Rubrik
Terbaru
FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

BERBAGI BUKU

Bagi yang ingin buku bacaan ISLAM silakan tulis nama, alamat lengkap, dan nomor WhatsApp yang aktif pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Bolehkah Wanita Berkonsultasi kepada Ginekolog Laki-laki?

image

Soal: Apakah seorang wanita boleh berkonsultasi pada ginekolog laki-laki yang lebih berpengalaman dan lebih berpengetahuan daripada ginekolog wanita yang ada? 


Jawab: Jika ginekolog laki-laki dan wanita sama-sama berkualitas dalam hal pengobatan, maka sang wanita tersebut tidak boleh menyingkapkan badannya pada dokter laki-laki. Namun apabila dokter laki-laki lebih lembut dan berpengalaman dalam merawat daripada dokter wanita karena peralatan medisnya yang tinggi atau caranya yang lembut—khususnya apabila wanita tersebut takut apabila dirawat oleh dokter wanita—maka wanita ini dibolehkan berkonsultasi kepada dokter laki-laki walaupun ada dokter wanita.

Hal telah dinyatakan oleh hadis berkenaan dengan permasalahan ini yang memberi wewenang kepada para wanita untuk diperiksa oleh seorang dokter laki-laki apabila ia lebih lembut dan berpengalaman dalam merawat.

Hal ini pun juga dibahas oleh Imam Muhammad al-Baqir as seperti diriwayatkan oleh Abu Hamzah ats-Tsumali yang berkata: "Aku bertanya kepada Imam, 'Apakah seorang dokter laki-laki yang lebih lembut dalam merawat wanita daripada dokter wanita dapat memeriksa badan wanita Muslimah yang menderita cacat misalnya retak dan Iuka di bagian badan yang tabu.' Imam as menjawab: 'Bolehlah dalam kondisi dokter laki-laki amat diperlukan.”

Syahid ats-Tsani (nama lengkapnya Zainuddin al-Amili al-Jaba'i; seorang faqih terkenal abad ke-8 H yang dieksekusi di Istanbul, Turki, pada 966/1558 M.) mengutip riwayat ini dan riwayat lainnya untuk menyimpulkan bahwa orang yang sakit secara rasional mencari perawat yang paling lembut dan paling berpengalaman untuk menghindari bahaya, maka perkara ini dibolehkan. [] 

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)


Tue, 12 Sep 2017 @12:05

Copyright © 2017 Misykat · All Rights Reserved