Rubrik
Terbaru
FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

BERBAGI BUKU

Bagi yang ingin buku bacaan ISLAM silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp yang aktif pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Mencemarkan Nama Baik

image

Soal: Apakah batasan puisi satire, umpatan, sindiran, dan hinaan?

Jawab: Mencemarkan nama baik seorang mukmin dengan cara menyebutkan satu persatu cacatnya, dengan cara mengisolasi, mencerca atau mengumpatnya tidak dibolehkan karena akan merusak harga dirinya dan memancing fitnah, pencemaran nama baik, kehinaan, dan aib yang dilarang oleh al-Qur'an dan Sunah. Al-Qur 'an al-Karim menyatakan ketidaksahan fitnah dan pencemaran nama baik dalam beberapa ayat seperti: Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela (QS al-Humazah: l).

Sebaliknya, apabila sindiran dan hinaan sesuai dengan realitas orang yang disindir dan dihina, maka hal ini dinilai fitnah, penyebaran aib, cercaan, penghinaan yang juga tidak sah (haram). Tetapi apabila informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan realitas maka akan dinilai sebagai kebohongan, fitnah, penghinaan, dan penindasan yang juga haram. Tetapi dibolehkan menyindir orang-orang yang layak disindir, misalnya penindas, pembid'ah dan penyimpang dalam rangka memerangi perbuatan tersebut dan mencegah mereka dari pengaruh buruk karena tindakannya yang menyimpang. Jika tidak demikian, haram memburuk-burukkan orang lain yang tidak layak mendapat tuduhan tersebut walaupun mereka berbeda dalam hal agama atau yang mereka anut atau mereka menunjukkan hormat pada secara personal karena tindakan ini dinilai penindasan seperti yang difirmankan oleh Allah SWT: “Dan janganlah kebencian pada seseorang mendorong untuk bertindak secara tidak adil, berlaku adillah sebab hal itu lebih dekat pada takwa” (QS al-Maidah: 8).

Selain itu hadis juga menyampaikan konsep yang sama dalam melukiskan orang mukmin: "Kemarahan orang yang beriman tidak pernah menghalanginya dalam mengatakan kebenaran.” Do'a Imam Ali bin Husain (Zainal Abidin) menyatakan hal yang sama: "Ya Allah berilah aku pengawal dalam melawan kesesatan dan perisai dalam menghadang dosa, baik pada saat lapang ataupun buruk sehingga aku tetap taat kepada-Mu dan lebih menyukai keridhaan-Mu daripada para penyokong, dan musuh tatkala aku diuji, sehingga musuhku akan merasa aman dari ketidakadilanku dan para pendukungku akan berputus asa dalam melihat kecenderungan dan cara perubahan sikapku yang tidak jelas.”

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)


Wed, 30 Aug 2017 @09:14

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved