AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Silakan tulis nama, alamat, dan WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah: Siapa yang Berhak Menentukan Euthanasia?

image

Soal: Siapakah yang menentukan euthanasia: dokter, otoritas keagamaan, atau pasien itu sendiri? 

Jawab: Apabila euthanasia (mercy killing) berarti mengurangi rasa sakit pasien yang tak tertahankan, maka tidak dibolehkan. Karena tidak halal mengakhiri hidup seseorang walau pun dengan alasan kasihan dan simpati. Sedangkan apabila mercy killing berarti mengakhiri hidup sang pasien, berarti mengakhiri hidup seseorang untuk menyenangkan orangtuanya karena ia akan wafat dalam beberapa hari lagi, maka cara ini pun tidak dibolehkan karena kita tidak berwenang merampas kehidupannya walau pun ada sisa umur satu jam lagi.

Di lain pihak, apabila mercy killing berarti kematian otak, ketika sang pasien dianggap telah mati secara medis dan apabila kemungkinan berfungsinya kembali otak kurang dari satu persen, maka kita bisa mengatakan bahwa tidak mesti menggunakan sarana untuk memperpanjang kehidupan seseorang yang dapat dilihat dari gerakan jantung.

Karena itu, boleh melepaskan sarana ini dan dokter bersangkutan mesti mematikan. Orang tua juga berkewajiban memberi wewenang pada dokter untuk melaksanakan operasi karena dokter tersebut tidak memiliki wewenang mengakhiri hidup pasien lantaran sang pasien mempunyai seorang wali yang mesti diacu oleh sang dokter. Hal ini berdasarkan keyakinan bahwa kewajiban menyelamatkan kehidupan seseorang tidak meliputi kehidupan sel, tapi yang benar adalah meliputi nyawa manusia. Jenis kehidupan ini (kehidupan sel) dapat dibandingkan dengan jenis kehidupan ekor ular setelah ular itu mati.

Soal: Dalam dua kasus di atas, apakah boleh pasien tersebut meminta sang dokter mengakhiri hidupnya?

Jawab: Pasien tersebut tidak boleh melakukan hal tersebut karena dia tidak berwenang mengakhiri hidupnya.  

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)

Wed, 15 Nov 2017 @18:08

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved