Rubrik
Terbaru
PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Bagi yang ingin buku bacaan ISLAM silakan tulis nama, alamat, dan nomor WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Syiah Sesat Karena Tidak Membasuh Kaki Saat Wudhu? (Bantahan untuk Salafi)

image

Beberapa hari lalu di perjalanan ke bandara saya baca artikel tentang wudhu Syiah di website Salafi (https://muslim.or.id/21315-penganut-syiah-tidak-membasuh-kaki-ketika-wudhu.html). Penulis berinisial MAM, bergelar Lc. Dia seperti Sunni-Salafi.

Di antara inti tulisannya yang saya tangkap: wudhu Syiah salah karena tidak membasuh kaki tapi mengusapnya, dan itu diklaim bertentangan dengan ayat al-Qur‘an, hadits-hadits, dan ijma’. Sebenarnya klaim ijma’ atas membasuh kaki tidak didukung oleh atsar dari sebagian salaf. Penulis juga mengklaim mengusap hanya dilakukan Ahlussunnah saat kaki tertutup oleh khuf. Lebih mengherankan artikel itu seakan-akan menafikan teks-teks shahih dari kitab-kitab Sunni yang mendukung amalan Syi‘ah (mengusap kaki).

Menyingkap Kecerobohan Penulis
Penulis, dengan mengutip Ibnu Katsir, menuduh Syi‘ah tidak memiliki satu pun dalil shahih tentang soal ini. Dia juga menganggap Syi‘ah menyelisih umat Islam tanpa landasan apa-apa. Masa sih Mas? Sepertinya sampeyan ceroboh dan kurang teliti.

Dalam kitab Musnad Ahmad, juz 2 halaman 295, hadits no. 1013 dari Imam ‘Ali as:

كنت أرى أن باطن القدمين أحق بالمسح من ظاهرهما حتى رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يمسح على ظاهرهما

“Aku mengira bagian bawah kedua kaki lebih berhak untuk diusap ketimbang bagian atasnya, hingga aku melihat Rasulullah Saww MENGUSAP bagian atas keduanya”.

Muhaqqiq Syaikh Syu‘aib al-Arnauth menilai di footnote. 1:

حديث صحح
“Hadits shahih”.

Masih di halaman sama, no. 1015 dari ‘Abdu Khair:
رأيت عليا توضأ فمسح ظهورهما

“Aku melihat ‘Ali berwudhu MENGUSAP bagian atas dua kakinya”

Muhaqqiq menilai di footnote no. 3:
إسناده صحيح
“Sanadnya shahih”.

Tuh, ternyata amalan wudhu Syi‘ah sama dengan Rasulullah Saww dan Imam ‘Ali as. Eeits belum selesai, tambah lagi ya. Dalam kitab Sunan Ibnu Majah, jilid 1 halaman 376, hadits no. 460:

إنها لا تتم صلاة لأحد حتى يسبغ الوضوء كما أمره الله تعالى، يغسل وجهه ويديه إلى المرفقين ويمسح برأسه ورجليه إلى الكعبين

“Sesungguhnya TIDAK SEMPURNA shalat seseorang hingga ia menyempurnakan wudhu(nya) sebagaimana yang Allah Ta‘ala perintahkan, (yaitu) membasuh wajah dan tangannya hingga kedua siku, dan MENGUSAP kepala dan kakinya hingga kedua mata kaki”.

Muhaqqiq Syaikh Basyar ‘Awad Ma‘ruf berkomentar di footnote hadits no. 460:

إسناده صحيح
“Sanadnya shahih”

Hadits riwayat Ibnu Majah itu dishahihkan juga idola Salafi, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, dalam kitab Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, juz 1 halaman 208, hadits no. 223.

Dalam kitab Sunan ad-Darimi, juz 2 halaman 839-840, hadits no. 1368:


إِنَّهَا لَا تَتِمُّ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ حَتَّى يُسْبِغَ الْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَيَغْسِلُ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ، وَيَمْسَحُ بِرَأْسِهِ، وَرِجْلَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Sesungguhnya TIDAK SEMPURNA shalat seorang dari kalian hingga ia menyempurnakan wudhu sebagaimana yang Allah ‘Azza wa Jalla perintahkan. Ia membasuh wajah dan kedua tangannya hingga kedua siku, MENGUSAP kepala dan kedua kakinya hingga kedua mata kaki...”

Syaikh Husain Asad ad-Darani di footnote no. 2 menilai:
إسناده صحيح
“Sanadnya shahih".

Kekeliruan pertama terbukti. Klaim penulis tidak sesuai data valid. Ternyata ada hadits-hadits shahih mendukung amalan Syi‘ah di kitab-kitab Sunni. Apalagi kitab-kitab yang disebutkan itu kategori kutubut-tis‘ah (sembilan kitab hadits utama). Sekaligus membuktikan kekeliruan bahwa mengusap hanya dilakukan jika kaki tertutup khuf.

Hadits-hadits tersebut (dapat sekaligus) berlanjut menunjukkan kekeliruan kedua penulis yaitu klaim ijma’ membasuh. Insya Allah ada baiknya kita lihat pandangan salaf yang lain. Dalam kitab Tafsir al-Kabir aw Mafatih al-Ghayb, juz 11 halaman 164, masalah 38, Fakhruddin ar-Razi mengakui begini:

اختلف الناس في مسح الرجلين وفي غسلهما، فنقل القفال في تفسيره عن ابن عباس وأنس بن مالك وعكرمة والشعبي وأبي جعفر محمد بن علي الباقر: إن الواجب فيهما المسح، وهو مذهب الإمامية من الشيعة.

“Orang-orang berbeda pendapat tentang mengusap dua kaki dan membasuh keduanya. Al-Qaffal menukil dalam tafsirnya dari Ibnu ‘Abbas, Anas bin Malik, ‘Ikrimah, asy-Sya‘biy, dan Abi Ja‘far Muhammad bin ‘Ali al-Baqir bahwa yang WAJIB mengenai kedua kaki (saat wudhu) adalah MENGUSAP. Itulah pendapat Syi‘ah Imamiyyah."

Lihat ar-Razi menyebut Imam Muhammad al-Baqir as berpendapat wajib mengusap. Ini menunjukkan amalan Syi‘ah sesuai tuntunan ‘itrah Ahlul Bayt as. Tidak seperti yang dituduhkan pembenci Syi‘ah bahwa Syi‘ah berdusta atas nama imam-imam Ahlul Bayt as. Lalu ar-Razi mengakui mayoritas fuqaha’ dan mufassir berpendapat membasuh. Namun tetap hal itu tidak menafikan bahwa sebagian salaf berpendapat wajib mengusap.

Mengenai ayat wudhu (QS. Al-Maidah:6), Ibnu Mujahid menyebutkan perbedaan qira‘at untuk kata أرجلكم (kakimu). Dalam kitabnya as-Sab‘ah fi al-Qira‘at, halaman 242-243, tercatat yang membaca dengan nashab “arjulakum” (bukan arjulikum) ialah Nafi’, Ibnu ‘Amir, Kisa‘i, dan ‘Ashim-riwayat Hafsh.

Ada pun yang membaca dengan jarr “arjulikum” (bukan arjulakum) ialah Ibnu Katsir, Hamzah, Abu ‘Amr, dan ‘Ashim-riwayat Abu Bakr. Perbedaan ini diakui juga ar-Razi dalam kitab tafsirnya. Dua versi bacaan masing-masing ada implikasinya: membasuh atau mengusap. Ar-Razi berkomentar mengenai bacaan “arjulikum”:


أما القراءة بالجر فهي نقتضي كون الأرجل معطوفة على الرؤوس، فكما وجب المسح في الرأس فكذلك في الأرجل

“Adapun bacaan dengan jarr menuntut keberadaan arjul (kaki) di‘athafkan kepada ru‘us (kepala). Maka sebagaimana wajib mengusap kepala, demikian pula wajib mengusap kaki”.

Begitu pula dengan sahabat dan tabi‘in terkenal ada yang membaca “arjulikum”. Mereka mengusap sama seperti Syi‘ah. Kutipan ar-Razi yang menyebut Anas bin Malik dan asy-Sya‘bi mengusap itu benar. Buktinya dalam kitab Sunan Sa‘id bin Manshur, jilid 4, halaman 1444, no. 718:
عن أنس أنه قرأ: وأرجلِكم
Dari Anas bahwa ia membaca: “Wa arjulikum”
Lalu di halaman 1446, no. 720:
عن الشعبي أنه كان يقرأ: وأرجلِكم
Dari asy-Sya‘biy bahwa ia membaca: “Wa arjulikum”
Muhaqqiq Syaikh Sa‘d bin ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Aalu Humayd menilai dua atsar itu sanadnya shahih.

Perbedaan pendapat di kalangan salaf dan perbedaan qira‘at tersebut menunjukkan kekeliruan klaim ijma’ atas praktik membasuh kaki. Wahai penulis, janganlah mencela Syi‘ah dengan klaim ini dan itu padahal engkau sendiri belum teliti lebih jauh di kitab-kitab Sunni sendiri ternyata sebagiannya menopang amalan Syi‘ah.

Selalu perbanyak bersholawat dan istighfar! Doa terbaik untuk semua yang dizhalimi. Khususnya saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Yaman, dan Afrika.[]

Referensi

Ahmad bin Hanbal, Musnad, juz 2 halaman 295, no. 1013 dan 1015, tahqiq: Syu‘aib al-Arnauth (cetakan Muassasah ar-Risalah, 1420 H/1999 M).

Muhammad bin Yazid al-Qazwiniy Ibnu Majah, Sunan, jilid 1 halaman 376, hadits no. 460, tahqiq: Basyar ‘Awad Ma‘ruf (cetakan Dar al-Jiyl, 1418 H/1998 M).

Muhammad Nashiruddin al-Albani, Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, juz 1 halaman 208, hadits no. 223 (cetakan Maktabah al-Ma‘arif, 1421 H/2000 M).

Abdullah bin ‘Abdurrahman bin al-Fadhl bin Bahram ad-Darimi, Sunan, juz 2, halaman 839-840, hadits no. 1368, tahqiq: Husain Salim Asad ad-Darani (cetakan Dar al-Mughni, 1421 H/2000 M).

Fakhruddin ar-Razi, Tafsir al-Kabir aw Mafatih al-Ghayb, juz 11 halaman 164 (cetakan Dar al-Fikr, 1401 H/1981 M).

Ibnu Mujahid, as-Sab‘ah fi al-Qira‘at, halaman 242-243, tahqiq: Syauqi Dhayf (cetakan Dar al-Ma‘arif, t.th.).

Sa‘id bin Manshur, Sunan, jilid 4 halaman 1444 dan 1446, atsar no. 718 dan 720, tahqiq: Sa‘d bin ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Aalu Humayd (cetakan Dar al-Shama‘iy, 1414 H/1993 M).

(Ditulis oleh MUHAMMAD BHAGAS, peminat kajian Sunni Syiah)

Mon, 28 Aug 2017 @20:07

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved