AUDIO KAJIAN ISLAM

BERBAGI BUKU ISLAM

TULIS nama, alamat lengkap & nomor HP/WhatsApp pada KONTAK

TATA CARA SHALAT

MEDSOS ISLAM

FACEBOOK Komunitas Misykat

YouTube Channel MISYKAT TV 

YouTube Ngobrol Persatuan Islam 

BAHAN BACAAN
PENGUNJUNG

Flag Counter

Belajar Menikmati Hidup dari Diogenes

image

Diogenes berkata, "Bodoh sekali aku, selama ini selalu membawa barang yang berlebihan."  

Diogenes adalah filsuf dari Yunani yang memiliki lidah tajam dan kecerdasan yang masam. Di matanya, tidak ada yang berguna kecuali kejujuran dan gaya hidup yang alami. 

Menurut Diogenes bahwa ketika seseorang menginginkan kebijaksanaan, orang harus mengabaikan kekayaan, pangkat, hak istimewa dan konvensi masyarakat pada umumnya. Hal ini dibuktikan sendiri oleh Diogenes, sepanjang hidupnya ia melepaskan harta dunianya satu persatu hingga yang tersisa hanyalah sebuah mangkuk. Namun, mangkuk terakhirnya itu juga ia sumbangkan setelah melihat petani minum dengan kedua telapak tangannya. 

Ketika tinggal di Athena, Diogenes biasa berjalan-jalan dan membawa lentera pada siang hari. Saat ditanya mengapa, Diogenes berkata bahwa ia sedang mencari orang-orang jujur. Sebuah kritik seorang filsuf terhadap keadaan sosial yang ada. 

Pernah suatu ketika Iskandar Makhdumi terpilih sebagai pemimpin dalam penyerbuan ke Iran, orang-orang berdatangan mengucapkan selamat kecuali Diogenes. 

Hal tersebut mengundang penasaran Iskandar Makhdumi untuk bertemu Diogenes. Ketika Iskandar bertemu dengan Diogenes, saat itu Diogenes sedang berbaring berjemur di bawah sinar matahari dan menikmati kehangatannya. Diogenes tahu bahwa Iskandar sedang menuju ke arahnya, namun Diogenes tetap tidak peduli dan tetap berjemur menikmati matahari. Iskandar memberikan salam dan bertanya, "Apakah engkau mempunyai permintaan?" 

Diogenes menjawab, "Aku punya satu permintaan. Tidak banyak. Aku sedang menikmati sinar matahari, kini engkau menghalangi pancarannya. Bergeserlah sedikit." 

Para pengawal Iskandar merasa heran karena dengan tindakannya itu mereka beranggapan bahwa Diogenes terlalu bodoh dan telah menghilangkan suatu kesempatan yang sangat baik. Iskandar sendiri sebaliknya, justru merasa rendah diri melihat keengganan dan ketidakacuhan Diogenes terhadapnya. 

Ketika Iskandar kembali pulang, ia berkata kepada sahabat-sahabatnya, "Kalau saja aku bukan Iskandar sekarang ini, pasti aku akan menjadi seperti Diogenes." 

Sekarang kita lihat, bagaimana perasaan kita ketika kita dipuji, diakui, diterima dan disanjung. Atau ingatkah perasaan kita ketika kita sukses, berhasil meraih posisi puncak, menjadi juara, punya banyak uang, menang taruhan, atau unggul dalam perdebatan. Bandingkan perasaan tersebut dengan perasaan yang muncul ketika kita menyaksikan terbit atau terbenamnya matahari dan memandang indahnya alam raya, atau ketika kita membaca buku yang bagus, mengerjakan sesuatu yang kita senangi dan tenggelam pasrah di kedalaman ibadah. 

Perasaan pertama di atas adalah perasaan yang bersifat duniawi sementara perasaan kedua adalah perasaan jiwa. Orang-orang bijak, sepanjang hidupnya selalu terlena, haus dan mencari perasaan jiwa-perasaan jiwa itu. Begitu pula dengan Diogenes. 

Diogenes percaya bahwa keutamaan manusia dan kehidupan yang berperasaan jiwa itu bukanlah masalah teori atau konsep namun masalah penerapan langsung di kehidupan sehari-hari. Diogenes memang sudah lama tiada, tetapi kehidupannya yang nyentrik itu selalu membuatku menarik. 

(Facebook: Ardi Yazdy)

 

Tue, 16 Jan 2018 @20:42

Copyright © 2018 Misykat · All Rights Reserved