AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Tanggapan atas Muzakarah Nasional ANNAS [by Candiki Repantu]

image

"Di masa ini, tak sepatutnya kita mendengarkan omongan siapa saja yang mengutip secara sembarangan atau melepas lidahnya tanpa bukti nyata. Ia harus menunjukkan kepada kita sumber informasinya, secara jelas dan pasti. Beribu-ribu karangan ulama Syiah imamiyah telah tersebar luas di seluruh negeri Parsi, India, dan lainnya, baik dibidang fikih, hadis, ilmu kalam, akidah, tafsir, ushul, ataupun doa-doa, zikir, etika, dan akhlak. Silakan mencarinya agar anda memperoleh informasi yang sebenarnya. Jangan sekali-kali mengandalkan ocehan orang-orang yang memang kerjanya hanya menebarkan benih-benih kebencian dan permusuhan di kalangan sesama Muslim. Yaitu mereka yang setiap kali menulis tentang Syiah, senantiasa mengutip segala sesuatu yang berupa kebohongan amat keji.”

Demikianlah peringatan Sayid Syarafuddin Al-Musawi, penulis buku legendaris Dialog Sunni-Syiah atas fenomena kajian dan informasi yang menipulatif yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu tentang syiah. Peringatan Sayid Syarafuddin ini kembali menjadi penting diingat seiring dengan maraknya informasi hoax dan fitnah keji kepada Syiah yang dilontarkan oleh orang-orang, organisasi atau komplotan, dan media yang tidak bertanggungjawab.

Syiah adalah salah satu mazhab yang sering disalahpahami oleh kebanyakan orang, padahal kini kita sudah diabad teknologi globalisasi yang bisa mengakses beragam informasi di seluruh penjuru dunia. Namun, adakalanya sekelompok orang yang tidak menginginkan persatuan umat Islam, selalu membuat propaganda untuk menghadirkan kebencian dan konflik di antara kelompok-kelompok kaum muslimin bahkan penyesatan dan pengkafiran dengan cara-cara yang jauh dari nalar akademis dan nalar Islamis. Misalnya tuduhan bahwa Syiah dengan ideologi imamahnya akan menjadi ancaman bagi NKRI. Bahwa Syiah akan mengambil kekuasaan dan mengulingkan pemerintahan. Begitu pula, Syiah dituduh mengkafirkan umat Islam dan menghalalkan darah mereka.

Ini adalah fitnah keji dan propaganda omong kosong. Tidak ada dalam sejarah Indonesia. Coba ANNAS keluarkan data, organisasi siapa yang menyatakan negara ini kafir? Kelompok mana yang sibuk mempropagandakan khilafah Islamiyyah? Ideologi apa yang selalu mengancam NKRI ini dengan bom? Coba cek dan ricek pelaku bom Bali, bom Marriot, Bom Sarinah, Bom di kantor polisi, dan lain-lain. Apakah mereka orang-orang yang berideologi Syiah dengan Imamahnya? Adakah mereka adalah orang IJABI atau ABI? Tak satu pun. Bahkan kalau kita cermati mereka adalah orang-orang yang berideologi mirip dengan ANNAS, yakni ideologi radikal dan takfiri, yang suka menebarkan kebencian, permusuhan, dan mengkafirkan kelompok yang lainnya. Lantas kenapa ANNAS menuduh Syiah dengan gencar padahal tak ada buktinya sama sekali? Jawabnya, inilah teori "buang angin". Orang yang buang angin dan menyebarkan aroma bau busuk biasanya yang pertama kali mengkampanyekan "bau kentut" (maaf!) kemudian menuduh org lain yang buang angin untuk menutupi perbuatannya.

Mengapa tuduhan terhadap Syiah itu kita katakan fitnah dan omong kosong saja? Coba lihat Libanon, apa kurangnya Hizbullah untuk menggulingkan kekuasaan di Libanon, tapi sedikit pun mereka tidak berniat melakukannya. Sekarang dituduhkan kepada Syiah di Indonesia yang jauh lebih sulit bahkan tidak sampai 0,1 persen dari penduduk Indonesia. Selain itu, Syiah juga tak punya kekuatan apapun baik ekonomi maupun politik. Tapi bagi ANNAS bukti tidaklah perlu. Yang penting bagi mereka adalah menyebarluaskan propaganda kebencian kepada Syiah. Benarlah ungkapan Syaikh Jawad Mughniyah bahwa "Semua tuduhan memerlukan bukti kecuali tuduhan terhadap Syiah".

Kaum penuduh model ini, adalah merupakan produk dari pendidikan yang kolot dan fanatisme buta keagamaan. Lebih dari satu abad yang lalu Adib Ishaq dalam at-Ta’ashshub wa at-Tashahul (1871) sudah mengingatkan kita semua tentang bahayanya fanatisme keagamaan yang dipicu oleh hegemoni politik yang despotik, yakni fanatisme yang bermetamorfosis menjadi radikalisme agama. Menurutnya, fanatisme adalah pikiran seseorang yang merasa benar sendiri, yang merupakan gejala psikologis yang muncul dari perasaan ingin mempertahankan status quo dan keyakinan buta disebabkan oleh kebodohan atau pun kepentingan pragmatis.

Ada pun Muhammad Arkoun menyebut fanatisme beragama ini sebagai penyakit mental (al-sharamah al-aqliyah). Mereka dengan mudah menyesatkan dan mengkafirkan kelompok lain, serta bersikap intoleran dan tindakan kekerasan atas nama agama. Agama harus dilindungi walaupun harus mengorbankan dirinya atau orang lain yang dinilai menyimpang. Dari sinilah, kesakralan agama dan keimanan seolah sah meminta korban. Di titik ini, Arkoun melihat adanya keterkaitan antara terorisme dan fanatisme.

Begitu pula Fariz A. Noor mengeluhkan bahwa belakangan ini marak kembali kelompok yang begitu bergairah menuduh sesat, murtad, kafir dan munafik. Sikap menjijikkan dan keji ini  meluas dan dilakukan oleh mereka yang menganggap dirinya “Muslim tulen.” Dalam perlombaan mereka untuk mencari Islam yang otentik dan murni, mereka telah melanggar semua batasan etika dan prinsip-prinsip peradaban Islam itu sendiri. Kecondongan kepada praktik takfiri (pengkafiran) ini karena  pengaruh logika dialektika bermusuhan (oppositional dialectics).

Inilah yang terjadi di negeri Indonesia tercinta ini.  Hari Minggu, 14 Mei 2017, ketika orang-orang Nasrani berkumpul di Gereja untuk beribadah dan menyampaikan pesan-pesan kasih, mendendangkan nyanyian penuh cinta, tetapi di sudut lain kota Bandung, berkumpul sekelompok kaum "al-sharamah al-aqliyah" dengan menggelar aksi menebar benci, caci maki dan fitnah keji kepada para pengikut setia Imam Ali as. Mereka menyebut acaranya sebagai Muzakarah Ilmiyah, tapi sebenarnya yang mereka lakukan adalah "Muzakarah Kebencian". Sebab tidak ada pembicaraan mereka yang ilmiah. Tentang kegiatan mereka, Allah Swt mengingatkan dalam firman-Nya:  “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina. Yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah” (QS al-Qalam: 10-11).

Tanggapan

Muzakarah ANNAS menghasilkan sembilan maklumat terhadap Syiah (sebenarnya satu khusus untuk komunis). Silahkan lihat di https://m.arrahmah.com/2017/05/15/mudzakarah-nasional-ii-annas-hasilkan-9-pernyataan-sikap/

Setelah saya perhatikan dengan saksama dan cermati, sembilan pernyataan sikap itu lebih tepat di alamatkan kembali kepada pembuatnya. Untuk itu, dalam tulisan ini saya juga membuat sembilan maklumat pernyataan sikap tentang ANNAS sebagai berikut :

1). Mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya pemerintah untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan akan ancaman gerakan ANNAS yang bertolak belakang dengan nilai-nilai Pacasila dan UUD 1945 serta Bhineka Tunggal Ika.

Alasannya, bahwa ANNAS merupakan organisasi yang mengandung unsur kebencian, permusuhan, memecah belah umat, dan mengajak orang untuk berbuat anarkis terhadap kelompok lainnya. Telah terbukti banyak tindakan anarkis atas kelompok tertentu diawali dengan pelabelan sesat, kafir dan lainnya yang bermuatan permusuhan terhadap SARA. Tentu semua itu bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila.

2). Mendorong masyarakat dan pemerintah agar memiliki pemahaman yang benar, keyakinan yang kokoh serta pegangan yang jelas mengenai keislaman Syiah. Di sisi lain masyarakat dan pemerintah harus memahami dengan baik bahayanya kelompok ANNAS yang punya visi dan misi merusak kesatuan bangsa dan menggoyahkan sendi ideologi negara.

Alasannya, bahwa sesuai fatwa dan hasil konferensi seluruh ulama di dunia pada tahun 2005 di Amman yang menghasilkan sebuah keputusan yang disebut dengan Risalah Amman yang menegaskan bahwa :

"Siapapun yang mengikuti 4 madzhab Ahlussunnah wal Jamaah (yaitu: Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hanbali), DUA MAZHAB SYIAH (Jakfari dan Zaidi), madzhab Ibadi, dan madzhab Zhahiri, maka dia adalah MUSLIM. TIDAK BOLEH MENGKAFIRKANNYA, HARAM DARAHNYA, KEHORMATANNYA, DAN HARTANYA."

Dengan demikian ANNAS menentang fatwa ulama dunia dengan menebarkan kebencian atas Muslim Syiah. Karena itu, gerakan ANNAS termasuk gerakan kaum radikal yang harus diwaspadai masyarakat dan pemerintah. Sebab Negara kita berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang memberikan jaminan kebebasan beragama dan beribadah setiap warga negara sesuai keyakinannya masing-masing. Sedangkan ANNAS ingin merusak jaminan kebebasan beragama dan beribadah di Indonesia.

Karena itu, pandangan ahli hukum positif maupun ahli agama bahwa kebebasan berkeyakinan adalah hak azasi manusia yang harus dipegang teguh oleh negara. Dengan ini pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan bagi organisasi ANNAS yang tidak menghargai Hak Asasi Manusia Indonesia, untuk diantisipasi bila perlu dibubarkan demi melindungi rakyat Indonesia dari ancaman diskriminasi dan disintegrasi.

3). Meminta MUI untuk berani mengeluarkan fatwa bahayanya gerakan ANNAS agar menjadi pedoman kuat bagi masyarakat maupun pemerintah dan aparat penegak hukum dalam mengambil kebijakan terhadap gerakan ANNAS.

Alasannya, bahwa visi dan misi ANNAS berseberangan dengan visi dan misi MUI. Visi dan misi MUI adalah sebagai berikut :

"MUI adalah wadah musyawarah para ulama, zu'ama, dan cendekiawan Muslim, yang kehadirannya berfungsi untuk mengayomi dan menjaga umat. Selain itu, MUI juga sebagai wadah silaturrahmi yang menggalang ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyyah dan ukhuwah insaniyyah, demi untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang harmonis, aman, damai, dan sejahtera dalam Negara Kesatuan Rapublik Indonesia".

Betapa jelas visi dan misi MUI itu untuk menebar persaudaraan bukan menyebar permusuhan. Sebaliknya visi ANNAS adalah menebar permusuhan dan kebencian bukan persaudaraan. Jadi, visi ANNAS berkontradiksi dengan Visi MUI, maka sudah sewajarnya MUI mengeluarkan pernyataan agar masyarakat dan pemerintah mewaspadai propokasi dari komplotan ANNAS ini.

4). Meminta pemerintah untuk waspada atas fitnah ANNAS yang ingin menghidupkan kembali isu PKI dan komunisme yang kemudian disejajarkan dengan Syiah untuk menyebarkan permusuhan di antara anak bangsa.

Alasannya, bahwa komunitas syiah tidak punya sejarah hitam dalam pemberontakan terhadap NKRI dan tidak pernah punya hubungan dengan PKI dan komunisme. Komunitas syiah selalu mendukung setiap kebijakan Negara yang berbasis pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jadi, menyandingkan ideologi Syiah dengan ideologi Komunisme adalah hal yang keliru. Jauh panggang dari api. Lihat karya para ulama Syiah, bahkan dengan sangat apik membantah ideologi komunisme sampai ke akar-akarnya.

5). Mendukung pemerintah untuk menjalin hubungan dan kerjasama yang lebih intens dengan Iran baik dalam bidang pendidikan, keagamaan, ekonomi maupun politik dan militer.

Alasannya, bahwa membangun hubungan  kerjasama dengan Iran akan menguntungkan Indonesia dalam berbagai sisinya. Iran adalah negara Islam dengan tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat tinggi. Bahkan telah mulai menyaingi negara-negara Barat. Iran siap membantu dan memberikan investasinya di Indonesia dalam peningkatan ilmu pengetahuan, ekonomi, teknologi, dan pertahanan kemanan. Telah banyak negara yang memperoleh keuntungan dengan bekerjasama bersama Iran.

Selain itu, Iran sebagai negara dengan ideologi Syiah yang memiliki ulama-ulama berkaliber dunia, tentu bisa memberikan pemahaman yang utuh tentang Syiah dari sumbernya langsung. Sehingga dengan mengenal Syiah dari sumbernya yang asli, maka masyarakat beserta ulama dan pemerintah Indonesia akan dapat menciptakan persaudaraan antara Islam Sunni dan Islam Syiah. Bersatunya dua kekuatan ini akan mempercepat berkembangnya peradaban Islam ke arah yang lebih maju.

6). Mendorong pemerintah daerah untuk lebih jeli dan cermat memantau gerakan ANNAS di daerahnya masing-masing dengan dukungan organisasi, tokoh, dan lembaga dakwah Islam yang moderat.

Alasannya, gerakan ANNAS yang mengandung unsur kebencian terhadap SARA berencana akan mengacaukan daerah-daerah di Indonesia dengan menciptakan intimidasi terhadap komunitas dan acara keagamaan Syiah. Tentu hal ini akan menimbulkan gesekan di masyarakat. Karena itu, dengan dukungan kalangan Islam moderat, pemerintah daerah bisa memgambil langkah-langkah nyata dalam mencegah tumbuh dan berkembangnya paham radikal yang suka menyebar kebencian, permusuhan dan tindak kekerasan. Kebijakan tegas pemerintah daerah baik propinsi maupun kabupaten/kota hingga pusat akan membentuk jaringan kuat untuk melakukan langkah strategis mencegah, menindak, dan membubarkan organisasi radikal yang mengandung unsur kekerasan.

7). Meminta seluruh elemen politik khususnya partai politik untuk melakukan pengawasan dan penelitian secara seksama akan kemungkinan di susupi oleh kader dan aktivis radikal.

Alasannya, karena partai politik adalah wadah bagi semua rakyat Indonesia, apa pun suku, ras, mazhab dan agamanya untuk turut berpartisipasi membangun bangsa dan negara. Partisipasi ini membutuhkan kerjasama yang harmonis antar semuanya. Tidak boleh partai politik memelihara radikalisme, kebencian, dan permusuhan.

8). Menghimbau aparat penegak hukum baik kepolisian dan kejaksaan serta TNI untuk mengambil langkah-langkah preventif dan antisipatif terhadap perkembangan paham radikal yang disebarkan di berbagai pelosok Indonesia atas nama agama.

Alasannya, sebagai organisasi radikal yang mengedepankan permusuhan dan kebencian atas kelompok tertentu, maka akan membuat kerusuhan di berbagai belahan bumi ibu pertiwi. Mereka akan menyerang acara-acara keagamaan umat Islam dan orang-orang Islam yang hidup secara aman damai di daerahnya masing-masing. Kehidupan umat yang selama ini dalam keadaan aman dan damai serta penuh persaudaraan akan dibuat oleh “kaum pembenci” perdamaian menjadi saling membenci, memusuhi, menyesatkan, mengkafirkan, dan menebarkan fitnah.

9). Sebagai warga negara yang menjunjung tinggi keadilan, kebebasan beragama, dan berkeyakinan, serta persatuan Indonesia, kami meminta pemerintah untuk membubarkan komplotan kaum radikalisme agama.

Alasannya, bahwa propaganda yang menebarkan kebencian dan permusuhan terhadap penganut Syiah jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika,  yang menjunjung tinggi keadilan, kebebasan beragama dan berkeyakinan serta persatuan Indonesia.

Sebagai penutup pernyataan sikap ini, saya ingin sampaikan muzakarah sebagai pengingat bagi kita semua:

"Dan di antara manusia ada yang berkata, 'kami beriman kepada Allah dan hari akhir,' padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.

Mereka menipu Allah dan orang-orang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri mereka sendiri tanpa merrka sadari. 

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu, dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta.

Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah berbuat kerusakan di muka bumi',  mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan'.

Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.
(Q.S. Al-Baqarah : 8-12).

Demikian pernyataan sikap ini saya sampaikan sebagai wujud keprihatinan saya akan maraknya radikalisme agama yang diusung dan disebarkan oleh Gerakan Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) yang mengedepankan kebencian dan permusuhan yang merusak sendi-sendi keagamaan, kenegaraan dan kebangsaan.

Begitu pula, pernyataan ini sebagai rasa tanggungjawab saya sebagai orang beragama yang mengedepankan toleransi, persaudaraan, rahmat dan kasih sayang. Kemudian komitmen saya sebagai warga negara yang menjunjung tinggi Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika. Semoga Tuhan Yang Maha Esa menjaga negara dan bangsa kita dari gerakan radikal atas nama agama.

(CR14)

Wed, 17 May 2017 @19:05

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved