Rubrik
Terbaru
PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Silakan tulis nama, alamat, dan WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Di Sangiang, Memperingati Haul Cucu Rasulullah saw

image

Tanggal 10 Muharram merupakan hari bersejarah. Dalam sejarah hari tersebut disebut Asyura. Pada hari Asyura itu cucu Rasulullah Saw yang bernama Sayyidina Husain ra beserta keluarganya dizalimi atas perintah Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan, penguasa Dinasti Umayyah. Puluhan ribu pasukan yang dipimpin oleh Ubaidillah bin Ziyad dan Umar bin Saad membantai rombongan Sayyidina Husain beserta keluarganya.

Kepala cucu Nabi Muhammad saw beserta pengikut setianya dipenggal dan ditusuk dengan tombak. Tubuh cucu Nabi itu diinjak dengan kuda, disabet dengan pedang, dan dibiarkan tergeletak di tanah Karbala (Iraq) beserta tubuh yang lainnya. Kaum wanita yang berada dalam tenda (yang merupakan keluarga Sayyidina Husain ra) dirantai dan digiring dari Karbala menuju Damaskus. Selajutnya kepala-kepala yang ditombak dan rombongan yang digiring dibawa ke istana Dinasti Umayyah di Damaskus (Suriah).

Diceritakan bahwa Yazid gembira dengan kehadiran kepala dan rombongan tersebut. Dihadapan orang-orang, Yazid mempermainkan kepala Sayyidina Husain ra dengan tongkat. Mengolok dan menghardik kaum wanita dari keluarga Rasulullah saw.

Setelah puas dengan perilakunya, seorang putra Sayyidina Husain ra yang sakit dan selamat dari pembantaian, yaitu Ali Zainal Abidin, dipersilakan untuk membawa kaum wanita pergi dari istana. Dari Damaskus itu Ali Zainal Abidin bersama rombongan kembali ke Karbala dan menyatukan kepala ayahnya (Sayyidina Husain ra) dengan tubuh ayahnya. Pengikut setianya yang sudah berpisah kepala dan tubuh pun disatukan kembali kemudian dikuburkan di Karbala. Sahabat Nabi Muhammad Saw yang bernama Jabir Anshari pun berada di Karbala yang datang sengaja dari Madinah. Dari Karbala rombongan yang dipimpin oleh Ali Zainal Abidin bergerak menuju Madinah. Demikian peristiwa tragis di Karbala yang menimpa keluarga Nabi Muhammad Saw, yang kini setiap 10 Muharram dikenang oleh kaum Muslimin Syiah yang disebut pengikut Ahlulbait.

Di dunia berbagai bentuk peringatan syahid Sayyidina Husain ra bermunculan. Di Indonesia dalam bentuk budaya berupa pembagian bubur merah dan bubur putih. Dan kini sudah memiliki kemiripan dengan peringatan di Timur Tengah. Bedanya hanya tidak ada aksi menyikiti tubuh dan memang sudah dilarang oleh para ulama Syiah agar tidak melakukan tindakan ekstrem saat mengenang Sayyidina Husain ra pada 10 Muharram. Menariknya, momentum mengenang cucu Rasulullah Saw itu dilarang oleh segelintir orang melalui demonstrasi dengan teriakan takbir.

Haul Cucu Rasulullah saw

Mengenang wafat cucu Rasulullah saw ini dalam masyarakat Muslim tradisional Indonesia disebut haul. Bentuknya ada tabligh akbar, shalawat bersama-sama, menyimak kisah tragis keluarga Rasulullah saw di Karbala, membaca doa ziarah dan membaca Al-Quran surah Yaasin beserta tahlilan serta berbagi sembako atau makanan dengan kaum miskin dan mustadhafin. Itulah yang saya saksikan di Desa Sangiang, Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Indonesia, pada Minggu, 1 Oktober 2017.  Acara mulai jam 13.00 hingga 17.00. 

Yang menarik dari sebelum ceramah, peserta yang hadir mengumandangkan lagu Indonesia Raya dan melafalkan teks Pancasila serta sambutan dari kepala desa dan tokoh masyarakat.  

Ceramah Asyura disampaikan oleh Dr Jalaluddin Rakhmat, yang biasa disapa Kang Jalal. Seorang tokoh IJABI (Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia) yang juga anggota DPR RI. Kang Jalal menyampaikan tentang seorang miskin yang setiap dapat uang, sepertiganya disisihkan untuk membeli tanah untuk kegiatan khidmat pada Sayyidina Husain ra. Ia menyimpan uang  dan setelah cukup kemudian membeli tanah dan dibangunlah sebuah gedung. Di sana diadakan acara kegiatan keagamaan. Orang yang beli tanah dan membangun gedung itu wafat, tetapi orang-orang di Irak mengenangnya.

"Kebaikan seseorang akan dikenang, diingat, dan tentu membawa manfaat bagi orang lain," ujarnya.

Masih dalam ceramahnya, Kang Jalal mengisahkan Rasulullah Saw pernah menangisi wafatnya seorang anak kecil, menangisi wafatnya Hamzah bin Abdul Muthalib ra yang dimutilasi dalam perang Uhud oleh Hindun dari pihak kafir Quraisy Makkah, dan  menangisi Ja'far bin Abi Thalib ra yang dicincang tubuhnya saat perang mu'tah. Bahkan, Rasulullah saw pun menyuruh para sahabat untuk menangisinya. Diceritakan juga Rasulullah Saw suatu hari saat ziarah ke makam ibunya dan menangis di depan makam. Rasulullah Saw juga menangisi bibinya saat wafat: Fatimah binti Asad, istri dari Abu Thalib ra (paman Rasulullah Saw). Menyebutkan pula Rasulullah saw menangis saat menggendong cucunya (Sayyidina Husain as) karena dikabarkan oleh malaikat Jibril bahwa kelak cucunya akan dipenggal dan dibantai keluarganya di Karbala. Sehingga menangisi Sayyidina Husain ra pada hari wafatnya dicontohkan oleh Rasulullah saw. Orang yang cinta Rasulullah saw pasti akan bahagia dengan kebahagiaan Rasulullah saw dan tentu akan bersedih dengan derita atau duka yang menimpa Rasulullah saw. Dalam hal ini, duka atas wafat Sayyidina Husain ra pada tanggal 10 Muharram tahun 61 Hijriah.

Selesai ceramah dilanjutkan dengan teater yang mengisahkan istri Rasulullah saw yang bernama Ummu Salamah yang mengetahui hari wafat Sayyidina Husain ra meski berada di Madinah, sahabat Maytsam At-Tamar yang meriwayatkan hadis kemudian berakhir dibunuh oleh pasukan Yazid dan Mukhtar Tsaqafi yang diceritakan melakukan gerakan “balas dendam” atas pembantaian Sayyidina Husain ra beserta pengikutnya di Karbala. Sayangnya tentang Mukhtar Tsaqafi ini masuk dalam rangkaian teater yang dipertunjukkan pada hari Asyura.

Di akhir acara ada pembacaan doa ziarah yang diawali dengan lantunan maskumambang (syair Sunda) yang mengisahkan perilaku umat pada Sayyidina Husain ra dan keluarga Rasulullah saw.

Berdasarkan informasi panitia bahwa Asyura di Desa Sangiang itu dihadiri jamaah dari Jakarta, Sukabumi, Bandung, Garut, Padalarang, Sumedang, Makassar, dan masyarakat desa Lembang Gede yang berlokasi di sekitar SMP Plus Muthahhari.

[Ikhwan Mustafa]

Thu, 5 Oct 2017 @14:48

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved