Rubrik
Terbaru
PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Silakan tulis nama, alamat, dan WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Al-Quran Syiah 17 Ribu Ayat

image

Salah satu yang dijadikan bahan celaan dan menyatakan Syiah sesat adalah riwayat di kitab al-Kafi, juz 2, halaman 634, no. 28 berikut: 

عن أبي عبد الله (عليه السلام) قال: إن القرآن الذي جاء به جبرئيل (عليه السلام) إلى محمد (صلى الله عليه وآله) سبعة عشر ألف آية

Dari Abi ‘Abdillah as yang berkata: “Sungguh al-Qur‘an yang diturunkan melalui perantara Jibril as kepada Nabi Muhammad Saaww berjumlah 17 ribu ayat”. 

Kritik Sanad

Riwayat tersebut biasa dikutip oleh anti Syi‘ah, lalu sembarangan menuduh Syi‘ah meyakini hal itu hanya karena tercatat di kitab Syi‘ah. Padahal tidak semua yang tercatat di kitab al-Kafi statusnya shahih atau kuat. Buktinya, ulama meneliti riwayat-riwayat di kitab al-Kafi dan berkesimpulan sebagian statusnya dha‘if. Penelitian ulama harus berdasarkan ilmu hadits dan kitab-kitab rijal di sisi Syi‘ah. 

Berikut sanad lengkap riwayat tersebut yang diterima Syaikh al-Kulaini: 

علي بن الحكم، عن هشام بن سالم، عن أبي عبد الله (عليه السلام) 

“‘Ali bin Hakam dari Hisyam bin Salim dari Abi ‘Abdillah as...” 

Zhahir sanad menunjukkan al-Kulaini mendengar atau menerima dari ‘Ali Hakam. Jika berdasarkan sanad itu saja berarti periwayatannya terputus. Berikut pembahasan rincinya. 

BAGIAN PERTAMA

Syaikh Al-Kulaini

Sebagian ulama, misalnya Sayyid Khui ra di Mu‘jam Rijal al-Hadits, jilid 19 halaman 58, menyatakan al-Kulaini lahir setelah kesyahidan Imam Hasan al-‘Askari as. Sedangkan Syaikh Bahrul ‘Ulum ra di al-Fawaid al-Rijaliyyah, juz 3 halaman 336, berpendapat: 

أنه أدرك تمام الغيبة الصغرى، بل بعض أيام العسكري عليه السلام 

“Dia (al-Kulaini) sepenuhnya hidup di masa ghaibah shugra, bahkan ia mendapati beberapa hari di (akhir) masa Imam Hasan al-‘Askari as”. 

Penelitian Tsamir Hasyim Habib al-‘Amidi di kitab Difa ‘An al-Kafi, juz 1 halaman 35, menguatkan kedua ulama tersebut. Ia berpendapat al-Kulaini lahir pertengahan kedua dari abad ke-3 H (tahun 250 H ke atas). 

Kami lebih memilih menggabungkan. Jika al-Kulaini mendapati penuh masa ghaibah sughra dan lahir setelah Imam Hasan al-‘Askari wafat, berarti tahun kelahirannya bukan di bawah tahun 260 H. Karena ghaibah shugra dimulai sejak Imam Hasan al-‘Askari as wafat tahun 260 H (lihat Tarikh al-Ghaibah al-Shugra, halaman 341, 345 dan Sirah al-Rasul wa Ahli Baitih al-Athhar, juz 2 halaman 824).  

Adapun pernyataan “al-Kulaini mendapati beberapa hari di masa Imam Hasan al-‘Askari as”, kemungkinan besarnya adalah al-Kulaini hidup pada hari-hari di tahun 260 H sebelum Imam Hasan al-‘Askari as. Berdasarkan catatan Syaikh Mufid ra di kitab al-Irsyad juz 2 halaman 336, Imam as syahid pada tanggal 8 Rabi‘ul Awwal tahun 260 H. Berarti al-Kulaini lahir pada bulan Muharram, Safar, atau tanggal 1 sampai 8 bulan Rabi‘ul Awwal tahun 260 H. Intinya sebelum Imam as syahid. Itu pun jika meyakini pernyataan “mendapati beberapa hari di masa Imam Hasan al-‘Askari as”. 

‘Ali bin Hakam

‘Ali bin Hakam bin Zubair al-Nakha‘i yang bergelar al-Anbari ini, kuniyahnya Abu al-Husain. Ia tsiqah, seorang ‘alim faqih dan kedudukannya mulia menurut kitab-kitab rijal Imamiyah (Subul al-Rasyad, halaman 183, no. 111). 

Di kitab Rijal al-Thusi, halaman 361 dan 376, ‘Ali bin Hakam termasuk sahabat Imam ‘Ali al-Ridha as dan sahabat Imam Muhammad al-Jawad. Namun ia bukan sahabat Imam ‘Ali al-Hadi as. Namanya tidak disebutkan di kitab yang menghimpun sahabat-sahabat Imam ‘Ali Hadi as: al-Nur al-Hadi ila Ashhab al-Imam al-Hadi as karya ‘Abdul Husain al-Syabastari. 

Berarti masa hidupnya hanya sampai di tahun syahid Imam Muhammad al-Jawad as. Kalau tidak, tentu ia dikategorikan sebagai sahabat Imam ‘Ali al-Hadi as atau ada bukti ia meriwayatkan hadits dari beliau as. Catatan Syaikh Mufid di al-Irsyad, juz 2 halaman 295, menunjukkan Imam Muhammad al-Jawad as syahid pada Muharram tahun 220 H. Berdasarkan pertimbangan di atas, ‘Ali bin Hakam wafat di masa akhir Imam Muhammad al-Jawad as atau lebih tepatnya tahun 220 H. 

Kesimpulan pertama

Riwayat bahwa ayat al-Qur‘an 17 ribu sanadnya terputus jika hanya berdasarkan zhahir sanad di kitab al-Kafi. Karena al-Kulaini baru lahir (tahun 250 H ke atas atau tahun 260 H) setelah  ‘Ali bin Hakam wafat (tahun 220 H, pertimbangan maksimal). Menunjukkan keduanya tidak bertemu. 

BAGIAN KEDUA

Lantas kenapa al-Kulaini mencatat ia menerima langsung dari ‘Ali bin Hakam? Sebenarnya, antara al-Kulaini dengan ‘Ali bin Hakam ada perawi: Ahmad bin Muhammad bin Sayyar. Kami temukan referensi yang lebih dulu memuat riwayat ini sebelum al-Kafi. Yaitu kitab al-Qira‘at karya Ahmad bin Muhammad bin Sayyar. Pada halaman 9, Ahmad mencatat riwayat ini dengan sanad yang sama diterima al-Kulaini: 

علي بن الحكم، عن هشام بن سالم قال: قال أبو عبد الله عليه السلام: القرآن الذي جاء به جبرئيل عليه السلام إلى محمد صلى الله عليه وآله سبعة عشر ألف آية 

Jadi al-Kulaini membaca kitab al-Qira‘at. Karena sumber riwayat ini kitab al-Qira‘at. Namun di al-Kafi seakan al-Kulaini menerima langsung dari ‘Ali bin Hakam, tanpa menyebutkan perantara Ahmad bin Muhammad al-Sayyar. Mungkin karena pada sanad riwayat sebelumnya sudah ada Ahmad bin Muhammad menerima dari ‘Ali bin Hakam (al-Kafi, juz 2 halaman 634, no. 27).  

Jadi Ahmad bin Muhammad bin Sayyar lebih dulu mencatat riwayat ini sebelum al-Kulaini mencatat di al-Kafi. Lantas apa status Ahmad bin Muhammad bin Sayyar di kitab-kitab rijal Imamiyyah? 

Di kitab Rijal al-Najasyi halaman 78, no. 192 disebutkan: 

ويعرف بالسياري ضعيف الحديث، فاسد المذهب، مجفو الرواية، كثير المراسيل

“Ia dikenal dengan al-Sayyari, riwayatnya dha‘if, mazhabnya rusak, dinilai keras (buruk) riwayatnya, pada banyak riwayat mursal”. 

Status dha‘ifnya juga disebutkan dalam al-Fihrits karya Syaikh Thusi, halaman 23 no. 60 dan Khulashah al-Aqwal karya ‘Allamah al-Hilli, halaman 320 no. 1259. 

Kesimpulan Kedua

Riwayat bahwa ayat al-Qur‘an 17 ribu tidak dapat dijadikan hujjah karena sanadnya dha‘if. Ahmad bin Muhammad bin Sayyar statusnya dha‘if dan mazhabnya rusak. 

Peringatan

Wahai segenap makhluk yang (masih) anti Syi‘ah, kalau kalian mengutip riwayat dari kitab Syi‘ah jangan hanya mengutip lalu menyatakan itulah yang diyakini Syi‘ah. Padahal kalian belum meneliti berdasarkan kitab-kitab rijal dan kaidah dalam mazhab Syi‘ah sendiri.  

Jika ingin berbicara atas nama suatu mazhab maka sebaiknya telitilah dengan kaidah ilmu yang berlaku pada mazhab tersebut. Ada begitu banyak ulama dalam suatu mazhab dan tidak semuanya benar atau bersepakat atas sesuatu. Ada begitu banyak riwayat dalam suatu mazhab dan tidak semuanya shahih atau menjadi hujjah di sisi mazhab tersebut. Setiap mazhab memiliki metode maka timbanglah dengan objektif dan hindari berlaku zhalim. 

Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ 

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Maidah[5]: 8). 

Doa terbaik untuk saudara-saudara kita yang terampas haknya, dizhalimi, dan terkena musibah. Semoga digantikan dengan yang lebih baik dan keberkahan selalu menyertai. Selalu perbanyak bershalawat, istighfar, dan ziarah al-Ma‘shumin as! Niat hadiahkan! Aamiin. 

Referensi

Abi Ja‘far Muhammad bin Ya‘qub bin Ishaq al-Kulaini, Ushul min al-Kafi (Tehran: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 1365 HS), juz 2, hal. 634.

Sayyid Abu al-Qasim al-Musawi al-Khu‘i, Mu‘jam Rijal al-Hadits (Najaf: Maktabah al-Imam al-Khu‘i, t.th.), jil. 19, hal. 58.

Sayyid Muhammad al-Mahdi Bahr al-‘Ulum al-Thabathaba‘i, al-Fawa‘id al-Rijaliyyah (Tehran: Maktabah al-Shadiq, 1363 HS), juz 3, hal. 336.

Tsamir Hasyim Habib al-‘Amidi, Difa ‘An al-Kafi (Beirut: Markaz al-Ghadir li al-Dirasat al-Islamiyyah, 1415 H/1995 M), juz 1, hal. 35.

Sayyid Muhammad Shadr, Tarikh al-Ghaibah al-Shughra (Beirut: Dar al-Ta‘aruf li al-Mathbu‘at, 1412 H/1992 M), hal. 341, 345.

Baqir Syarif al-Qurasyi, Sirah al-Rasul wa Ahli Baitih al-Athhar as (Baghdad: Maktabah al-Haura’, 1434 H/2013 M), juz 2, hal. 824.

‘Abd al-Husain al-Syabastari, Subul al-Rasyad Ila Ashhab al-Imam al-Jawad as (Qum: Maktabah al-Tarikihiyah al-Mukhtashah, 1421 H), hal. 183.

Abi Ja‘far Muhammad bin al-Hasan al-Thusi, Rijal al-Thusi, tahqiq: Jawad al-Qayyumi al-Ishfahani (Qum: Mu‘ssasah al-Nasyr al-Islami, 1430 H), hal. 361, 376.

‘Abd al-Husain al-Syabastari, al-Nur al-Hadi ila Ashhab al-Imam al-Hadi as (Qum: Maktabah al-Tarikihiyah al-Mukhtashah, 1421 H)

Abi ‘Abd Allah Muhammad bin Muhammad al-Nu‘man al-‘Ukbari, al-Irsyad fi Ma‘rifat Hujaj Allah ‘ala al-‘Ibad (Beirut: Mu‘assasah Aali al-Bait as li al-Ihya’ al-Turats, 1429 H/2008 M), juz 2, hal. 295, 336.

Ahmad bin Muhammad bin Sayyar, al-Qira‘at, tahqiq: Etan Kohlberg dan Muhammad ‘Ali Amir Mu‘zi (Boston: Brill Publishers, 2009 M), hal. 9.

Abu al-‘Abbas Ahmad bin ‘Ali bin Ahmad al-Najasyi, Rijal al-Najasyi (Beirut: Syirkah al-A‘lami li al-Mathbu‘at, 1431 H/2010 M), hal. 78.

Abi Ja‘far Muhammad bin al-Hasan al-Thusi, al-Fihrist, tashhih: Sayyid Muhammad Shadiq Aalu Bahr al-‘Ulum (Qum: Mansyurat al-Syarif al-Radhi, t.th.), hal. 23.

Abi Manshur al-Hasan bin Yusuf bin al-Muthahhar al-Asadi, Khulshah al-Aqwal fi Ma‘rifah al-Rijal, tahqiq: Jawad al-Qayyumi (Qum: Nasyr al-Faqahah, 1388 HS), hal. 320.

(Tulisan dikirim oleh Muhammad Bhagas)

Mon, 18 Dec 2017 @05:58

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved