas negara Indonesia maka layak dibubarkan seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Tidak hanya ormas, partai politik yang menentang UUD 1945 dan Pancasila pun dibubarkan. Mungkin masih ingat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sekarang menjadi partai dan organisasi terlarang di negara Indonesia. Tentang membubarkan Syiah, sangat perlu riset akademik dahulu. Ketahuilah bahwa mazhab Syiah sudah menjadi bagian dari budaya Islam di Indonesia. Tidak percaya, bacalah riset akademik di beberapa perguruan tinggi. Jangan gegabah! 

(Ikhwan Mustafa

Mon, 15 May 2017 @14:19

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved