AUDIO MISYKAT

TATA CARA WUDHU

TATA CARA SHALAT

TATA CARA TAYAMUM

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK: Komunitas Misykat

BAHAN BACAAN

Alumni Gontor Mestinya Terbuka dan Toleran

image

Dua hari lalu saya sedih. Sebuah grup Whatsapp (WA) ustaz-ustaz terkenal yang semuanya alumni Gontor mengusir saya dari grup. Bukan karena tak lagi menjadi anggota grup itu yang membuat saya sedih, tapi bahwa alumni Gontor yang saya harapkan bersikap moderat, toleran, dan luas wawasan justru mengusir saya hanya gara-gara saya mengkritik seorang ustaz mengunggah video berisi dua lelaki berwajah Timur Tengah mengucapkan dua kalimat syahadat plus maki-makian kepada para sahabat dan istri-istri Nabi Muhammad SAW. 

Dalam kritik itu saya ungkapkan betapa mengunggah video itu sejatinya tak berguna sama sekali. Video itu hanya menambah kebencian, terutama kepada aliran Syiah. Mari bertanya, benarkah dua orang dalam video itu sungguh-sungguh berkebangsaan Iran dan beraliran Syiah? Sebelum saya benar-benar bertemu orang dalam video itu dan bertanya langsung kepada mereka, saya tak akan gegabah mengambil kesimpulan. Siapa tahu dua orang dalam video itu sama sekali tak beragama lalu membuat rekayasa syahadat sedemikian rupa agar sesama orang beragama saling bunuh. Who knows kecuali Allah?

Buat para alumni Gontor yang sudah dibekali ilmul-mantiq (logika), video picisan seperti itu mestinya tak membuat mereka marah. Dengan logika jernih yang dulu mereka pelajari seharusnya mereka berpikir, jangan-jangan video itu cuma rekayasa sekelompok orang tak bertuhan untuk mengadu-domba orang-orang bertuhan. Bukankah musuh orang bertuhan hanya orang tak bertuhan (atheis dan agnostic). Mengapa orang bertuhan memusuhi orang bertuhan juga?

Kalaupun benar video itu memuat dua orang Syiah Iran tengah mengucapkan dua kalimat syahadat plus maki-makian terhadap sahabat dan sebagian isteri Rasulullah SAW, bukankah mereka tetap tak bisa disebut sesat dan kafir? Konsekuensi menjadikan mereka kafir sungguh berat. Si kafir yang semula Muslim ini tak lagi boleh menerima warisan, tak boleh menikah dengan kaum Muslim, tak boleh menjadi saksi, dan banyak lagi. Ini baru konsekuensi dunia. Konsekuensi akhirat, mereka yang sudah dianggap sesat dan kafir ini sudah pasti masuk neraka. Neraka siapa? Ya neraka Allah.

Lhooo, kalau memang itu neraka Allah, mengapa orang-orang inilah yang menjatuhkan vonis kafir? Bukankah Allah satu-satunya pihak yang berhak menentukan kekufuran seseorang? Kalau vonis sudah kepalang dijatuhkan di dunia lalu setelah kiamat Allah memasukkan orang-orang yang dituding kafir itu masuk surga, mereka bisa apa? Mau apa?

Ini baru pakai ilmul-manthiq, baru pakai logika. Padahal Gontor sekolah yang hebat dan moderat. Di kelas setara kelas II SMP, mereka diajarkan fiqih Imam Syafii. Maklum mayoritas masyarakat Indonesia bermazhab Syafii. Tapi di kelas I SMU, mereka diajarkan Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd. Mereka diajarkan semua mazhab dan itu berarti mereka dibiasakan berpikir bebas dan berwawasan luas. Kepada mereka juga diajarkan ilmu agama-agama (al-adyaan). Malah di kelas III SMP mereka sudah diajarkan filsafat Sokrates, Plato dan Aristoteles, Dari sini saja mestinya semua alumni Gontor bersikap moderat dan toleran karena toh, sejak usia sangat remaja, mereka sudah dibiasakan berpikiran filosofis, bebas, dan tak terikat fanatisme buta golongan..

Haruskah dengan keluasan wawasan itu mereka jadii kerdil dengan menganggap semua orang Syiah kafir hanya gara-gara mereka mengucapkan dua kalimat syahadat plus memaki-maki sahabat dan istri Rasulullah SAW? Memaki-maki orang, apalagi memaki-maki sahabat Nabi SAW, adalah perbuatan buruk dan tak boleh ditiru. Tapi, benarkah memaki-maki orang harus dianggap kafir dan sesat? Waktu di Gontor saya diajarkan seseorang dianggap kafir kalau mereka tak lagi percaya pada Allah dan Muhammad utusan Allah, Itu saja. Cukup. Tak pernah kami diajarkan bahwa mencaci maki orang bisa dianggap kafir atau murtad. Hukum mencaci maki hanyalah berdosa, bukan kafir apalagi sesat, sama dengan hukum berzina, merampok, mencuri, bahkan membunuh.

Dengan menulis seperti ini tidak berarti saya adalah pengikut Syiah. Demi Allah saya bukan Syi'i, demi Allah saya bukan Sunni, dan demi Allah juga saya bukan Khawariji. Baik Syiah, Sunni maupun Khawarij tidak ada di zaman Rasulullah SAW. Ketiganya hanyalah organisasi buatan manusia sesudah zaman Nabi SAW. Saya hanya ingin beragama, bukan ingin berorganisasi. Agama selalu mengajak damai dan menebarkan perdamaian, organisasi selalu mengajak permusuhan dan persaingan.

Di hari yang sama saya memang diundang masuk lagi ke grup yang mengusir saya. Beberapa anggota tak setuju saya diusir hanya karena sebuah pikiran. Saya sudah berdiskusi dan berdebat banyak hal lagi di grup itu, Tapi saya jadi bertanya, jika orang-orang yang sudah diajarkan logika jernih dan terbiasa dengan perbedaan mazhab saja bisa gampang mengkafir-kafirkan orang lain hanya karena berbeda mazhab, bagaimana dengan kawan-kawan lain yang tak terbiasa dengan itu semua?

Jika kafir-mengkafirkan terus berlangsung di negeri ini, ancaman perang saudara tampaknya sudah di depan mata. Ya Allah, limpahkan kepada kami keluasan wawasan, keterbukaan pikiran, kelapangan dada, kehalusan budi, agar kami semakin arif dan dewasa menghadapi perbedaan yang sengaja Engkau ciptakan.

Facebook: Helmi Hidayat (5 Okt 2015)

 

Thu, 21 Dec 2017 @15:22

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved