Rubrik
Terbaru
PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Silakan tulis nama, alamat, dan WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah: Hati Anak Bagaikan Tanah Kosong

image

Tanya: Sebuah hadis mengatakan, "Sesungguhnya hati anak-anak bagaikan tanah kosong; apa yang dilemparkan ke dalamnya akan diterimanya.” Apakah yang dimaksud adalah bahwa anak-anak bagaikan kertas putih atau bejana kosong yang bisa kita isi sekehendak hati kita?

 

Jawab: Hadis tersebut bukan bermaksud mengatakan bahwa anak-anak tidak memiliki potensi tertentu yang dihasilkan secara fitriah berdasarkan faktor-faktor genetika. Kita tidak mungkin mengubah adonan menjadi padat, kecuali bila memang ada potensi-potensi itu di dalamnya. Maksud tanah kosong di sini adalah tanah yang memiliki potensi pertumbuhan, yang mengandungi unsur-unsur tertentu, bukan tanah yang sama sekali kosong dari segala sesuatu. Ya, seorang anak dilahirkan dalam keadaan menyimpan potensi dan kemampuan untuk tumbuh dan berkembang. Faktor-faktor lingkungan yang sesuai dan metode pendidikan yang tepat mampu memunculkan potensi dan kemampuan tersembunyi dalam diri anak. 

Oleh karena itu, kita dapat katakan bahwa pendidikan bagi kepribadian anak dengan berbagai seginya; jasmani, gerak, rasional, dan spiritual, menuntut perhatian yang mesti disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan dan kematangan dalam dirinya. Karenanya, hendaknya kita tidak mengajarkan kepada anak tentang pengetahuan filosofis; sedangkan dia tidak memiliki kemampuan menalar kecuali pengetahuan dan berdasarkan pengalaman. Untuk memahami sesuatu di sekitarnya, seorang anak membutuhkan sarana-sarana tertentu guna menjelaskan sebuah pengetahuan secara mudah. Oleh karena itu, kita tidak boleh mengajar anak-anak dengan metode pembelajaran yang dikhususkan bagi orang dewasa. 

Atas dasar itu kita harus mengisi hati sang anak dengan sesuatu yang akan membantu pertumbuhan alaminya sesuai dengan tahap kehidupannya yang berlapis; sehingga dia beroleh kebebasan pada masa kanak-kanaknya. Tidak boleh ada perintah-perintah yang memaksanya memilih mainan “ini” atau “itu” dan tidak boleh ada kekangan yang mencegahnya mengekspresikan diri. Kita harus membantu anak-anak dalam membangun pengalamannya sendiri dengan cara bersenang-senang, bermain, dan berinteraksi dengan hal-hal di sekitarnya dan mengungkap hal-hal baru. Ini bukan berarti bahwa seorang anak mesti dibiarkan tanpa pengawasan dan pengamatan dalam kebebasannya itu. Mereka terkadang membutuhkan beberapa ikatan dan aturan yang akan mengarahkannya (pada kesiapan) dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Sebagai pembimbing, kita perlu mengikuti perkembangan dan pengalaman yang didapatkannya. Kita harus senantiasa mengamati pertumbuhannya, sebagaimana saat kita mengkaji sesuatu sehingga kita mampu mengawasi kemajuan, gerak, dan ungkapan-ungkapannya. Barangkali kita bisa mendekati anak dengan bahasa dan ungkapan halus kita sehingga kita mampu mengetahui bagaimana dia berpikir, bereaksi, merasakan, dan menyingkap rahasia sesuatu. Sungguh, hadis di atas menekankan tentang pentingnya pendidikan secara dini dalam membangkitkan potensi manusia. []

 

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Dunia Anak: Memahami Perasaan dan Pikiran Anak Muda. Bogor: Penerbit Cahaya, 2004)


Sun, 3 Dec 2017 @17:46

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved