AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Politik Kuasa Media (by M. Anis)

image

Pagi tadi saat membersihkan koleksi buku-buku saya di rak, tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah buku tipis berwarna merah, yang begitu kontras terjepit di antara kolega-koleganya yang berukuran cukup tebal. Buku itu berjudul Politik Kuasa Media (2009), karya ilmuwan kenamaan Noam Chomsky. Seketika saya ambil buku itu untuk dibaca lagi.

Buku ini menyoroti seputar peran dahsyat media informasi. Di satu sisi, kebebasan pers/media merupakan prasyarat demokrasi. Namun di sisi lain, informasi yang disodorkan oleh media sejatinya merupakan hasil rekonstruksi penulisnya, yang boleh jadi meleset dari fakta sebenarnya, entah sengaja atau tidak. Kenyataan terakhir ini yang ingin disoroti oleh Chomsky, bahwa media informasi juga bisa menjadi alat ampuh dalam perebutan dan bahkan manipulasi makna.  

Legitimasi publik begitu mudah dibentuk melalui pencitraan media informasi. Semakin canggih media informasi ternyata tak selamanya mencerdaskan masyarakat. Luberan informasi justru menjadikan orang kebingungan dan kehilangan kedalaman dalam mencernanya. Sehingga, menghasilkan apa yang disebut oleh Nicholas Carr sebagai "orang-orang dangkal" (the shallows), yang terbiasa menyantap begitu saja informasi instan, termasuk informasi bualan (hoax). 

Hoax telah menjadi semacam bisnis baru dalam segala bidang kehidupan manusia, bahkan hingga menembus ruang sakral keagamaan. Akibatnya, kekacauan masyarakat dan bahkan perang mudah diciptakan, tanpa perlu diawali dengan kekuatan militer, melainkan cukup melalui produksi informasi hoax secara masif. Prahara Suriah adalah contoh sempurna dari manipulasi informasi, termasuk atas nama agama, yang berdampak kehancuran dahsyat di negeri yang sebelumnya makmur tersebut. Negeri kita Indonesia pun tak ketinggalan dalam kekacauan sejenis, dari pembunuhan karakter seseorang hingga upaya pelenyapan eksistensi bangsa. 

Ini pula yang disitir oleh Marshall McLuhan dalam bukunya The Medium is The Massage. Benar, media memang bisa menjadi pijatan (massage) yang nikmat, melalui informasi yang dikemas dengan cara memikat, sehingga mampu membunuh ruang kesadaran seseorang. Orang-orang pun terhanyut dan tersihir, tanpa pernah berupaya memikirkannya dan mempertanyakannya secara kritis. Inilah awal dari kekacauan. 

Kembali ke Chomsky. Ia memberikan contoh konkrit yang menarik. Pada saat Perang Dunia Pertama, rakyat AS merasa tidak ada alasan bagi pemerintahnya untuk terlibat dalam perang tersebut. Tetapi, Wodrow Wilson (Presiden AS saat itu) berkehendak lain. Ia pun membentuk komisi propaganda bernama "Creel Commission", yang melibatkan kalangan intelektual progresif melalui tulisan-tulisan mereka di media. Karenanya, dalam waktu enam bulan, mereka berhasil mengubah populasi anti-perang menjadi histeria masyarakat yang haus perang. Tak cukup di situ, pasca perang pun metode yang sama digunakan lagi untuk membangun ketakutan massa terhadap komunisme.  

Alhasil, setiap menit dan detik kita sedang menyaksikan pertarungan kepentingan di media informasi. Karena itu, alangkah baiknya bila kita merenungkan pesan Al-Quran untuk senantiasa melakukan "tabayun" (sikap kritis) terhadap berbagai informasi yang sampai kepada kita. Karena, sekali lagi, informasi adalah hasil rekonstruksi penyampainya atas suatu realitas; bisa benar, bisa keliru, dan juga bisa bohong. 

Wallahu A'lam.

(M. Anis)

 


Sat, 29 Jul 2017 @19:04

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved