PENGUNJUNG

Flag Counter

Kajian Islam LPII Bandung

Informasi kelas Hadis Al-Kafi dan Tafsir Al-Quran (follow Twitter) @LPII Bandung

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Silakan tulis nama, alamat, dan WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Sayyid Fadhlullah: Perang Media dan Informasi

image

 
Soal: Yang Mulia, bagaimana pendapat Anda atas sumpah serapah jurnalistik atau perang-perang kecil yang menggunakan jurnalistik sebagai medan perang informasi?
 
Jawab: Pada dasarnya, sumpah serapah dilarang dalam Islam. Sumpah serapah dapat menyebabkan bahaya yang lebih besar daripada keuntungan bagi jurnalistik, yang statusnya dapat terpuruk di hadapan manusia yang mengkritik gaya sumpah serapah. Hal ini juga dilihat dalam perang-perang kecil yang dapat menjadikan rakyat lupa akan perang eksistensi, di mana jumalisme memalingkan manusia dari penyebab-penyebab situasi saat ini yang vital.
 
Soal: Dalam jurnalisme Islam, beberapa misi koresponden kadang-kadang memerlukan tindakan mata-mata untuk memburu berita. Apakah tindakan ini dibolehkan?
 
Jawab: Memata-matai tidak dibolehkan bagi kaum Muslimin karena rahasia-rahasia dan keburukan-keburukan manusia merupakan ranah yang terlarang, yang tidak boleh diungkapkan oleh kaum Muslimin, kecuali berkaitan dengan keperluan Islam yang mendesak yang barangkali menuntaskan penderitaan rakyat atau menyejahterakan rakyat.
 
Soal: Apakah boleh tindakan memanipulasi beberapa berita dengan cara meloncati suatu bagian dan menerbitkan yang lainnya?
 
Jawab: Tindakan ini dibolehkan apabila tidak berlawanan dengan fakta.
 
Soal: Apakah pernyataan bahwa sebuah surat kabar atau majalah tidak bertanggung jawab atas pendapat seorang penulis dalam artikel atau laporan membebaskan majalah atau surat kabar dari tanggung jawab hukum atau pelanggaran yang dibuat?
 
Jawab: Boleh saja, kalau artikel atau laporan tersebut tidak membahayakan rakyat, tidak menjadi masalah apakah artikel tersebut dikaitkan ke majalah atau penulis.
 
Soal: Sesuai dengan ungkapan, "perhatikan apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan". Apakah dibolehkan mempekerjakan seorang penulis yang mempunyai reputasi buruk dalam front Islam?
 
Jawab: Pada dasamya, boleh saja asalkan tindakan mendukung dan menerbitkan namanya serta pikirannya tidak akan merugikan lembaga Islam.
 
(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005. Halaman 21-23)

Mon, 19 Jun 2017 @13:59

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved