Menyiapkan Masa Taklif untuk Anak

image

Tanya: Taklif berdasarkan hukum-hukum syariat merupakan tahap utama dari kehidupan manusia. Akan tetapi, kita melihat bahwa pada umumnya keluarga tidak memberikan perhatian yang semestinya pada tahap taklif ini. Mengapa? 

Tawab: Sebenarnya, pengabaian ini adalah masalah kesadaran. Terdapat sebuah perasaan di kalangan ayah dan ibu bahwa dunia kebapakan dan keibuan adalah dunia yang berhubungan dengan jasad, bukan ruh; berhubungan dengan dunia, bukan akhirat. Sementara, kita tahu bahwa al-Quran menekankan poin ini dalam firman Allah: “Dan peintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalarn mengerjakannya” (QS Thaha: 132). 

Dan firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS al-Tahrim: 6).

Pendidikan mendorong manusia untuk mempersiapkan anaknya agar menjadi muslim atau muslimah yang menjalankan perintah Allah, hanya berharap kepada-Nya, dan takut kepada-Nya dalam semua urusannya, sehingga dia hidup sebagai hamba-Nya, makhluk-Nya, dan manusia yang bertanggung jawab di hadapan-Nya, dengan berusaha sungguh-sungguh menuju kepada-Nya. Allah Swt berfirman:

“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu; maka pasti kamu akan menemui-Nya” (QS al-lnsyiqaq: 6).

“Dia mengharap kebaikan dari Allah, saat melakukan kebaikan dan tatkala meninggalkan keburukan. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula” (QS al-Zalzalah: 7-8).

Atas dasar ini, Islam memerintahkan kepada para keluarga untuk mendidik anak, baik laki-laki atau perempuan, agar menjalankan kewajiban agamanya sebelum tiba masa taklifi-nya. Hendaknya, keluarga membimbing anak-anak untuk mengerjakan shalat sebelum masa aqil baligh tiba, dan membiasakan mereka melakukan puasa, meski secara bertahap, sebelum masa baligh tersebut. Juga mencegah mereka dari perbuatan-perbuatan haram yang seandainya itu dilakukan akan menjadi kebiasaan hingga masa sesudah baligh nanti. 

Benar, Islam sangat memperhatikan masalah kesiapan anak untuk memasuki masa baligh-nya. Sebab memikulkan beban tanggung jawab secara mendadak akan membuat anak menolak tanggung jawab tersebut dan tidak bersedia memikulnya. [] 

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Dunia Anak: Memahami Perasaan dan Pikiran Anak Muda. Bogor: Penerbit Cahaya, 2004)


Tue, 5 Sep 2017 @14:31

AUDIO MISYKAT

BAHAN BACAAN
FACEBOOK MISYKAT
BERBAGI BUKU

 Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp pada KONTAK

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved