Rubrik
Terbaru
RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah: Masalah Seksual sebagai Kebutuhan

image

Tanya: Terdapat penekanan berlebihan atas sisi negatif masa puber, hingga sampai pada taraf banyak keluarga menjadikannya sebagai alasan untuk membenarkan kesalahan mereka dalam menekan anak-anak mereka. Bagaimana menurut Anda?

Jawab: Masa puber dengan perubahan-perubahan jasmani yang dihasilkan secara mendadak menciptakan potensi kejiwaan untuk mudah mengalami kegundahan, yang kemudian berubah menjadi sebuah masalah nyata, bila para pendidik tak memberikan pendidikan, pengawasan, dan persiapan mental bagi si anak untuk menghadapi periode ini. Karena itu, kita yakin bahwa masa puber merupakan kondisi alami dalam kehidupan anak, yang berhubungan dengan sisi seksual yang menguasai fisiknya dengan kuat. Ini menjadi sulit, lantaran si anak menemukan suasana baru yang belum pernah dialaminya. Oleh karena itu, kita harus memperlakukan remaja puber dengan cara tertentu dan menjaga perasaannya.

Ya, kondisi "kegilaan" tidak terbatas pada gila secara akal dalam artian penyakit kejiwaan, tetapi juga terdapat gila secara insting; manusia tunduk di bawah kekuasaan instingnya tanpa mengalami gila secara akal. Gila secara insting sama persis seperti gila secara akal, yang menciptakan kondisi labil dan guncangan jiwa. Sebenarnya, tahapan masa puber sama kedudukannya dengan gila secara insting, yang sebelumnya diam, dan manusia menjalankan hidupnya secara alami. Tidak diragukan lagi, gila secara insting menimbulkan problema bagi penderitanya di tengah masyarakat, yang dipenuhi peraturan dan menghalanginya dalam memuaskan kecenderungan instingnya. Dari sinilah datangnya pengakuan Islam atas Sisi seksual manusia dan menganggapnya sebagai hal yang wajar.

Islam menganggap masalah seksual sebagai kebutuhan alami dan memandang bahwa kebutuhan seksual laki-laki dan wanita, berdasarkan batasan-batasan syariat, merupakan hal yang sangat wajar. Kesulitan muncul lantaran masyarakat mempersulit proses pernikahan dengan adat-istiadat mereka, sehingga pemuda dan pemudi mengalami kendala untuk melangsungkan pernikahan lebih awal. Benar, Islam mempermudah proses pernikahan; sangat mungkin dua orang pelajar (berlainan jenis) melangsungkan pernikahan dan tetap melanjutkan studinya. Dari sinilah Islam menganjurkan pernikahan dini. Masyarakat yang tak ingin melarikan diri dari problema hendaknya mengubah undang-undang dan pandangan mereka sekaitan dengan masalah seksual manusia. Takkan timbul kesulitan bagi anak yang memasuki masa puber, jika saja kita mempermudah pernikahan baginya dan menikahkan putra-putri kita di saat mereka memasuki masa baligh.

Kita hendaknya juga membantu menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul pasca pernikahan dengan sarana-sarana syariat guna mengatur keturunan. Sebenarnya, masyarakat kita, menurut pendapat saya, mencoba melarikan diri dari persoalan seksual dan memaksa anak laki-laki dan perempuan melakukan penyimpangan, terutama saat mereka dibiarkan bergaul dan berbaur secara bebas, sehingga tercipta hubungan dekat antar-lawan jenis di sekolah-sekolah dan lingkungan masyarakat. []

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Dunia Anak: Memahami Perasaan dan Pikiran Anak Muda. Bogor: Penerbit Cahaya, 2004)

Mon, 9 Oct 2017 @20:51

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved