Rubrik
Terbaru
Telegram Misykat
image

.

YouTube Misykat TV
image

.

PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO KAJIAN ISLAM

TATA CARA SHALAT

Minat beli buku klik covernya
image

 

Flash Disk OTG Kajian Islam
image

.

Facebook Misykat
image

.

BAHAN BACAAN (Buku PDF)
image

 

Pengalaman Shalat Jumat di Qom (Iran)

image

Marg bar amrika, marg bar Israil, marg bar munafik (hancurlah Amerika, hancurlah Israel, hancurlah kaum munafik).

Demikian teriakan-teriakan anti imperialisme amerika dan zionis sering terdengar di sela-sela khutbah jumat Qom. Hal ini tentu berbeda dengan khutbah-khutbah di tanah air yang menjadi milik mutlak pengkhutbah sementara pendengar diam membatu, bahkan tidak boleh berbicara.

Ya pada tanggal 3 November 2017 kemarin, saya melaksanakan shalat jum'at di kota Qom, Iran. Shalat jumat kota Qom, dilaksanakan di sebuah tempat yang dinamakan Mushalla Al-Quds. Mushallanya mirip dengan Al-Quds di Palestina dan dinamakan seperti itu, karena tempat itu memang didedikasikan kepada gerakan pembebasan Al-Quds di Palestina.

Mushalla Al-Quds adalah satu-satunya tempat jum'atan di kota Qom. Menurut madzhab Syiah, di setiap kota hanya boleh didirikan satu tempat jum'atan. Hal itu terkait dengan "syarat dan ketentuan berlaku" dalam kerangka fiqih. Setiap madzhab bisa berbeda. Misalnya saja, mengenai jumlah yang shalat. Imam Syafii menyebut angka minimal 40 orang bagi yang mau melaksanakan shalat jum'at; sementara Imam Ja'far Shadiq menyebut angka 5 orang saja.

Yang termasuk 'Syarat dan ketentuan berlaku’ adalah mengenai lokasi jum'atan. Madzhab Syi'ah mengatakan bahwa satu kota hanya boleh mendirikan satu tempat jum'atan. Jadi jangan heran kalau di Iran, anda tidak akan menemukan shalat jum'at di tiap mesjid kota atau kampung. Apalagi anda mencarinya di bandara.  

Hal menarik lainnya dari Jum'atan di Qom adalah banyaknya kaum wanita yang menghadiri shalat jum'at. Walaupun tidak diwajibkan namun para wanita ini ikut menghadiri shalat jum'at. Untuk wanita disediakan lantai dua Mushalla Al-Quds. Hal ini berbeda dengan di Indonesia. Sangat sedikit mesjid yang menyediakan ruangan untuk kaum wanita yang mau jum'atan. Kata salah satu teman saya, dulu mesjid Salman Bandung menyediakan tempat untuk para wanita melaksanakan shalat jum'at. Entah kalau sekarang. 

Nah, kalau mau jumatan di Mushala Quds itu, sebelum masuk sudah ada pemeriksaan. Badan dan tas diperiksa agar tak ada benda-benda yang membahayakan. Kamera termasuk yang tak diijinkan masuk ke area jum'atan. Saya yang membawa air minum saja disuruh minum airnya. Mungkin dikhawatirkan yang saya bawa adalah semacam cairan berbahaya. Memang saya dengar sebelumnya pernah ada orang yang membawa air keras ke area jum'atan dan menyiramkannya pada khatib jum'at.

Setelah keluar dari area pemeriksaan saya memasuki ruangan mushalla. Gedung yang mampu menampung 4000 orang itu, memang luas sekali. Setelah mengambil plastik untuk tempat sandal, saya bergegas ke arah shaf depan. Azan sudah berkumandang dan khutbah sedang berlangsung.

Saat itu, Ayatullah A'rafi menyampaikan khutbahnya. Khutbah yang pertama lebih cocok didengar oleh para jomblo. Isinya tentang anjuran untuk segera menikah dan membangun keluarga yang baik. Keluarga, kata Ayatullah A'rafi merupakan sendi penting sebuah negara.

Khutbah beliau mengingatkan saya pada Ayatullah Ibrahim Amini, seorang ulama sekaligus seorang psikolog yang selalu saja menyampaikan anjuran menikah pada masyarakat. Mengapa. Rupanya di Iran banyak orang-orang yang terlambat menikah. Hal ini terkait dengan budaya memasang tarif mahar yang sangat tinggi. Maharnya bisa ratusan juta hingga mencapai milyar rupiah. Saat itu saya berpikir betapa bahagianya lelaki nusantara yang bisa nikah dengan mahar seperangkat alat shalat dan Al Qur'an. Karena problem mahar itu pula, kata teman saya, tak heran kalau di Iran maharnya tidak dibayar kontan.

Itu khutbah pertama. Khutbah pertama memang biasa berisi wejangan tentang akhlak, mengisi ketakwaan dan menjauhi dosa. Khutbah kedua biasa diisi dengan pendidikan politik dalam dan luar negeri.

Di khutbah kedua inilah sering terdengar teriakan-terikan "marg bar amrika wa israel". Saat itu, Ayatullah A'rafi mengingatkan kasus pendudukan kedutaan Amerika oleh para mahasiswa. Kata Ayatullah A'rafi "Amerika adalah negara yang penuh tipu daya, jadi mesti cerdas dan kritis melihat semua pergerakan Amerika". Dan menggemuruhlah teriakan "marg bar amrika, marg bar Israel, marg bar munafik".

(Fx Muchtar)


Sat, 4 Nov 2017 @15:06

Copyright © 2020 Misykat · All Rights Reserved