CERAMAH DAN KAJIAN ISLAM

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Syiah di Indonesia dan Dinamika Politik Iran (4)

image

"Iranisme"

Syiah tampil dengan dua ciri khas yaitu poros Arab dan poros Iran. Syiah di Iran lebih bercorak mistik dan filosofis, sedangkan Syiah di Irak dan Negara-negara Arab lainnya, seperti Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Lebanon dan lainnya lebih  bercorak ortodoks. Meski  demikian, warna  Syiah di setiap  negara  Arab  punya ciri  lokalnya masing-masing. Ciri-ciri itu  dibentuk oleh  identitas  etnik, budaya, geografis, sejarah, dan lainnya. 

Kebanyakan dari kita memahami Syiah secara tidak tepat. Sebagai contoh adalah pernyataan beberapa tokoh yang menganggap Syiah di Indonesia sebagai suatu ancaman karena merupakan kepanjangan tangan wilayah  al-faqih di Iran. Hal ini terjadi disebabkan tidak hanya kurangnya informasi dalam membaca Islam umumnya dan Syiah khususnya, namun juga  karena terlanjur berbicara untuk kepentingan politik sesaat menjelang pemilihan umum.

Jika hal ini tidak direspon secara serius, maka  bisa berdampak  serius  bagi masyarakat Syiah dan bangsa ini yang menjunjung tinggi keragaman dan keberagamaan.  

Oleh karena itu, perlu bagi  kami untuk menanggapi dan mengklarifikasi  beberapa hal tentang Syiah bahwa Syiah bersifat dinamis, dimana pun Syiah berada selalu mewarnai dan diwarnai oleh budaya sekitar. Sebagai  contoh, Syiah Arab yang terbagi menjadi beberapa basis, dengan berpusat Najaf, Irak, Lebanon, Bahrain dan Hijaz.  

Hijaz tidak bisa diidentikkan dengan Wahabi.  Wahabi berkuasa meskipun minoritas di negerinya. Padahal Syiah banyak mendominasi di beberapa wilayah seperti Damam, Qatif dan Ahsa, yaitu kawasan utara Hijaz yang kaya dengan sumber daya  energi. Syiah di sini memiliki kekuatan tersendiri dan memiliki warnanya dan berbeda dengan Syiah di Irak atau pun di Iran. Ada juga Syiah di Lebanon dengan karakternya yang lebih moderat.  

Syiah juga banyak di negara-negara teluk seperti Bahrain, Kuwait, UEA, dan Qatar. Jika kita ingin bicara mayoritas Syiah, memang kita akan menemukan Syiah di Irak yang berpusat di Najaf dan Iran yang berpusat  di Qom sebagai dua poros utama yang melahirkan tradisi keulamaan  ala hauzah/pesantren Syiah.  

Sejak dahulu kala, Syiah memang didominasi  oleh para ulama yang berasal dari dua poros ini. Selama ini informasi yang kita peroleh tentang Syiah hanya berasal dari Qom, Iran jelas salah karena justru Qom sebagai hauzah baru terbentuk pada masa lima puluh tahun hingga satu abad yang lalu.   

Sementara hauzah Najaf, Irak sudah terbentuk sejak beberapa abad silam. Bisa dikatakan bahwa para Marja besar yang hidup saat ini adalah para alumnus hauzah Najaf. Karakteristik keulamaan Irak dan Iran berbeda berdasarkan watak, etnik dan sebagainya. Model keulamaan yang mendominasi adalah fikih, sementara model filsafat cenderung terpencil. 

Tokoh filosof seperti Mulla Sadra kala itu tidak dikenal bahkan pada era Sabzawari. Hal ini tentu saja terkait dengan kecenderungan ulama yang lebih mengembangkan keilmuan yang bersifat praktis ala fikih.

Sedangkan keilmuan yang bersifat diskursif ala filsafat baru tren pada  masa Allamah Thabathaba’i dengan karyanya Al-Mîzân fî Tafsîr Al-Qurân yang bercorak  teosofis dan melahirkan tokoh-tokoh seperti Hosein Nasr, Khomeini dan Murtadha Muthahhari. 

Bisa  dikatakan bahwa Allamah Thabathaba’i dan Khomeini adalah tokoh-tokoh reformis di kalangan Syiah. Misalnya Allamah Thabathaba’i tidak mengangkat dirinya sebagai marja’ saat itu. Keduanya merupakan tonggak revolusi  Islam Iran di masa itu. Banyak kalangan ulama  yang menentang perlawanannya terhadap rezim Shah kala itu, bahkan dari marja’ besar seperti Mazhahiri. Sebagian besar ulama menganggap urusan pemerintahan bukanlah bagian dari  peran ulama. Perbedaan sikap ini juga terjadi di Irak, misalnya antara Khu’i dengan Muhammad  Baqir Sadr terhadap Saddam Husein.  Tentu saja kedua perbedaan sikap tersebut mempertimbangkan kemaslahatan umat saat itu. 

Kembali ke  persoalan  semula,  bahwa  Syiah  berkembang  sesuai  dengan  karakteristik masyarakatnya. Syiah di Hijaz, Kuwait, Bahrain, Qatar, Irak, Iran, dan Indonesia tentu saja memiliki masing-masing corak keberagamaan tersendiri.

Banyak yang menganggap Arab itu seragam, sama, sebagaimana  digambarkan media-media  Barat yang penuh dengan propaganda. Padahal Arab itu terdiri dari  dua puluh empat negara berbeda dengan ragam bahasa, logat, karakteristik, watak dan tradisi  berbeda-beda. 

Sebagai  contoh, Lebanon  sebagai  negara Arab yang  memiliki  kebudayaan berbeda akibat percampuran  etnik dan bahasa sehingga Syiah di Lebanon memiliki corak  berbeda dengan Syiah di Irak dan Iran. Begitu pula Syiah di Iran, memiliki corak berbeda dengan peran mistik dan filsafatnya.

Transnasional

Indonesia memiliki sejarah panjang dengan Syiah dan mistisismenya. Memang kita tidak bisa memungkiri adanya pengaruh Iran dalam Syiah di Indonesia sebagai gelombang revolusi, sehingga dicurigai memiliki  kecenderungan politik seperti Syiah di Iran. Padahal karakteristik kedua negara ini berbeda.

Iran cenderung satu etnik Persia, sedangkan Indonesia memiliki keragaman etnik yang mengakibatkan perbedaan karakter masing-masingnya. Tentu saja Syiah di Indonesia lebih elastis menghargai perbedaan dan sangat menjunjung tinggi negeri tempat mereka lahir sendiri, ketimbang Iran sebagai sebuah negara nun jauh di sana. 

Syiah di Indonesia memosisikan diri mereka sebagai bagian integral dari bangsa ini dan bangga menjadi bagian dari bangsa yang besar. Karena sifatnya yang dinamis, setiap orang Syiah di Indonesia memiliki pilihan masing-masing dalam hal politik. Satu hal yang pasti, Syiah di Indonesia bukan Syiah Arab, bukan Syiah Iran dan bukan pula Syiah mana pun  selain Syiah Indonesia yang berkarakter, berbudi pekerti meng-Indonesia. Banyaknya alumni dari Iran dan Irak tidak serta merta diasumsikan sebagai afiliasi negara-negara itu dan dianggap sebagai ancaman bagi  NKRI. Sebagaimana kita tidak bisa mengasumsikan para lulusan Amerika dan Saudi sebagai pembawa kepentingan asing dan ancaman bagi NKRI.  

Republik Islam Iran

Syiah sering dikaitkan dengan Iran. Pengaitan ini kadang karena minimnya informasi. Kadang pengidentikan ini dilakukan secara sengaja demi tujuan dan tendensi kebencian alias fitnah. 

Iran menjadi Republik Islam tidak melalui pemaksaan, tetapi melalui  referendum dengan partisipasi terbanyak dalam sejarah. Referendum  diadakan untuk mengukur akseptabilitas (keterterimaan). Kemudian akseptabilitas menjadi legalitas untuk mendirikan negara Islam Iran. 

Setelah rakyat memilih Republik Islam dalam referendum, konstitusi yang ditetapkan menjadi sistem yang mengikat warga, apa pun agama dan  mazhabnya. Konstitusi yang dihasilkan oleh  lembaga legislatif menjadi Undang-undang Dasar (UUD) negara, bukan hukum Islam yang hanya berlaku atas Muslim/Syiah saja, tapi setiap warga Iran. 

Hal penting yang kerap tidak diperhatikan ialah bahwa Republik Islam Iran tidak berarti Islam telah menjadi sistem negara di Iran. Disebut Republik Islam Iran, yang lebih tepat diartikan Republik Islami di Iran (Jomhouriye  Islami-ye Iran atau Al-Jumhuriyyah Al-Islamiyyah Al-Iraniyyah), karena bersifat Islam.  “Islam” ajektif, bukan substantif. Artinya, dalam republik (negara yang kedaulatannya dibangun dengan kontrak sosial melalui referendum) itu, Islam merupakan sifat yang dipredikasikan atas “Republik” sebagai substansi, bukan Islam menjadi substansi dan Republik menjadi predikat. Dengan kata lain, undang-undang negara Iran disarikan (melalui penafsiran) dari teks suci Alquran dan Sunnah. 

Sementara itu, Irak, meski mayoritas penduduk bermazhab Syiah dan sebagian besar kekuasaan dipegang oleh mayoritas Syiah sejak Saddam Husein jatuh, namun tidak lantas menjadi negara Islam. Iran yang relatif  homogen berbeda dengan Indonesia yang heterogen. Karena itu pengalaman negara Islam di Iran tidak serta merta bisa diterapkan di Indonesia. 

Selain itu, masyarakat beragama di Indonesia lebih mirip dengan masyarakat beragama di Lebanon. Syiah di Indonesia pun lebih memilih Islam sebagai sistem masyarakat, bukan sistem negara karena kemajemukannya. Sungguh ironis bila yang dijadikan bahan analisis intelejen Negara terhadap Syiah di Indonesia adalah data invalid, tidak up-to-date, dan dangkal. Sebagai warga negara Indonesia ketaatan kepada wali faqih (bukan Rahbar), yang saat ini sebagian besar percaya  dipegang  oleh Ali Khamenei, adalah sebatas ketaatan dalam hal fikih atau ibadah bukan ketaatan politis tentunya.  

Ekspor Revolusi

Tuduhan bahwa Syiah di Indonesia ini ingin mengimpor revolusi Islam Iran ke Indonesia adalah jelas tuduhan tidak mendasar sebagaimana jika ada tuduhan bahwa umat Katolik di Indonesia ingin mendirikan negara Katolik ala Vatikan. Artinya, perlu ditegaskan kembali bahwa ketaatan kepada wali faqih yang saat ini dipercayai dipegang oleh Ali Khamenei adalah sebatas keterikatan keagamaan sebagaimana orang Katolik terhadap Paus. Karena itulah, Syiah di Indonesia tidak setuju jika negara turut campur dalam mengurusi agama di Indonesia. Justru dengan memahami konsep wilâyah al-faqîh, maka seharusnya akan terkonfirmasi terpisahnya agama dari negara. (tamat) 

(Lengkapnya baca buku SYIAH MENURUT SYIAH karya Tim Ahlulbait Indonesia. Jakarta: DPP ABI, 2014) 

Mon, 3 Jul 2017 @16:42

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved