Rubrik
Terbaru
PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Silakan tulis nama, alamat, dan WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Syahadat Ketiga dalam Azan dan Iqamah

image
Tulisan ini kami maksudkan untuk menjelaskan kesalahpahaman sebagian penganut syiah khususnya di Indonesia yang masih ada menganggap bahwa syahadat ketiga adalah bagian dalam azan dan iqamat.

Mengenai syahadat ketiga yang dibaca dalam azan, ulama syiah terdahulu dan sekarang sepakat bahwa itu bukan bagian dari azan, yang nanti akan kami kutipkan beberapa pendapat ulama syiah tedahulu dan juga pada masa kini. Tetapi, mengenai boleh atau tidaknya syahadat ketiga dibaca dalam azan ini memang terjadi ikhtilaf.

Kami akan memulai dari pendapat ulama mutaqadimin (terdahulu) Syiah:

Syaikh al-Shaduq dalam kitab Man La Yahdhuruh al-Faqih halaman 290 berkata,

وقال مصنف هذا الكتاب رحمه الله: هذا هو الاذان الصحيح لا يزاد فيه ولا ينقص منه، والمفوضة لعنهم الله قد وضعوا أخبارا وزادوا في الاذان ” محمد وآل محمد خير البرية ” مرتين، وفي بعض رواياتهم بعد أشهد أن محمدا رسول الله ” أشهد أن عليا ولي الله ” مرتين، ومنهم من روى بدل ذلك ” أشهد أن عليا أمير المؤمنين حقا ” مرتين ولا شك في أن عليا ولي الله وأنه أمير المؤمنين حقا وأن محمدا وآله صلوات الله عليهم خير البرية، ولكن ليس ذلك في أصل الاذان،

Ini adalah azan yang benar, tidak boleh ditambah dan tidak juga dikurangi dari itu. Dan Kaum Mufawwidhah (laknat Allah bagi mereka) telah membuat riwayat dan menambahkannya pada azan “Muhammad wa Aali Muhammad khairul bariyyah“, dua kali, dan dalam riwayat lain, sesudah “Asyhadu anna Muhammad Rasululllah” mereka mengatakan “Asyhadu anna Aliyyan waliyullah” dua kali. Dan tidak diragukan bahwa Ali adalah Waliyullah, dan benar bahwa dia adalah Amirul Mukminin, dan Muhammad dan keluarganya (shalawat Allah atas mereka) adalah Khairul Bariyyah. Akan tetapi, tidak ada yang demikian itu dalam Azan yang original.

Syaikh al-Thusi dalam al-Nihayah halaman 69,

وأما ما روي في شواذ الأخبار من قول: ” أشهد أن عليا ولي الله وآل محمد خير البرية ” فمما لا يعمل عليه في الأذان والإقامة. فمن عمل بها كان مخطئا.

Dan apa yang diriwayatkan dalam riwayat syadz yang mengatakan: “Asyhadu anna Aliyyan waliyullah wa Aali Muhammad khairul bariyyah” maka itu tidak boleh dilakukan pada azan dan iqamah. Barang siapa yang mengamalkannya adalah salah (mukhti‘).

Namun dalam kitab beliau yang lain al-Mabsut, volume 1, halaman 99 Syaikh Thusi berkata:

فأما قول: أشهد أن عليا أمير المؤمنين وآل محمد خير البرية على ما ورد في شواذ الأخبار فليس بمعمول عليه في الأذان ولو فعله الانسان يأثم به غير أنه ليس من فضيلة الأذان ولا كمال فصوله.

Seperti mengucapkan:

Asyhadu anna Aliyyan waliyullah wa Aali Muhammad khairul bariyyah” sesuai dengan riwayat syadz, ini tidak diamalkan pada azan dan iqamah, tapi jika seseorang membacanya tidak membuatnya berdosa, tidak juga itu merupakan fadhilah azan, dan tidak juga menjadikanya sebagai kesempurnaan azan.

Meski Syaikh al-Thusi mengatakan ada riwayat tentang syahadat ketiga yang menurut beliau riwayatnya syadz, tetapi riwayat itu tidak ditemukan dalam kitab hadits beliau, dan juga yang terdahulu dari beliau seperti pada kitab al-Kafi oleh Syaikh al-Kulayni.

Ulama mutaakhrin seperti Allamah al-Hilli pun juga beranggapan ini bukan bagian dari azan dan beliau bahkan juga melarang melakukannya, seperti yang beliau tulis di Nihayah al-Ahkam, halaman 412:

ولا يجوز قول ” إن عليا ولي الله ” و ” آل محمد خير البرية ” في فصول الآذان، لعدم مشروعيته.

Tidak boleh mengucapkan “Inna Aliyyan Waliyullah wa Aali Muhammad Khair al-Bariyyah” pada perkara azan. Tidak ada aturan itu dalam syariat.

Syahid Awwal (Muhammad b.Jamaluddin) dalam Lum’ah al-Dimasyqiyah, halaman 28,

ولا يجوز اعتقاد شرعية غير هذه في الأذان والإقامة كالتشهد بالولاية وأن محمدا وآله خير البرية وإن كان الواقع كذلك.

Dan tidak boleh meyakini syariat selain ini pada azan dan iqamah, seperti syahadat/kesaksian pada wilayah dan bahwa Muhammad dan Keluarganya khairul bariyyah, meskipun pada kenyataannya demikian.

Syahid Tsani ( Zaynuddin bin Ali) dalam kitab Raudh al-Jinan 1/242,

وأما إضافة أن عليا ولى الله وآل محمد خير البرية ونحو ذلك فبدعة وأخبارها موضوعة

Dan penambahan/penyisipan “anna Aliyyun waliyullah wa Aali Muhammad khairul bariyyah” dan apapun itu adalah bid’ah, dan riwayatnya palsu (maudhu’).

Kami rasa beberapa pernyataan Ulama-Ulama otoritatif syiah di atas sudah cukup untuk membuktikan bahwa syahadat ketiga tidak dianggap sebagai bagian dari azan. Meski jika diliat dari yang dikatakan Syaikh Thusi di al-Mabsut adalah tidak berdosa jika dibacakan. Tapi mungkin kita bertanya kapan hak ini (syahadat ketiga) mulai dilakukan?

Jika ditelusuri kapan syahadat ketiga dibacakan dalam azan dan iqamah, ini populer dipraktekan adalah pada masa era Allamah al-Majlisi Awwal (Muhammad Taqi al-Mjajlisi), hal ini yang beliau nyatakan dalam Kitab Raudhah al-Muttaqin, beliau ini hidup pada era dinasti Safawid dan dilanjutkan pada masa Anaknya yaitu Allamah Muhmmad Baqir al-Majilisi penulis kitab Bihar al-Anwar. Tapi, menurut kami jauh sebelum itu praktek seperti itu juga sudah dilakukan, terbukti dengan adanya penegasan dari Syaikh Shaduq tentang bid’ahnya perbuatan ini, dan tanda dari kaum mufawwidhah.

Lalu, bagaimana menurut pandangan ulama kita pada era sekarang ini? Berikut ini akan kami tampilkan beberapa fatwa ulama pada zaman ini.

1. Fatwa Ayatullah al-Uzhma Sayyid Ali Khamenei dalam kitab Muntakhab al-Ahkam, halaman 84:

مسألة): جملة ” أشهد أن عليا ولي الله ” ليست جزءا من الأذان والإقامة، إلا أنه لا بأس بالإتيان بها بعد جملة ” أشهد أن محمدا رسول الله ” بقصد إظهار الاعتراف والإذعان بولايته.

Kalimat “Asyhadu anna Aliyyan waliyullah” bukan bagian dari azan dan iqamah, akan tetapi tidak masalah mengucapkannya sesudah “Asyhadu anna Muhammad Rasulullah” dengan maksud/niat menampakan pengakuan dan kepatuhan kepada wilayah.

Dan dalam jawaban atas persoalan ini dalam Ajwibah al-Istifta’at beliau juga menjawab:

ج: قول «اشهد ان علیّاً ولی الله» بعنوان انه شعار التشیع أمر مهم جداً ویجب ان یؤتی به بقصد القربة المطلقة ولکنه لیس جزءاً من الأذان والاقامة.

Asyhadu anna Aliyyan waliyullah” sebagai syiar/simbol tasyayu’ adalah baik dan penting, serta harus dengan maksud atau niat mendekatkan diri secara mutlak (raja’an), tetapi itu bukan bagian dari azan dan iqamah.

2. Fatwa Ayatullah al-Uzhma Sayyid Ali Sistani dalam kitab Minhaj al-Shalihin, halaman 191:

والشهادة لعلي (عليه السلام) بالولاية وإمرة المؤمنين مكملة للشهادة بالرسالة ومستحبة في نفسها وإن لم تكن جزء من الأذان ولا الإقامة,

Dan syahadat tentang wilayah Ali as melengkapi syhadat kepada rasul, dan hal ini dianjurkan pada dasarnya, dan ini bukan bagian dari azan dan iqamat.

3. Fatwa Ayatullah al-Uzhma Sayyid Husain Fadhlullah dalam kitab Ahkam al-Syari’ah, halaman 117 berkata:

٣٦٦. قول: “أشهد أن عليا ولي الله” ليس جزءا من الاذان ولا من الإقامة، لاجزءا واجبا ولا مستحبا، مع أن الافضل تركه في خصوص الإقامة.

“Asyhadu anna Aliyyan waliyullah” bukan bagian dari azan dan iqamat, tidak wajib dan tidak juga mustahab. Hal itu lebih baik ditinggalkan khususnya pada Iqamah.

4. Fatwa Ayatullah al-Uzhma Sayyid Shadiq Rouhani dalam kitab al-Masa’il al-Muntakhabah, halaman 91:

والشهادة بولاية أمير المؤمنين عليه السلام مكملة
للشهادة بالرسالة ومستحبة في نفسها وإن لم تكن جزءا من الأذان ولا الإقامة.

Dan syahadat tentang wilayah Amirul Mukminin Ali as melengkapi syahadat tentang Rasul, dan hal dianjurkan pada dasarnya, dan hal ini bukan bagian dari azan dan iqamat.

Dari beberapa fatwa ulama zaman ini pun kita bisa melihat tidak ada satupun yang beranggapan bahwa syahadat ketiga itu bagian dari azan.

Tulisan ini tentu tidak bermaksud menilai fatwa ulama mana yang benar apakah yang membolehkan dibaca atau tidak. Sebab itu tentu kembali kepada marja taqlid masing-masing dalam hal pengamalan. Fokus kami adalah mengkoreksi anggapan sebagian syiah yang menganggap syahadat ketiga itu adalah bagian dari azan dan iqamah. Karena jika kita lihat fatwa-fatwa ulama kita di atas bahkan dari ulama yang mengganggap ini mustahab pun mereka tidak mengatakan ini bagian dari azan dan iqamat. Kebolehan membaca kalimat ini seperti yang dikatakan Ayatullah Ali Khamenei adalah dengan maksud syiar, dan niat mendekatkan diri kepada Allah secara mutlak saja (raja’an).

Mungkin ada yang penasaran dan bertanya seperti apa format azan dan iqamat yang ada dalam riwayat-riwayat Syiah yang muktabar, Insyallah akan kami bahas dalam kesempatan lainnya.

sumber: https://dzulfiqarali.wordpress.com/2017/10/21/syahadat-ketiga-pada-azan-dan-iqamah/

Thu, 2 Nov 2017 @19:39

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved