Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah: Makna Anak dalam Islam

image

Tanya: Menurut Islam, istilah anak-anak diperuntukkan untuk siapa? 

Jawab: Jika kita merujuk pada ketetapan-ketetapan (nash) Islam, kita akan dapati kata anak-anak (al-thiff) digunakan dalam beberapa hukum syariat. Misal, al-Quran menggunakan kata anak-anak (al-thiff) saat berbicara tentang pengecualian diperbolehkannya memandang wanita. Atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita (QS al-Nür: 31). Dapat kita pahami dari ayat ini bahwa anak-anak adalah orang yang belum mencapai masa akil baligh; orang yang belum mengerti tentang sisi-sisi seksual (seseorang) dan insting seksualnya sendiri belum bangkit, baik secara fisik atau pun pemikiran. Perlu kita ketahui, ayat di atas tidak membatasi pengertian tentang anak-anak. 

Sekaitan dengan ini, terdapat beberapa riwayat yang menggunakan ungkapan al-shabiy dan al-shabiyah. Misal, “Pena” (pencatat amal perbuatan manusia) tidak digunakan terhadap anak kecil hingga dia mencapai masa baligh. Maksudnya, terhadap anak yang belum baligh, yaitu anak yang sisi seksualnya belum matang. Allah Swt berfirman: Dan ujilah anak yatim itu hingga mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian, jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya (QS al-Nisa': 6).

Dalam firman Allah ini dijelaskan tentang kondisi sebelum baligh dan setelahnya. Kita lihat di sini, hukum syariat menghapus otoritas (wilayah) dalam penjagaan harta atas anak-anak; dia berhak mengelola sendiri hartanya setelah dia keluar dari masa kanak-kanaknya. Ya, dia dianggap mampu mengelola sendiri hartanya, dengan syarat, dia telah mencapai tahap kecerdasan dalam pemeliharaan harta tersebut dan memiliki kemampuan untuk mengaturnya; tak seorang pun menjadi wali atasnya. 

Boleh jadi, seseorang menjadi dewasa pada usia 15 tahun, tetapi terkadang belum juga dewasa di usianya yang telah 20 tahun. Kematangan berpikir merupakan sebuah proses sulit yang menjelaskan tentang sejauh mana perkembangan pandangan seseorang atas kenyataan hidup, sehingga mampu bersikap secara berimbang dan rasional.

Kadangkala, kita mendapati seorang anak yang telah banyak memiliki pengalaman hidup, sementara dia sendiri belum mencapai usia baligh. Pemikirannya sangat matang ketimbang orang-orang yang berusia lebih tua darinya. [] 

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Dunia Anak: Memahami Perasaan dan Pikiran Anak Muda. Bogor: Penerbit Cahaya, 2004)


Mon, 4 Sep 2017 @10:29

AUDIO MISYKAT

BAHAN BACAAN
FACEBOOK MISYKAT
BERBAGI BUKU

 Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp pada KONTAK

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved