Rubrik
Terbaru
PENGUNJUNG

Flag Counter

RSS Feed
AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

FACEBOOK & WHATSAPP

Fanpage Komunitas Misykat

WhatsApp Group: Kajian Islam

BERBAGI BUKU

Silakan tulis nama, alamat, dan WhatsApp pada KONTAK

BAHAN BACAAN

Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah: Tahapan Pendidkan Dasar

image

Tanya: Sebuah hadis mengatakan: Biarkan anakmu bermain selama tujuh tahun, belajar selama tujuh tahun, dan kamu menyertainya selama tujuh tahun. Apabila dia berhasil, maka dia beruntung. Dan apabila dia gagal, maka tidak ada kebaikan dalam dirinya. Hadis ini menjelaskan kepada kita tentang tahap-tahap pendidikan secara mendasar. Apa nilai pentingnya? 

JAWAB: Hadis ini memberikan batasan bagi tahap pendidikan mendasar untuk setiap manusia, sejak masa kanak-kanak hingga masa dewasa. Tahapan pertama dibatasi selama tujuh atau enam tahun, yaitu tahap yang di dalamnya seorang anak dibebaskan untuk mengungkap apa yang ada di sekitarnya secara mandiri. Tujuannya agar si anak memperoleh pengalamannya sendiri, tanpa bantuan orang lain. Dengan demikian, fitrahnya akan semakin kuat sesuai dengan ciri khas yang Allah titipkan kepadanya. Kemudian mulailah pembinaan, pengarahan, dan pengajaran tentang kewajiban-kewajiban.   

Tahapan kedua, yaitu tahap mempersiapkan anak dengan tanggung jawab. Dalam hadis lain disebutkan: Seorang anak bermain selama tujuh tahun, belajar selama tujuh tahun, dan mempelajari yang halal dan yang haram selama tujuh tahun.

Ada pun pada tahapan ketiga, yaitu seorang anak mesti memperoleh pengetahuan dan wawasan agar berprilaku bijak, selaras dengan apa yang menjadi tujuan orang tuanya berdasarkan ajaran-ajaran Ilahi.

Ada pun ungkapan pada bagian akhir hadis, "Apabila dia berhasil, maka dia beruntung dan apabila dia gagal maka tidak ada kebaikan dalam dirinya," membutuhkan banyak perenungan. Barangkali maksud ungkapan ini adalah bahwa tahap-tahap tersebut merupakan tahap-tahap mendasar bagi pembentukan kepribadian manusia. Artinya, apabila selama masa 21 tahun seorang manusia tidak mendalami prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran yang disampaikan kepadanya dan faktor pendidikan gagal dalam mempersiapkannya untuk menghadapi kenyataan hidup tanpa adanya faktor luar yang menyebabkan kegagalan tersebut, maka sangat sulit bagi seseorang untuk menjadi manusia yang beruntung setelah itu.

Jelaslah, penyimpangan tersebut muncul lantaran terjadinya pengabaian atas tahap-tahap tersebut dan adanya faktor-faktor luar lain yang merusak unsur-unsur pendidikan. Hadis di atas hendak mengatakan bahwa memberikan perhatian pada tiga tahap mendasar tersebut telah cukup untuk menguatkan kepribadian manusia di atas garis pertumbuhan sehat yang membentuk fondasi keberuntungan bagi hidupnya. Apabila seseorang menyimpang setelah itu, lantaran faktor-faktor luar, maka ini bukan berarti faktor pendidikannya yang salah. [] 

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Dunia Anak: Memahami Perasaan dan Pikiran Anak Muda. Bogor: Penerbit Cahaya, 2004)


Mon, 18 Dec 2017 @06:11

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved