Mengukur Kesuksesan Manusia

image

SAYA percaya setiap manusia punya masalah. Ada yang cepat dan mampu selesaikan; ada pula yang memerlukan waktu panjang. 

Muara dari masalah manusia adalah hidup dan kehidupan. Salah satunya terkait dengan kata SUKSES. Dari interaksi dengan keluarga dan teman, ternyata SUKSES diukur dengan materi. Orang akan disebut sukses dalam karier jika naik jabatan kemudian gaji di atas UMR(upah minimum regional).

Dikatakan sukses pula jika mampu memiliki kendaraan mobil terbaru dan memiliki rumah baru yang dibeli dengan uang hasil kerjanya. Ujung dari sukses adalah meraih bahagia. Dan memang capaian hidup manusia ada pada kata “bahagia". Namun, ukuran bahagia bisa berbeda setiap orang. 

Kembali pada sukses yang berkaitan dengan materi (harta/kekayaan) memang menjadi "kebenaran" umum di masyarakat. (Mohon maaf saya belum riset, tapi itu mungkin bisa dikatakan anggapan saya). Tentang materi sebagai ukuran sukses, tampaknya (menurut saya) tidak menjadi satu-satunya capaian kriteria bahagia. Sebab banyak orang yang kaya dengan harta ternyata tidak berhenti mengumpul harta, bahkan sampai melakukan hal negatif. Dengan harta menjadi rakus. Orang rakus tidak bahagia karena ingin terus menghimpun sebanyak-banyaknya.

Orang yang memiliki rumah mewah atau sederhana suatu saat akan hilang akibat kebakaran atau keluarga yang berebut kepemilikan. Orang yang punya kendaraan mewah pun akan hilang dicuri atau dijual. 

Atau yang kaya raya pun ada yang tidak menikmati hartanya. Ada orang yang hanya untuk makan nasi saja harus ditentukan dengan takaran gram. Ada yang tak boleh konsumsi gula atau daging. Bahkan ada yang tak bisa nikmati hidup di rumah mewahnya karena harus keliling kota untuk urusan usahanya atau ikhtiar untuk kemajuan perusahaan sehingga harus banyak di luar rumah mewahnya. 

Seorang cendekiawan Arab (saya lupa namanya) pernah menyatakan: harta akan terus menggerakkan si pencari harta untuk terus mengejar, memuja, dan menghimpun tanpa batas. Andai usia manusia tidak dibatasi kematian maka akan terus dikejarnya harta. Dan harta itu harus dijaganya setelah dihimpun dengan susah payah.

Seorang dosen sebuah universitas Islam di Bandung pernah berkata kepada saya: sekarang yang berkuasa itu duit! Untuk apa pun di dunia ini duit dibutuhkan. Saya tersenyum. Dosen itu mengatakan bahwa untuk ilmu pun pakai duit tidak cukup dengan ingin saja.

Ah, mungkin ada benarnya. Tapi itu bukan yang hakiki dalam kehidupan manusia. Bukankah agama mengajarkan: yang lebih baik dari seluruh manusia adalah yang paling manfaat bagi manusia lainnya. Apakah untuk manfaat pun harus gunakan harta: duit? Kalau saya tidak mesti. Tanpa harta pun manusia masih bisa punya manfaat dan dapat bermanfaat bagi manusia lainnya jika ia memang punya kehendak. Tanpa kehendak dari diri sendiri maka meski ada harta pun pasti tak akan ada manfaat bagi yang lain. 

Saya sepakat ada kebutuhan dasar hidup yang mesti dipenuhi. Tapi itu hanya sekadar untuk memenuhi bukan sebagai tujuan. Dan para Nabi pun mengajarkan kepada umatnya untuk mementingkan yang utama dari yang bukan utama. Apa itu yang utama? Berada dalam jalan Ilahi dengan melebihkan kesiapan untuk kehidupan pascakematian. Bekal. Nah ini poin penting dalam hidup sehingga arah dan jalan kehidupan dunia diarahkan pada bekal setelah mati. Dan teladan Nabi saw nyata dari episode hidupnya lebih banyak diarahkan pada akhirat (menuju pada jalan Ilahi) dan kemanfaatan bagi manusia. Pernah saya baca bagaimana Nabi saw pernah kelaparan, kurang harta, dan setara dengan kehidupan kaum dhuafa. Saya percaya bisa saja Nabi saw meminta kepada Allah untuk hidup makmur dengan harta kekayaan. Namun itu tidak dipilih atau diinginkan. Ada yang lebih utama dan lebih baik. Ada yang hakiki sekadar berurusan dengan materi dan label sukses.

Bacalah Alquran surah Albaqarah ayat 155-157. Disebutkan bahwa sedikitnya harta yang dimiliki, kelaparan, musibah yang akibatkan hilangnya jiwa (mati), dan kurang buah-buahan; adalah UJIAN bagi manusia. Dari ujian itu yang menang dan layak gembira adalah yang sabar sekaligus menerima ketetapan Allah dengan penuh pasrah kepada-Nya. Manusia yang sanggup dan mampu sabar kemudian pasrah maka ia akan dapat "shalawat" dan "rahmat" dari-Nya. Inilah capaian hidup dan kesuksesan versi-Nya. Manusia yang dicipta-Nya sudah diberi panduan untuk jalani hidup melalui kitab-Nya. Jika kita menggunakan kitab-Nya (dengan pemahaman yang sesuai kehendak-Nya) berarti berada dalam jalan para Nabi. Dan inilah yang hakiki (berdasarkan yang saya pahami). Bisakah dijalani? 

07-09-2017

@lenyepaneun

 

Fri, 8 Sep 2017 @08:47

AUDIO MISYKAT

BAHAN BACAAN
FACEBOOK MISYKAT
BERBAGI BUKU

 Silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp pada KONTAK

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved