Sayyid Muhammad Husein Fadhlullah: Sastrawan Muslim Memproduksi Sastra Pesimisme

image

Soal: Apakah sastrawan Muslim boleh memproduksi sastra yang menyebabkan pesimisme? Bagaimanakah kalau tidak sengaja?

Jawab: Berkaitan dengan ini, terdapat dua jenis pesimisme yang berbeda. Salah satu jenis sastra pesimisme menggambarkan realitas yang menyoroti permasalahan yang rumit. Permasalahan tentang ketidakmungkinan menemukan segala permasalahan melalui unsur-unsur yang ada saat ini walaupun Sang Khalik segera turun tangan. Literatur semacam ini sejalan dengan penyimpangan intelektual yang mempertanyakan kemahakuasaan Allah. Ayat al-Quran berikut berkenaan dengan ucapan Yakub pada anak-anaknya mengenai ketidakhadiran merupakan contoh dari keadaan di atas, "Wahai anak-anakku! Pergilah dan carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan orang-orang yang kafir" (QS Yusuf: 87).  

Ayat ini menyamakan keputusasaan atas rahmat Allah (yang berarti mengesampingkan segala pemecahan melalui pertolongan Allah) dengan kafir kepada-Nya karena menolak kemahakuasaan-Nya. Oleh karena itu, sastrawan Muslim mesti mengetahui konsep Islam berkenaan dengan Allah, alam raya, kehidupan, dan kemahakuasaan Allah sehingga dia akan memasukkannya dalam kisah-kisah, karya ukir, prosa atau puisi yang isinya menguatkan keimanan.  

Sebaliknya, terdapat pula jenis sastra pesimistik lainnya yang menyatakan kerumitan dan ketidakmungkinan suatu peristiwa yang objektif yang berhubungan dengan sunatullah di alam semesta, manusia, dan sejarah di mana gerakan seni dalam sebuah kisah atau puisi berdasarkan realitas yang objektif. Indikasi yang jelas berkenaan dengan hal ini dapat diketahui dalam teks Al-Quran bahwa Allah SWT menguji manusia dengan rasa takut, lapar dan hilangnya harta, kehidupan, dan buah-buahan. Rujuk misalnya surah al-Baqarah ayat 155 yang berbunyi: “Dan sungguh Kami akan memberi cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” Hal ini mungkin terjadi karena sesuai dengan realitas kehidupan yang ditunjukkan oleh fatalisme dan kebaikan. “Sesungguhnya Allah telah menetapkan ukuran untuk segala sesuatu” (QS ath-Thalaq: 3). “Telah Nampak kerusakan di daratan dan di lautan yang diakibatkan Oleh perbuatan tangan manusia” (QS Ar-Rum: 41). “Dan Allah telah membuat perumpamaan: (bayangkan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat Allah; karena itu Allah menimpakan kepada mereka kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat” (QS an-Nahl: 112).

Ayat ini dan lainnya menunjukkan akibat buruk dari perkembangan pada gerakan manusia yang sesungguhnya merupakan hasil sebab musabab yang berkaitan dengan kemauan dan pilihannya atau realitas objektif yang ada.

Tetapi sastrawan Muslim mesti menekankan sisi baik dari gambaran tersebut dalam puisi-puisi dan prosa-prosanya dengan cara menggambarkan perintah Allah tentang keberadaan dan karunia serta rahmat-Nya bagi manusia. Allah memberi manusia solusi di saat yang kritis dan memberi rezeki dari sumber yang tak terkirakan, serta membimbingnya dalam suatu situasi yang kacau. Apabila dia bergantung pada Allah, maka dia akan selainat dari malapetaka, dimudahkan rezekinya dan diberi kemudahan setelah mengalami kesulitan. Jadi gambaran ini menekankan optimisme dan menyingkirkan pesimisme karena Nabi Muhammad saw juga bersikap optimistik. 

Realitas pada suatu waktu bisa menjadi gelap disebabkan pemikiran umum dan khusus. Karena itu, Islam mesti berperan menunjukkan realitas yang benar yang dapat dibandingkan dengan cahaya-cahaya yang tersebar di langit (planet-planet), menunjukkan cahaya yang ditunggu-tunggu alam raya yang berasal dari cahaya matahari di tengah kegelapan. 

Keseimbangan Islam menguatkan keyakinan bahwa harapan yang besar pada Allah SWT tidak boleh menjauh dari orang yang beriman. Pemikiran yang terhalangi yang ada dihadapannya mesti dianggap hanya tahapan yang singkat dan sementara yang akan tersingkap atas kehendak Allah di masa akan datang. Hal inilah yang membuat pengalaman sastra menjadi elemen pendorong kepada Allah melalui cerita, gagasan, atau puisi yang selaras. Karena itu pula sastrawan akan menyeru pada Allah Swt dalam gaya sastra yang khusus. []

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)


Tue, 15 Aug 2017 @09:45

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved