Rubrik
Terbaru
MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed

Aneka Ragam Cara Sambut Ramadhan

image

Menjelang puasa Ramadhan, banyak orang yang melakukan acara kebersamaan. Di Tatar Sunda, istilahnya "botram" dan ada pula "papajar". Dua istilah ini terkait dengan urusan perut. Ada pula yang bersih-bersih masjid, setelah itu makan dan minum. Ini juga urusan perut, tetapi ada amalnya. 

Dan saya lihat di facebook, ternyata ada yang sambut bulan suci Ramadhan dengan pawai bergerombol dan menyalakan opor (yang berapi). Untuk apa ya? Bukankah kesucian mesti disambut nuansa yang sama dengan unsur suci? Bukan dengan gejolak api! Ya mestinya dengan kontribusi yang guna bagi sekitar. Mestinya yang mencerminkan pada kesucian. Entahlah, apa yang berada dibenak mereka?

Yang paling mengejutkan, malam Kamis (25 Mei 2017) di Kampung Melayu, Jakarta, terjadi ledakan bom bunuh diri. Apakah kejadian tersebut sebuah sambutan untuk bulan suci Ramadhan? Jika benar, tentu alangkah buruknya itu perilaku. Mengingatkan saya pada Bassam Tibi tentang Islamisme yang dinyatakan gerakan yang menghalalkan cara-cara kekerasan dan gaya bomber untuk mewujudkan tujuan dari gerakannya. Orientasi kaum Islamisme jelas menegakkan daulah Islamiyyah, sebagai bentuk resistensi atas situasi yang tak memihak kaum Muslim. Mereka anggap bahwa Islam sebagai nilai dan ajaran serta hukum yang ideal untuk seluruh manusia di dunia. Karena itu, konsitusi Islam mesti ditegakkan.

Beragam gerakan Islamisme dari berbagai penjuru dunia muncul. Mulai dari Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Jabhat Nusra, dan yang terkenal ISIS. Di Indonesia pun pernah muncul Darul Islam (DI) dan Tentara Islam Indonesia (TII) di Jawa Barat, Aceh, dan lainnya. Bahkan, gerakan yang mengusung Khilafah Islamiyyah pun hidup di Indonesia dengan nama: Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Yang kemudian ditetap oleh pemerintah sebagai gerakan dan organisasi terlarang. Meski secara hukum belum dibubarkan ormasnya. Kaum ini biasanya jelang Ramadhan acara sambut bulan suci dengan konvoi di jalanan. 

Lain sekarang, lain dahulu. Dahulu di Garut, Samarang, desa gadog, dua hari jelang puasa Ramadhan ada tradisi bersih-bersih. Dilakukan secara bersama warga yang berada di desa dan kampung.  

Mulai dari masjid, kuburan, selokan, saluran air bersih, dan pos ronda. Bangunan rusak, cat pudar, atap bocor, dan yang terkait dengan urusan "umat" diperbaiki dan dirawat bersama warga.  

Bahkan, menjelang maghrib memasuki tanggal 1 Ramadhan, antar tetangga dan saudara berkirim makanan. Saling menikmati makanan jamuan hari pertama Ramadhan. 

Kebersamaan dan persaudaraan. Momentum dari tradisi tersebut harusnya dirawat. Ya, semoga ada yang terus merawatnya.

Mohon maaf lahir dan batin. Untuk segala yang terkait dengan hak dan kewajiban. Dan untuk yang merasa tidak berkenan atas tulisan dan komentar saya. Hapunten...

@shalawat12

Thu, 25 May 2017 @11:08

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved