Puisi Cinta dan Perbuatan Syirik

image

Soal: Dalam puisi cinta, secara khusus, terdapat beberapa istilah yang deskriptif yang menaikkan pecinta pada tingkat penyembahan. Bagaimana pendapat Anda mengenai tipe deskriptif ini?

Jawab: Pada tingkat ekspresif, hal ini tidak dibolehkan karena Allah Swt menginginkan manusia percaya pada keesaan Allah baik berkenaan dengan muatan intelektual ataupun gaya yang ekspresif di mana ungkapannya tidak bertentangan dengan konsep tauhid, kendati pun tidak dimaksudkan menyekutukan sesuatu pun dengan Allah. Dalam tafsirnya menyangkut ayat: Dan kebanyakan dari mereka tidak beriman kepada Allah tanpa dengan menyekutukan yang lain kepada-Nya, Imam Jafar ash-Shadiq as berkata: "Ayat ini berarti, ‘Aku akan mati dan keluargaku akan tersesat apabila orang ini atau orang itu tidak berada di sana,' maka dia menyekutukan sesuatu dengan Allah yang memberinya sarana kehidupan dan melindunginya dari bahaya. Alih-alih berucap demikian, seyogyanya dia mengatakan, 'Aku akan mati apabila Allah tidak mengutus seseorang untuk menolong saya.'

Selain itu, Zurarah mengutip dari Imam Jafar as tatkala berkata, "Aku bertanya pada Imam Muhammad al-Baqir as tentang makna ayat al-Qur'an berikut: Dan kebanyakan dari mereka tidak beriman kepada Allah tanpa menyekutukan yang lain kepada-Nya. Dia mengatakan kepada saya bahwa hal ini terjadi tatkala seseorang berkata (misalnya): 'Aku bersumpah demi nyawamu.'

Di tempat ini, kita mengetahui bahwa ekspresi-ekspresi yang menunjukkan politeisme (kemusyrikan) ditolak dalam Al-Quran sekali pun tidak dimaksudkan seperti itu. Jadi, ibadah yang ditujukan pada selain Allah dengan cara membesar-besarkan selain Allah tidak sesuai dengan kemurnian Islam. Mungkin hal ini berdasarkan pada suatu fakta bahwa orang-orang terbiasa pada ungkapan-ungkapan yang menjadi terpatri dalam mental-mental para penyembah berhala. Boleh jadi budaya mereka dipengaruhi oleh ungkapan-ungkapan semacam itu disebabkan familiaritas yang ekspresif, di mana secara tak sadar mereka mengadopsi cara penyembah berhala. Karena itu, penyair dan sastrawan Muslim mesti meninggalkan cara ini.

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)

Mon, 28 Aug 2017 @09:41

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved