Renungan Mengenal Diri (1 & 2): Manusia Sebagai Makhluk Surgawi (Selestial)

image

Bagian 1

Wahai manusia, sesungguhnya dirimu yang sejati bukanlah makhluk duniawi (terestrial) tetapi makhluk surgawi-samawi (selestial). Ingatlah ketika Suhrawardi berkata: "Engkau adalah burung merak yang sangat indah yang diturunkan ke bumi dalam keadaan terbungkus, sehingga kau tak kenal lagi keindahanmu yang sejati." "Engkau," kata Ibnu Sina, "adalah burung yang terpedaya oleh umpan sang pemburu, sehingga terjerat jaring dan kini berada dalam sangkar, padahal asalmu dari langit." 

"Engkau," kata Maulana, "bukanlah burung biasa, tetapi burung Rajawali peliharaan sang raja, yang dengan sayapnya yang panjang dan lebar dan kepakannya yang kuat, dapat melesat cepat ke istana raja."

"Ibarat hewan," kata Maulana selanjutnya, "engkau bukanlah hewan biasa, tetapi Singa si raja rimba, di mana hewan yang lain memakan sisa makanannya."

"Terhadap dunia," katanya lagi, "engkau adalah kutub, di mana yang lain berputar mengikuti arahanmu."

Tapi, kata Mawlana, "Kepulan debu di belakang kuda yang kita tunggangi dalam perjalanan terestrial ini menutup pandangan kita sehingga lupa dari mana kita berasal, dan dengan itu pula kita lupa harus ke mana kita kembali." 

Dengan demikian kau bukan makhluk yang lemah dan hina. Dengan potensi besar yang Allah anugerahkan padamu, kau bisa menjadi apa saja yang kau mau, asal mau berjuang untuk mengaktualkannya. Sekali kau mengenal jati dirimu, kau adalah makhluk yang indah, makhluk surgawi yang tangguh dan perkasa, kau adalah poros dunia dan panutan bangsa manusia dan makhluk Tuhan yang lainnya. 

Bagian 2

Di seri pertama dikatakan bahwa manusia itu tidak lemah dan hina, tetapi kuat. Tapi pertanyaannya di mana letak kekuatanmu? Jelas bukan pada fisikmu, seberapa pun hebat dan canggihnya ia. Sebab kalau diukur secara fisik, gajah jauh lebih besar dan lebih kuat.

Lagi pula sang Nabi bersabda: "Orang kuat bukanlah yang mampu menjatuhkan lawan ketika berkelahi. Tetapi orang kuat itu adalah yang dapat menahan emosi kietika marah!"

Tubuh hanyalah alat bagi kekuatan jiwa yang tersembunyi di dalamnya. Plato pernah mengumpamakan jiwa seperti penunggang kuda, dan tubuh seperti kudanya. Ia adalah alat dan pembantu jiwa dalam merealisasikan keinginannya. Atau seperti yang dikatakan Nashiruddin Thusi, jiwa ibarat pemilik rumah dan tubuh adalah rumahnya. 

Lalu di mana kekuatan itu terletak? Para filosof menjawabnya pada akal yang dipandang sebagai differentia yang membedakannya dari hewan lainnya. Marah misalnya hanya bisa dikendalikan oleh akal, yang dipandang sebagai mudabbir alias manager dari nafsu-nafsu rendah, syahwiyyah dan ghadhabiyyah. Akal pula yang memungkinkan manusia untuk meraih ilmu, sebagai cahaya atau lentera kehidupan. 

Dengan ilmu, manusia mengetahui berbagai realitas (haqa'iq) baik yang fisik maupun yang non-fisik. Dengan akal manusia tahu akan keberadaan Tuhan, hakikat alam dan dirinya. Dengan akal manusia mampu nembedakan yang baik dan yang buruk, dan dengannya manusia dibimbing ke arah yang benar. 

Tetapi dalam Islam, akal tidak dipandang sebagai segalanya. Di samping banyak kelebihannya, menurut para sufi, akal juga punya banyak kelemahannya. Pada hal-hal tertentu bahknan ia tidak tahu apa-apa. Bukankan sang Maulana pernah berkata: "ketika akal ditanya tentang cinta, ia tersungkur ke lumpur seperti seekor keledai."

Dan juga: "di gerbang cinta, akal tiada berguna, karena di sana tidak ada tanya mengapa dan bagaimana." 

Lagi pula ilmu yang diperoleh akal hanya mencapai level teoritis (nazhariyyah), dan sering tidak mencapai level praktis. Bahkan fikih dan teologi (ilmu kalam) yang lebih cenderung pada formalitas, menurut Rumi, tak mampu melakukan transfornasi jiwa yang sangat diperlukan bagi perealisasian potensi-potensi kemanusiaan yang menjadi syarat bagi tercapainya cita-cita tertinggi manusia: insan kamil. Menurut beliau hanya ilmu tasawuf dengan makrifahnya yang mampu melakukan transformasi jiwa yang dimaksud. Semoga manfa'at! 

(Mulyadhi Kartanegara adalah Pakar Filsafat Isam, kini mengajar di Brunei Darussalam)

Sat, 1 Jul 2017 @20:45

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved